alexametrics

Merah Putih dan Komitmen Antidoping

Oleh ARI BASKORO *)
19 Oktober 2021, 19:48:22 WIB

PRESTASI gemilang telah diraih tim Piala Thomas Indonesia. Ceres Arena, Aarhus, Denmark, menjadi saksi kedigdayaan putra-putra terbaik bangsa merengkuh kembali lambang supremasi bulu tangkis pria. Melibas Tiongkok 3-0 tanpa balas bukan hanya prestasi. Tapi juga prestise luar biasa bisa menekuk lawan paling gigih. Rakyat Indonesia sangat berbangga menyaksikan para pahlawan olahraga mengangkat piala yang sudah dinantikan selama 19 tahun. Namun, sayang sekali, raihan prestasi itu terasa tidak lengkap. Kumandang Indonesia Raya terasa ”hambar” tanpa disertai bendera Merah Putih yang berkibar.

Badan Antidoping Dunia (WADA) yang dibentuk atas prakarsa Komite Olimpiade Internasional (IOC) benar-benar merealisasikan ancamannya. Indonesia dinilai tidak patuh terhadap regulasi program uji tes doping. Salah satu konsekuensi dari sanksi WADA adalah hak Indonesia untuk menempatkan wakilnya di IOC dicabut.

Lembaga Antidoping Indonesia (LADI), sebagai pihak terkait, harus segera mampu memenuhi standar tertentu yang telah diterapkan WADA. Bila tidak, banyak event olahraga di tanah air yang akan terkena dampak oleh keputusan WADA. Poin penting yang menjadi peringatan WADA adalah ”keterlambatan” pengiriman sampel tes doping sekitar 700 atlet yang berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua. Masih ada beberapa poin terkait program tes antidoping lainnya yang belum bisa dipenuhi LADI.

Doping merupakan suatu formula yang sering ”disalahgunakan” para atlet untuk meningkatkan performa mereka. Zat itu dilarang penggunaannya dalam olahraga. Secara medis juga tidak terkait dengan indikasinya untuk penyakit tertentu. Menurut IOC, penggunaan zat tersebut dapat mengancam kesehatan. Ada hal yang lebih penting lagi, prestasi atlet harus dicapai dengan cara yang ”bersih” (bebas doping!). Dengan konsep kesamaan kesempatan bagi semua atlet, raihan prestasi dengan cara yang ”curang” harus dihindari.

Cerita panjang tentang ”keakraban” seorang atlet dengan doping relatif sering menghiasi berita. Masih ingatkah Anda pada Ben Johnson? Sprinter Kanada tersebut dijuluki sebagai manusia tercepat di dunia. Catatan waktunya hanya 9,79 detik untuk 100 meter putra pada Olimpiade musim panas tahun 1987 di Seoul, Korea Selatan. Olympic Doping Control Center menemukan kandungan stanozolol dalam tes doping pada urinenya. Tak ayal, medali emas yang dia dapatkan harus dikembalikan. Dia didiskualifikasi beberapa waktu kemudian. Stanozolol merupakan hormon golongan steroid yang tidak asing lagi penggunaannya di kalangan atlet.

Ada juga kasus skandal doping Lance Armstrong. Cyclist berkebangsaan Amerika Serikat tersebut memenangi tujuh kali berturut-turut Tour de France pada 1999 hingga 2005. Badan Antidoping Amerika Serikat (USADA) mengumumkan keputusan mencabut semua gelar itu. Union Cycliste Internationale (UCI) memperkuat putusan USADA tersebut. Armstrong akhirnya mengakui bahwa dirinya menggunakan erythropoietin (EPO), transfusi darah, testosteron, dan hormon pertumbuhan.

Di dunia tenis ada nama Maria Sharapova yang sempat lima kali memenangi grand slam. Sayang sekali, prestasinya yang moncer luntur begitu saja. Pada Australia Open 2016 atlet putri terkaya nomor tujuh di dunia pada 2019 tersebut positif menggunakan meldonium. Akibatnya, Federasi Tenis Internasional (ITF) menjatuhkan sanksi larangan bermain selama dua tahun.

Zat-Zat Berkategori Doping

Pengambilan sampel urine sebagai sarana tes doping tidak dilakukan pada semua atlet. Pada umumnya hanya dilakukan pada atlet perorangan yang meraih medali emas. Untuk olahraga beregu, pemeriksaan doping dilakukan secara acak. Itu dilakukan pada setiap nomor dan cabang olahraga yang dipertandingkan.

Pengetahuan tentang zat-zat tertentu yang bisa dikategorikan sebagai doping seharusnya dipahami para atlet. Bisa jadi dalam makanan atau minuman yang mereka konsumsi terkandung zat-zat terlarang. Suplemen dan obat-obatan yang sering digunakan atlet juga perlu diwaspadai.

Pertama, hormon steroid. Salah satu cabang olahraga yang diduga paling sering menggunakan doping jenis ini adalah binaraga. Badan kekar berotot bisa didapatkan secara instan dengan bantuan zat anabolik. Obat yang termasuk dalam golongan hormon steroid tersebut saat ini mudah diperoleh melalui media sosial. Senyawa itu sebenarnya secara alami diproduksi dalam tubuh. Misalnya hormon testosteron pada pria (steroid androgen). Dalam bentuk sintetis, digunakan sebagai obat antiradang. Oleh karena itu, penggunaannya sangat luas untuk berbagai keperluan medis. Steroid anabolik mempunyai efek yang mirip dengan testosteron. Dalam dosis tinggi, beberapa kali lipat yang digunakan untuk indikasi medis, dapat meningkatkan pembentukan otot. Namun sebaliknya, bisa menimbulkan berbagai efek samping yang dapat membahayakan kesehatan. Stanozolol yang digunakan Ben Johnson adalah salah satu contoh steroid anabolik-androgenik ini.

Kedua, meldonium. Obat ini diindikasikan sebagai obat antiiskemik yang dapat membantu meningkatkan sirkulasi darah. Otak dan jantung merupakan dua organ sasaran utama yang terpengaruh. Kemampuan kerja jantung dapat meningkat. Menurut hasil riset, senyawa ini dapat meningkatkan performa ketahanan atlet, antistres, dan memicu aktivitas sistem saraf pusat. Sejak awal Januari 2016 WADA melarang penggunaan obat itu pada atlet dan dikategorikan sebagai doping.

Ketiga, erythropoietin. Senyawa ini merupakan hormon yang lazim digunakan untuk meningkatkan kadar hemoglobin. Hemoglobin, secara faali, bertugas membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Dengan meningkatnya ketersediaan oksigen pada jaringan otot, performa dan stamina atlet dapat meningkat pula. Cara ”doping darah” seperti ini dilarang oleh IOC dan organisasi olahraga lainnya.

Masih ada beberapa senyawa lainnya yang digunakan untuk meningkatkan performa atlet. Human growth hormon (somatotropin) juga dapat merangsang produksi sel-sel tulang rawan dan pertumbuhan otot. Diuretik biasanya digunakan untuk menurunkan berat badan agar syarat timbangan dapat terpenuhi, misalnya pada atlet tinju. Obat itu juga dapat menutupi keberadaan zat terlarang lain dalam tubuh atlet. Obat yang termasuk golongan ”penyekat beta” biasanya digunakan atlet panahan atau menembak karena dapat mengurangi tremor.

Seorang juara tak pernah berhenti berusaha. Dan orang yang berhenti berusaha tak akan pernah menjadi pemenang. Namun, menggunakan doping untuk menjadi pemenang bukanlah jalan yang sportif. (*)


*) ARI BASKORO, Staf pengajar padaProgram Studi Magister Ilmu Kesehatan Olahraga Unair

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads