Memajukan Indonesia

Oleh ABDUL MU’TI*
18 November 2022, 10:46:57 WIB

MUKTAMAR Ke-48 Muhammadiyah di Surakarta pada 19-20 November 2022 mengambil tema Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta. Ada dua frasa dalam tema tersebut: ”memajukan Indonesia” dan ”mencerahkan semesta”. Walaupun merupakan satu kesatuan, titik tekan keduanya sedikit berbeda.

Frasa pertama menegaskan peran dan komitmen Muhammadiyah dalam negeri. Frasa kedua menekankan peran internasional atau internasionalisasi Muhammadiyah.

Artikel ini akan membahas sekilas tentang ”memajukan Indonesia”. Mengapa dan bagaimana Muhammadiyah berperan dalam memajukan Indonesia.

Tanggung Jawab Sejarah

Salah satu alasan mengapa Muhammadiyah memilih tema memajukan Indonesia adalah tanggung jawab sejarah. Muhammadiyah melalui para kader dan pemimpinnya berperan serta dalam memperjuangkan kemerdekaan, membentuk negara, dan mempertahankan kedaulatan Indonesia. Peran kesejarahan Muhammadiyah dapat dilihat dari deretan pahlawan nasional yang lahir dari rahim dan besar dalam asuhan Muhammadiyah.

Sampai saat ini, setidaknya terdapat 22 pahlawan nasional yang berasal dari keluarga besar Muhammadiyah. Di antara mereka adalah Kiai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Nyai Walidah (pendiri Aisyiyah), Jenderal Soedirman (Bapak TNI), Ir Soekarno (Bapak Proklamator), Ibu Fatmawati (penjahit bendera pusaka), Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, Abdul Kahar Mudzakir (perumus dasar negara), KH Mas Mansur (tokoh pergerakan), Buya Hamka (ulama/tokoh pergerakan), dan Ir Juanda.

Nama yang terakhir terkenal dengan Deklarasi Juanda yang berkat perjuangannya di tingkat dunia, Indonesia diakui sebagai negara kepulauan. Berkat Deklarasi Juanda, luas wilayah Indonesia bertambah sekitar 2,5 kali dari sebelumnya. Bukan hanya itu, berkat Deklarasi Juanda, Indonesia memiliki kedaulatan wilayah dan ekonomi yang lebih kuat.

Memajukan Indonesia juga mengandung penegasan politik Muhammadiyah sebagai bagian tak terpisahkan dari Indonesia. Secara teologis, Muhammadiyah mengakui Indonesia sebagai bangsa dan negara. Muhammadiyah tidak hendak memisahkan diri dari Indonesia. Secara historis, Muhammadiyah sudah menggunakan kata ”Indonesia” sebelum Sumpah Pemuda dan kemerdekaan Indonesia.

Tahun 1924, majalah Suara Muhammadiyah mulai memperkenalkan edisi dalam bahasa Indonesia. Sejak 1928, Suara Muhammadiyah resmi menggunakan bahasa Indonesia. Dalam kongres (sekarang muktamar) juga mulai dipergunakan bahasa Indonesia karena anggota Muhammadiyah yang berasal dari latar belakang suku dan bahasa yang berbeda-beda.

Muhammadiyah memiliki tugas dan tanggung jawab untuk merawat dan mempertahankan Indonesia. Bahkan untuk itu, dalam Muktamar Ke-47 Muhammadiyah di Makassar, Muhammadiyah menegaskan negara Pancasila sebagai darul ahdi wa syahadah. Muhammadiyah menyatakan komitmen Pancasila sebagai dasar negara dan menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Karena tanggung jawab sejarah dan kebangsaan itulah Muhammadiyah sering kali menyampaikan kritik, baik secara terbuka melalui media maupun disampaikan langsung kepada pihak yang berwenang.

Komitmen Keindonesiaan

Memajukan Indonesia mengandung pesan penting komitmen Muhammadiyah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju. Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 alinea keempat menyebutkan bahwa di antara tujuan negara adalah ”memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut serta mewujudkan perdamaian dunia…” Jauh sebelum UUD 1945 disusun, Muhammadiyah sudah menggunakan kata ”kemajuan” dalam statuten yang terbit 1914. Muhammadiyah menggunakan kata kemajuan dalam hubungannya dengan kehidupan masyarakat dan beragama Islam. Islam Berkemajuan dipertegas dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah abad kedua sebagai keputusan Muktamar Ke-46 Muhammadiyah di Jogjakarta (2010).

Pada level tertentu, komitmen memajukan Indonesia dipengaruhi pandangan subjektif Muhammadiyah bahwa Indonesia saat ini sedang ”tidak baik-baik saja”. Terdapat masalah konstitusi, hukum, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan, keagamaan, dan sebagainya. Tanwir Muhammadiyah di Lampung (2009) melahirkan dokumen Revitalisasi Visi dan Karakter Bangsa. Muhammadiyah memandang bahwa karakter bangsa Indonesia yang positif mulai memudar.

Bangsa Indonesia mulai kehilangan jati diri. Mentalitas suka menerabas, meremehkan mutu, dan mistis sebagaimana ditulis Mochtar Lubis dan Koentjaraningrat sangat berpengaruh dalam diri masyarakat, bahkan pemimpin bangsa. Akibatnya, korupsi merajalela, neofeodalisme tumbuh kembali, dan agama tidak berdaya di tengah dekadensi moral yang makin mengkhawatirkan.

Muhammadiyah juga melihat Indonesia berpotensi menjadi negara gagal dan roboh (breaking down). Distorsi dan deviasi konstitusi dalam perundang-undangan dan penyelenggaraan negara begitu mengkhawatirkan.

Beberapa kali Muhammadiyah melakukan judicial review atas undang-undang yang bertentangan dengan konstitusi. Penyelenggaraan negara juga bermasalah. Otonomi daerah dan sistem pemilu yang liberal menumbuhkan primordialisme rasial dan demokrasi yang korup. Demokrasi kehilangan roh dan keadaban. Muhammadiyah dalam sidang tanwir di Samarinda (2014) menyusun dokumen Indonesia Berkemajuan yang memuat gagasan Muhammadiyah untuk memajukan Indonesia menuju terwujudnya cita-cita proklamasi.

Komitmen keindonesiaan Muhammadiyah dalam ranah kebangsaan tersebut merupakan penguatan dari peran kultural yang dilakukan sejak berdiri 110 tahun lalu. Muhammadiyah mengembangkan layanan sosial melalui lembaga-lembaga pendidikan, rumah sakit, panti asuhan, dan lain-lain.

Semua layanan sosial Muhammadiyah terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa membedakan agama, suku, dan kelas sosial. Itulah komitmen keindonesiaan Muhammadiyah.

Bagi Muhammadiyah, muktamar bukanlah semata soal suksesi dan pemilihan pimpinan. Muhammadiyah memiliki kultur yang kuat dalam seleksi kepemimpinan. Dengan sistem kepemimpinan kolektif kolegial, kekuatan Muhammadiyah terbangun berdasar sistem, bukan sinten (siapa) dan pinten (harta). Melalui muktamar, Muhammadiyah berusaha menyegarkan kembali semangat berkemajuan, memajukan Indonesia dengan spirit dan nilai-nilai Islam yang berkemajuan. (*)

*) ABDUL MU’TI, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads