alexametrics
Lingua

Hati Bahasa Milenial

Oleh Edi AH Iyubenu, Penulis Esai dan Sastra
20 Januari 2019, 16:03:56 WIB

JawaPos.com – Saya terkekeh membaca komentar seorang netizen terhadap unggahan foto artis yang tempo hari terlibat kasus prostitusi online itu. “Mau jadi apa negara ini jika link tidak dibagikan?”

Apakah Anda turut terkekeh?

Jika iya, itu pertanda bahwa Anda berhasil menangkap “hati bahasa milenial” (bukan bahasa hati) netizen tersebut, yang jelas saja tipikal berbahasa sejenis itu adalah domain utama kebahasaan kita hari ini.

Apa yang saya maksud hati bahasa ialah di satu sisi menampik klaim yang menyatakan bahwa bahasa adalah alat komunikasi belaka -lalu apa bedanya dengan kokok ayam yang tak pernah berubah?- dan di sisi lain menyegarkan ingatan kita bahwa kegiatan berbahasa adalah sebenar-benarnya kegiatan kehidupan dan mengada -suatu dasein.

Media sosial, mari cermati, membuat kita semua mengalami keterlemparan ke sebuah dunia yang tak lagi relevan diistilahkan dengan “hiperrealitas”. Sebab, ia bukan lagi suatu konstruksi hiperbolis yang melampaui realitasnya. Dunia tersebut adalah dunia mengada kita yang sungguh-sungguh nyata, terasa, dan dengannya kita menarik napas sehari-hari.

“Netizen journalism.” Kita telah begitu karib dengan istilah itu, bukan? Bahwa kerja pemberitaan, apalagi opini dan komentar, telah mencair ruah bagai bah, melampaui otoritas awak-awak media apa pun. Akun-akun media sosial telah menjelma sebagai media itu sendiri bahkan. Bagaimana Anda menghindarkannya sehari-hari kini?

Karena pengguna terbesar media sosial adalah generasi milenial, lazim belaka lalu terbentuklah gaya-gaya berbahasa yang sedemikian pula encernya. Bahasa tak lagi si kukuh setia pada patron gempalnya. Sebutlah teknis kaidah berbahasa dan tentu pola rohani berbahasanya atau “hati bahasa” tadi. Semua bergerak amat progresif dinamis, tanpa satu institusi pun yang kuasa lagi mengatur-aturnya sebagai poros tunggal.

Apa yang dulu kita tabalkan sepenuh kultus sebagai “etika bahasa” jelas seturut cair di dalamnya. Pun makna-makna kata yang tercakup di dalamnya selama ini.

Seorang kawan di Jogja, namanya Gus Rio Tedjo, di Twitter dikenal luas dengan ungkapan “mdrcct”. Mohon maaf, kepanjangannya adalah “modar cocote”. Apakah itu bahasa yang kasar? Kini tidak lagi. Buktinya, saya tak pernah menemukan ada orang yang marah-marah di akunnya. Makna mapan kata tersebut telah mencair, menjelma gurauan belaka.

Jika Anda masih membawa amarah kepada ungkapan “mdrcct” tersebut, dapat dipastikan Anda bukanlah bagian dari kebudayaan milenial sehingga gagap dengan pergeseran dan perubahan “hati bahasa”. Anda di hadapan tamsil realitas bahasa milenial itu bagaikan sosok alien yang datang dari masa silam dan hendak menegakkan benang basah, lalu memanjatinya ke langit sana.

Begitulah kiranya para awak media formal, tentu beserta institusi-instusi medianya, seyogianya melaju di masa kini dan ke masa depan. Tatkala para netizen makin deras menjurnalisasikan segala apa pun ke gawai semua orang, berita atau opini, posisi media massa harus berdenyar di dalamnya. Bukan menjauhi atau merendahkannya, entah karena gagap budaya ataupun semata mati-matian membela idealisme alien itu.

Sudah pasti, bagian inheren yang mesti seturut diserap dengan cepat dan dinamis dalam mekanisme pergeseran dan perubahan tersebut oleh para awak media ialah perkara “hati bahasa milenial” tersebut.

Jika dulu media massa bertarung dalam aktualitas, kini PR-nya bertambah dalam aspek mengemasnya. Artinya, selibat pula ihwal berbahasa beserta hatinya. Soal media massa merasa muskil melepaskan patronnya untuk selalu tertib dalam berbahasa, itu sungguh bukan soal. Bukankah kalimat contoh netizen yang saya nukil di awal telah memenuhi kaidah ketertiban teknis berbahasa?

Hati bahasa adalah ihwal cita rasa bahasa. Cita rasa, kita semua paham, bukan bergantung artifisialitasnya, melainkan alam batinnya. Bagaimana bisa Anda bertahan hidup dengan memaksakan anak-anak milenial doyan bakmi Jawa seperti Anda di saat lidah mereka lebih intim dengan spageti, sekalipun keduanya sama-sama berbahan dasar mi?

Memang tak salah bila Anda bersikukuh memandang bahasa adalah perkara verstehen. Understanding. Cuma, Anda kini perlu betul untuk menambahkan unsur “hati bahasa milenial” sebagai dasein “cita rasa milenial” dan itulah dunia mereka, dunia kita sekarang.

Anda tidak mungkin bisa berjualan barang seharga Rp 80 juta di sebuah alun-alun, bukan? 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads
Hati Bahasa Milenial