alexametrics

Renungan Idul Adha 1442 Hijriah: Hari Penyembelihan Ego Diri

Oleh SUPARTO WIJOYO *)
20 Juli 2021, 19:48:24 WIB

ADALAH Ibrahim Ibn Aazar (dilahirkan di Kota Ur, Iraq, 2166 SM) dan Ismail (lahir di Kota Hebron, Palestina, 2080 SM) sebagai aktor utama peradaban penanda Idul Adha. Dwifigur yang sangat fenomenal dalam mengonstruksi perilaku publik.

Gerakan perlawanan kepada rezim sosial yang tidak mengenal tauhid dilancarkan sejak usia Ibrahim AS 14 tahun. Pada jejak waktu umur 16 tahun mengalami proses peradilan dengan vonis yang gamblang dalam sejarahnya. Beliau dibakar pada 2150 dengan selamat karena ”api itu diperintahkan oleh-Nya untuk menjaganya”. Spektakuler dan ini sangat mukjizati.

Ibrahim membawa misi monoteisme Islam dengan ritual haji dan berkurban dalam suasana Idul Adha yang didemonstrasikan secara terang di risalah kenabian Rasulullah Muhammad SAW. Praksis ”berlari kecil” seorang ibu yang bernama Siti Hajar dari Shafa ke Marwah berkelindan dengan hadirnya mukjizat sumur zamzam.

Ibadah haji –yang untuk Indonesia sedang ”dispiritualisasi” oleh pandemi Covid-19– adalah realitas keagamaan yang menakjubkan. Prosesinya sangat tertata dan ini hanya dapat dirasakan secara total oleh mereka yang ”memenuhi panggilan-Nya”. Dalam rumpun akhlak kemanusiaan dan jenjang peribadatan, apa yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS amat menggetarkan. Demikianlah beribu-ribu lembar kitab dapat dirujuk mengenai referensi ajaran Ilahiah yang sangat Islami, pembawa keselamatan dengan pengorbanan yang tertundukkan atas nama ketaatan.

Hal ini berarti ketaatan kepada-Nya merupakan fondasi utama pembangunan manusia agar mencapai derajat tertinggi. Taat itulah yang direfleksikan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam prosesi ”penyembelihan diri”. Ini sejatinya adalah sesi ”penyembelihan ego, penyembelihan keakuan, penyembelihan sopo siro sopo ingsun”. Pada puncaknya adalah ”peleburan eksistensi egoistis” melalui ketaatan paling suprematif kepada-Nya”. Itulah arti pengorbanan terhebat yang pernah terjadi yang hanya sanggup dipikul oleh dua sosok agung (Ibrahim-Ismail AS).

Pengorbanan yang tidak berbatas itulah yang kemudian memendarkan karakter empati, peduli, sanggup merasakan derita siapa pun sebagai sesama manusia, sesama hamba, sesama makhluk Tuhan. Pada titik inilah kekuasaan negara harus bertanggung jawab atas derita rakyatnya (apalagi yang terkena Covid-19). Beban bencana akibat pandemi sungguh sudah sangat mengguncang esensi keberadaan negara.

Otoritas negara dengan segala perangkat kenegaraannya sedang dipertanyakan kegunaannya. Institusi negara sedang dipotret untuk menjadi ”kitab babon” esok hari bahwa kita pernah gagal atau berhasil melalui pandemi ini. Sekarang inilah saatnya negara berkurban total untuk menyelamatkan rakyat. Intervensi kebijakan dan anggaran dapat diambil untuk menjaga imunitas rakyat.

PPKM darurat yang tengah diterapkan ini sedang memekikkan pelajaran agar bulan depan (Agustus) kita benar-benar memiliki kekuasaan yang memerdekakan rakyat dari penderitaan pandemi. Pandemi yang terjadi janganlah dianggap sebagai ritual kosmologis yang konspiratif. Ini pasti ada yang salah dalam desain relasi bisnis sehingga ada ”dugaan kapitalisasi Covid-19”.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads