alexametrics

Membangun Narasi Konstruktif

Oleh SUKO WIDODO*
20 Mei 2019, 16:03:36 WIB

JawaPos.com – Proses panjang Pemilu 2019 akan mencapai kulminasinya. Setelah dalam waktu berbulan-bulan kita dilelahkan dan diseret oleh luberan informasi kontestasi perebutan kuasa. Setiap hari, dalam kurun waktu setahun, kita juga diterpai klaim-klaim subjektif yang tak pernah reda.

Bahkan, menjelang titik penghentian pun tak juga memperlihatkan ada titik kebersamaan (common) yang membuat kita menjadi utuh dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ruang publik kemudian menjadi pertarungan narasi. Dengan akselerasi dan percepatan teknologi informasi saat ini, utamanya dengan internet dan media sosial, pola komunikasi dan interaksi juga mengalami disrupsi. Selain dari sisi melesat dan meledaknya jumlah informasi yang diproduksi, revolusi teknologi informasi memungkinkan kecepatan produksi dan persebaran informasi yang mencengangkan.

Akibatnya, terjadi ekspansi narasi yang berkembang. Sebuah narasi sangat bisa berkembang menjadi narasi lain yang berbeda sifatnya dengan awal narasi tersebut dibangun. Setiap narasi juga saling dan langsung berhadapan di ruang publik.

Sayang, narasi yang tumbuh menjamur adalah narasi yang dikhawatirkan meruntuhkan bangunan kebangsaan yang telah diperjuangkan bersama.

Narasi Perpecahan di Ruang Publik

Dari pantauan narasi yang mengemuka selama pesta demokrasi ini terbangun narasi separasi. Yaitu, narasi yang bersifat memisahkan diri dari keutuhan. Jamak diketahui bahwa narasi yang memenuhi ruang publik dalam iklim dan tahun politik ini adalah narasi penuh klaim dan simplifikasi.

Dengan kuantitas yang masif dan dipertontonkan secara vulgar, secara perlahan akan menginfeksi perilaku yang “memisahkan diri” dari sebuah keutuhan hanya karena dianggap berbeda. Viralitas sebuah peristiwa pada beberapa kasus juga menjadi justifikasi. Dengan ilusi “merasa paling benar” membuat narasi yang bersifat separatif semacam ini makin umum ditemukan.

Narasi-narasi itu sejatinya adalah wujud konflik yang terekspresikan. Lewat gambar, tulisan dan visual, narasi-narasi konflik tersebut sesungguhnya berpotensi menjadi ekstrak perpecahan hubungan sosial. Tudingan dan tuduhan, dalam pola komunikasi online saat ini, sangat mudah dilemparkan. Kemudian, makin besar hanya dengan share, retweet, atau repost.

Dibumbui lagi dengan mantra ajaib semacam “viralkan”, “sebarkan”, dan lain-lain. Narasi yang bersifat perlawanan itu bisa saja tampil eksplisit dengan menuduh atau menuding. Namun, narasi tersebut bisa juga berbaju kebijaksanaan. Narasi semacam “selamatkan akal sehat” atau “orang ganteng bersama orang ganteng” sepintas lalu tampak biasa. Namun, ekses psikologisnya adalah “mengusir” mereka yang berbeda kubu atau pilihan politik.

Maka, tidak heran ditemukan jargon yang bersifat stigma atau stereotype di mana-mana dalam ruang publik. Kata-kata toleran-intoleran, nasionalis-agamis, merakyat-elite, menjadi sangat mudah diumbar untuk membangun dinding-dinding pemisah.

Dari narasi separasi yang muncul selama ini akan menjadikan polarisasi semakin kuat.

Perlunya Narasi Sehat

Ruang publik yang dipenuhi narasi yang mencerai-beraikan sebagaimana di atas sangat rentan dan rawan untuk saling “menyerang”, mencari kesalahan dan kelemahan yang dianggap lawan politiknya, kemudian membesar-besarkannya sedemikian rupa. Pada kasus semacam itu, tidak jarang pihak yang diserang meresponsnya dengan narasi baru yang bersifat distraktif untuk mengalihkan opini publik dari serangan yang ditujukan kepada pihaknya.

Jika pertempuran narasi tersebut tak berhenti, eksistensi bangsa Indonesia bisa runtuh. Karena itu, kita saat ini tengah membutuhkan hadirnya narasi-narasi baru yang meneduhkan. Narasi-narasi yang mengembalikan kita pada cita-cita bangsa.

Belajar dari makna Hari Kebangkitan Nasional, sesungguhnya Indonesia itu adalah karya dari adanya sikap kesediaan untuk menerima kehadiran pihak lain. Adanya sikap menerima keberagaman, keberbedaan. Karena inti dari sebuah bangunan bangsa adalah keberagaman. Maka, itulah yang menjadi penting saat ini adalah membangun kembali semangat kebinekaan di antara warga bangsa.

Sudah saatnya kita membasuh “kotoran” pertikaian, menyucikan dari pertentangan narasi separasi, dengan belajar saling memahami. Serta mau menempatkan tatanan sosial di atas egoisme diri dan kelompok. Pilihannya: akankah kita masih memenuhi ruang publik dengan narasi yang destruktif, ataukah kita mulai membiasakan membuka diri dan berlatih membangun narasi yang konstruktif. (*)

*) Dosen ilmu komunikasi FISIP Universitas Airlangga

Editor : Ilham Safutra