alexametrics

Pagar Ayu RSUD dr M. Soewandhie

CATATAN FUAD ARIYANTO*
19 Juni 2022, 14:03:53 WIB

LEBARAN sudah berlalu. Liburan panjang sudah berakhir. Aktivitas sebagian warga masyarakat mulai berjalan normal. Rutin. Saya pribadi juga menjalani rutinitas sehari-hari. Antara lain, kontrol kesehatan ke RSUD dr M. Soewandhie dua kali seminggu.

Aktivitas itu saya jalani pasca serangan stroke pada 4 Agustus 2021. Setelah menjalani rawat inap di ICU selama sekitar 28 hari, dilanjutkan rawat jalan sampai sekarang –ketika tulisan ini saya bikin.

Hari itu, Senin 23 Mei lalu, saya datang pagi-pagi ke RS. Ada yang sedikit beda di sana. Di pintu masuk pasien dan pengunjung, berbaris sekitar 20 pegawai RS. Mereka terbagi dua barisan berhadapan membentuk pagar ayu, menyambut semua pengunjung yang datang. Tersenyum, mengucap selamat datang, bahkan ada yang mengucap Selamat Idul Fitri. Mendapat sambutan seperti itu, pengunjung pun balas tersenyum, memberi hormat, juga ada yang mengajak bersalaman. Langkah kecil yang simpatik.

Sebagian warga Surabaya memang memandang sebelah mata RSUD dr Soewandhie. Dalam pandangan mereka, RS milik Pemkot Surabaya itu kumuh, pelayanan jelek, dan susternya galak-galak. Pandangan seperti itu mungkin hanya karena mereka tidak melihat perkembangan. Jujur, ketika keluarga memindahkan saya dari RS Premiere Surabaya ke RS Soewandhie, saya merasa galau. Di benak saya terbayang bakal dirawat di RS bangunan kuno yang kusam dan kamar bau karbol. Selain itu, harus siap-siap menghadapi perawat berwajah cemberut yang bisa membentak sewaktu-waktu.

Saya juga siap mental menghadapi lingkungan yang bising seperti era 1970-an waktu rumah sakit itu masih berstatus Puskesmas Tambakrejo ketika saya sering main ke sana. Saya punya banyak sahabat yang tinggal di kawasan tersebut. Tambak Segaran, Tambak Rejo, Tambak Windu, Kapas Krampung, Rangkah, sampai Kenjeran Pantai.

RS Soewandhie dulu berhadapan langsung dengan Pasar Tambak Rejo yang riuh siang-malam. Pedagang kaki lima, becak, dan gerobak jualan berjubel di depan pasar dan RS.

Suasana makin hiruk pikuk jika kebetulan ada pedagang pasar yang punya hajat, semisal mengkhitankan anak atau arisan. Tak jarang, mereka menggelar acara di dekat lapaknya. Biasanya diramaikan dengan tandakan dengan musik sandur plus sinden bersuara melengking tinggi.

Kadang terjadi duel terbuka di jalanan itu gara-gara mabuk. Maklum, di situ juga bertebaran penjual tuak dan judi kecil-kecilan.

Bayangan masa lalu itu seolah berubah 180 derajat. Ketika ambulans RS Premiere memasuki RSUD Soewandhie, saya tidak menemukan bangunan lawas kusam seperti tahun ’70-an. Bangunan tersebut ternyata sudah berganti bangunan megah berlantai delapan plus semibasemen. Seiring perubahan kondisi fisik itu, manajemen juga terpacu untuk meningkatkan mutu layanan. Termasuk membangun komunikasi yang santun dari seluruh crew (kru) rumah sakit kepada pasien/pengunjung.

Pagar ayu itu, misalnya, ternyata sudah ada sejak akhir tahun lalu. Saya baru tahu karena selama ini tidak pernah masuk lewat pintu depan.

Beberapa waktu lalu RS milik Pemkot Surabaya itu juga mengundang pakar komunikasi dan motivator nasional, Dr Aqua Dwipayana, untuk sharing komunikasi sebanyak 20 sesi. Berkat hubungan baik manajemen RS dengan Dr Aqua, motivator itu membebaskan biaya sharing bernilai Rp 1,2 miliar tersebut.

Dalam pandangan subjektif saya, pelayanan di RS Soewandhie amat bagus. Selama rawat inap di ICU hampir sebulan, saya ditangani dokter dan perawat yang sabar, ramah, dan penuh perhatian. Demikian juga ketika rawat jalan. Tak pernah sekali pun menjumpai dokter berwajah muram dengan pandangan sinis. Semuanya ramah, sabar, dan telaten. Di klinik saraf, dr Kanti Ismayani SpS bahkan sejak awal menyemangati saya untuk tetap menulis. Demikian juga dr Yuditiarini Priyanto SpS. Mereka berdua memberikan kelonggaran kepada saya untuk tidak selalu hadir ke RS, bisa diwakilkan. Kecuali jika ada keluhan. Hal serupa juga dilakukan dr Isnaeni SpJP (K) dan dr Andrianus Oktavianto SpJP di klinik jantung.

Makanan di ICU juga cukup lezat dengan menu bervariasi. Kadang soto, rawon, sup sayur, atau keringan dengan tumis kacang panjang dan empal daging. Soto dan rawon tak pernah dilengkapi kerupuk. Meski sekadar kerupuk upil atau kerupuk tayamum yang digoreng dengan pasir.

Selama saya dirawat inap tidak pernah disajikan nasi padang, nasi bebek, ayam geprek, gulai kambing, nasi Madura, atau sego sambel. Makanan yang disajikan kotakan itu juga dilengkapi buah. Paling sering semangka, pepaya setengah matang, buah naga, atau pisang. Tak pernah ada buah durian, salak, duku, mangga, manggis, atau rambutan.

Pengalaman-pengalaman itu menghapus kesan negatif saya pada RSUD dr M. Soewandhie. Tidak ada dokter bertampang sinis. Tidak ada suster galak. Tidak ada gedung kusam. Suasananya enak dan menyenangkan. Seperti senyuman pagar ayu itu.

Meski begitu, manajemen masih bertekad untuk terus berbenah meningkatkan layanan dengan berbagai inovasi. Antara lain, dalam sistem antrean online. ’’Nanti pasien bisa memilih waktu kunjungan sesuai waktu luangnya,’’ kata dr Arif Setiawan.

Yang sampai saat ini banyak dikeluhkan adalah tidak adanya lahan parkir khusus RS sehingga pengunjung terpaksa parkir di jalanan perumahan sekitar.

Menurut dr Arif, lahan parkir di belakang (gedung baru) sedang dalam proses. ’’Kami menunggu kesiapan dinas perhubungan (dishub) atau pihak ketiga (kontraktor) nanti,’’ katanya. (*)

*) Wakil pemimpin redaksi Jawa Pos 2007–2008

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads