alexametrics

Banjir Informasi Covid-19

OLEH SUGENG WINARNO *)
19 Maret 2020, 19:48:16 WIB

INFORMASI seputar virus Covid-19 membanjiri beragam laman media sosial (medsos). Di media pertemanan seperti WhatsApp (WA), narasi terkait virus berbahaya ini juga bermunculan tak terhitung jumlahnya. Beragam informasi dan berita Covid-19 membombardir masyarakat dengan cepat dan dalam jumlah yang masif. Tak semua banjir informasi Covid-19 ini berdampak positif. Justru banyak informasi menyesatkan yang semakin memicu kepanikan.

Marshall Mc Luhan, seorang pakar komunikasi, pernah mengatakan bahwa ditemukannya media baru (new media) berwujud internet akan mengubah cara orang berkomunikasi. Kelahiran internet juga telah memicu munculnya beragam platform medsos dan sarana pertemanan daring seperti Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, WA, dan beberapa bentuk media lain. Sejak munculnya internet dan medsos, lalu lintas informasi menjadi supergaduh.

Kegaduhan yang diciptakan oleh beragam bentuk media baru ini tak terlepas dari banyaknya masyarakat yang mengakses internet dan medsos. Melalui internet dan medsos, tak sedikit orang yang telah menjadikannya sebagai sumber informasi utama. Penetrasi internet dan medsos sangat tinggi, bahkan telah memalingkan banyak orang bermigrasi dari media konvensional seperti surat kabar cetak, radio, dan televisi ke bentuk media daring.

Tak semua informasi dan berita terkait virus Covid-19 benar. Tak sedikit yang palsu dan abal-abal. Antara informasi yang benar dan terkonfirmasi bercampur dengan informasi hoax. Informasi yang benar justru terdistorsi oleh beragam informasi keliru. Kondisi ini dapat menimbulkan kebingungan masyarakat dalam memilih dan memilah informasi guna menemukan informasi yang layak dipercaya.

Berita dan informasi salah tak ubahnya seperti sampah. Sampah informasi terkait Covid-19 bisa menjadi racun. Informasi keliru tak jarang justru yang digugu dan ditiru. Beragam narasi menyesatkan sangat mirip dengan yang asli. Tak banyak orang yang punya kemampuan membedakan yang asli dan yang sampah. Situasi inilah yang dapat memicu kepanikan. Informasi simpang siur tak keruan menyerbu masyarakat.

Keadaan banjir informasi ini menuntut setiap konsumen informasi punya keberdayaan. Masyarakat yang berdaya ketika menggunakan media akan mampu menganalisis pesan yang diterima. Orang jadi tak gampang menerima informasi secara mentah-mentah. Kemampuan kritis bermedia akan menghindarkan diri dari serangan para kreator informasi bohong. Situasinya menjadi sangat sulit karena derasnya arus informasi tak sebanding dengan kemampuan masyarakat dalam membendungnya.

Keberlimpahan informasi virus Covid-19 terjadi juga didukung oleh banyaknya orang yang membuat narasi terkait hal ini. Tak semua komunikator pesan kesehatan ini kredibel. Pejabat atau siapa saja yang tak punya kapasitas dan kemampuan di bidang kesehatan ikut membuat beragam pernyataan. Setelah beredar viral, statemen sejumlah pejabat tersebut justru menciptakan kebingungan. Belum lagi ada pernyataan yang dikeluarkan oleh sejumlah pejabat di daerah yang berseberangan dengan penyataan pejabat di tingkat yang lebih tinggi.

Saat informasi beredar dan berkembang liar seperti saat ini, masyarakat dituntut untuk cerdas dan bijak bermedia. Pemerintah dan pihak terkait juga dituntut mampu menjalankan komunikasi krisis kesehatan yang tepat. Komunikasi yang keliru dan tak direncanakan dengan baik justru akan menciptakan kepanikan dan menjadikan wabah Covid-19 ini semakin sulit ditangani.

Dalam penanganan Covid-19 ini, pemerintah telah mengeluarkan pedoman atau protokol penanganan kesehatan. Protokol ini merujuk pada pedoman yang dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO). Namun, pada pelaksanaannya, masih terjadi kesimpangsiuran informasi dan penerapan protokol tersebut. Informasi tak seragam dan tak satu suara. Masing-masing pihak menerjemahkan sendiri-sendiri.

Keputusan untuk kondisi kuncian (lockdown), misalnya. Ada daerah tingkat kota yang menyatakan bahwa kotanya lockdown. Namun, keputusan tersebut dibatalkan oleh gubernur dan presiden karena keputusan lockdown tak boleh diambil oleh kepala daerah tanpa berkoordinasi dengan pimpinan yang lebih tinggi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa protokol penanganan yang sudah ditetapkan tak dipatuhi.

Ada juga prosedur penanganan kesehatan yang tak standar. Ada sejumlah penanganan kesehatan yang informasi dan prosedurnya tak disampaikan dengan transparan kepada masyarakat. Ada pasien yang meninggal di rumah sakit, namun tak terjelaskan meninggalnya disebabkan apa. Akhirnya berkembang informasi liar bahwa pasien yang meninggal tersebut terkena Covid-19.

Tak semua masyarakat juga punya pendidikan yang baik (well educated) terkait virus Covid-19 ini. Beragam informasi tentang virus yang mematikan ini justru didapat masyarakat dari medsos dan saluran-saluran informasi yang kredibilitasnya rendah. Akhirnya banyak pemahaman masyarakat yang keliru tentang virus ini. Misalnya, virus ini tak mungkin menyerang daerah tropis seperti Indonesia, secara genetik orang Indonesia tak mungkin terjangkiti virus jenis ini, dan sejumlah pemahaman keliru lainnya.

Mengedukasi masyarakat menjadi sesuatu yang sangat perlu selain tetap melakukan penanganan medis. Kampanye untuk hidup sehat, rajin berolahraga, dan sering mencuci tangan cukup berhasil sebagai benteng pertahanan secara personal. Model kampanye pendidikan seperti ini harus terus ditingkatkan agar pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan meningkat.

Selain itu, masyarakat perlu diedukasi terkait dengan bagaimana mereka menggunakan medsos yang bijak dan sehat. Tak jarang perilaku bermedsos salah dan menjadi persoalan di masyarakat. Virus Covid-19 memang sangat mematikan, namun virus kebohongan dan penyebaran informasi yang menyesatkan sesungguhnya juga tak kalah berbahaya.

Coronavirus disease 2019 (Covid-19) oleh WHO sudah dinyatakan sebagai pandemi. Artinya, virus ini sudah menjadi wabah dunia. Untuk itu, upaya perang melawan keganasan virus ini tak hanya menjadi tugas pemerintah, namun juga tanggung jawab kolektif semua warga Indonesia dan warga dunia. Masyarakat pengguna medsos harus mampu bijak dan sehat bermedia agar tak mudah termakan provokasi jahat yang sengaja ingin menciptakan kepanikan. Mari bijak bermedia, jaga kesehatan, rajin olahraga, cuci tangan, dan mematuhi beragam protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Semoga pagebluk Covid-19 ini segera sirna. (*)


*) Sugeng Winarno, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads