alexametrics

Milad Muhammadiyah, Merawat Intelektualisme Kaum Muda

Oleh BIYANTO *)
18 November 2021, 19:48:31 WIB

PERSYARIKATAN Muhammadiyah genap berusia 109 tahun (18 November 1912–18 November 2021) hari ini. Sebagai organisasi kader yang telah berusia lebih dari seabad, sudah selayaknya Muhammadiyah menyiapkan kader-kader muda untuk menyambut tantangan era kontemporer. Bukan hanya kader untuk persyarikatan, Muhammadiyah juga harus melahirkan kader bangsa dan umat. Untuk melahirkan kader Muhammadiyah, bangsa, dan umat, organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu harus terus menyemai budaya intelektualisme di kalangan aktivisnya. Intelektualisme sangat penting karena dapat menjadi energi positif untuk menampilkan wajah Muhammadiyah yang lebih berkemajuan.

Dalam buku 100 Tokoh Muhammadiyah yang Menginspirasi (2014), Ahmad Syafii Maarif (Buya Syafii) menyatakan bahwa daya intelektualitas merupakan pintu gerbang memahami dan mengamalkan Islam secara kafah. Kaum muda sebagai pelaku utama sejarah gerakan masa depan menjadi juru kunci cerah dan buramnya wajah Muhammadiyah dalam pergulatan dunia. Pernyataan Buya Syafii tersebut penting menjadi refleksi hari kelahiran (milad) Muhammadiyah. Muhammadiyah tidak boleh hanya menjadi gerakan praksis sosial keagamaan, tapi juga harus menampilkan diri sebagai gerakan intelektualisme.

Dengan berpijak pada pernyataan Buya Syafii, kaum muda yang tergabung dalam berbagai organisasi otonom Muhammadiyah penting meneguhkan ideologinya sebagai gerakan intelektualisme. Untuk menghadapi tantangan keagamaan dan kebangsaan yang kompleks saat ini, kaum muda Muhammadiyah harus menyiapkan modal intelektual yang memadai. Modal intelektual itu dapat berupa wawasan keilmuan yang luas. Dengan berwawasan luas, kaum muda akan makin luwes dalam berinteraksi dengan berbagai kelompok lintas etnis, budaya, dan agama. Dalam bahasa kaum muda, mereka yang tidak berwawasan luas dan bersikap luwes itu umumnya disebabkan ”ngopinya” kurang jauh alias kurang pergaulan.

Berkaitan dengan sikap luas dan luwes dalam berinteraksi dengan kelompok yang berbineka itulah, kaum muda penting merenungkan pandangan cendekiawan muslim asal Pakistan bernama Muhammad Asad (Leopold Weiss). Tatkala memaknai kata hikmah: ikhtilafu ummatiy rahmah, Muhammad Asad mengartikan dengan ungkapan ”perbedaan di kalangan umatku yang terpelajar merupakan rahmat”. Dengan pemahaman tersebut, Muhammad Asad seakan ingin menegaskan bahwa perbedaan yang menghadirkan rahmat itu terjadi jika dialami mereka yang berwawasan luas-luwes. Sebaliknya, perbedaan akan menjadi bencana jika terjadi pada mereka yang tidak terdidik dan miskin pergaulan. Dampaknya, mereka berpandangan tertutup (close minded).

Pada konteks itulah kaum muda Muhammadiyah penting berkomitmen untuk terlibat dalam gerakan-gerakan intelektualisme. Komitmen menjadi bagian dari gerakan intelektualisme penting karena saat ini kaum muda yang tergabung dalam berbagai organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) lebih menunjukkan minat dalam dunia politik dan kekuasaan. Dampaknya, syahwat politik dan kekuasaan di kalangan kaum muda meningkat tajam. Tentu tidak ada yang salah dengan pilihan kaum muda untuk aktif di dunia politik. Persoalan muncul karena kecenderungan ke ranah politik dan kekuasaan menjadi arus besar (mainstream) dari gerakan kaum muda.

Padahal, perjuangan melalui jalur politik dan kekuasaan itu wilayahnya terbatas dengan peminat sangat banyak. Tetapi, anehnya, banyak kaum muda berpandangan instan dengan mengatakan bahwa berjuang melalui jalur politik dan kekuasaan lebih menjanjikan kemapanan dan kenikmatan materi. Sementara berjuang melalui jalur kultural dikatakan terlalu lama untuk bisa dinikmati. Karena itulah, tidak mengherankan jika terjadi persaingan di antara kaum muda untuk memperebutkan kue kekuasaan. Bahkan, persaingan sering melibatkan sesama kader dalam satu OKP.

Jika kondisi tersebut terus terjadi, dapat dipastikan kiprah kaum muda di ranah kultural tidak akan menonjol. Padahal, intelektualisme sebagai salah satu bentuk perjuangan di ranah kultural dapat menjadi sumber energi yang luar biasa bagi kaum muda. Dengan menjadi bagian dari gerakan intelektualisme, kaum muda dapat memberikan pencerahan pada tantangan keberagamaan di era kontemporer.

Harus diakui, wajah Islam Indonesia era kontemporer telah diwarnai persaingan sekaligus perebutan pengaruh antara kelompok Islam fundamentalis dan liberalis. Kelompok Islam fundamentalis dengan dalih ingin mengembalikan amalan keagamaan sebagaimana dicontohkan generasi awal Islam telah mengalami distorsi yang luar biasa.

Di kalangan umat juga sering terjadi simplifikasi identitas keislaman melalui simbol pakaian berjubah, memakai celak, berjenggot, dan bercelana di atas tumit. Memang beberapa simbol-simbol keislaman tersebut memiliki rujukan dalam ajaran Islam. Namun, menyederhanakan Islam dengan hal-hal yang bersifat kategoris seperti itu jelas jauh dari substansi ajaran Islam. Sebaliknya, kelompok Islam liberal yang mengusung tema reaktualisasi ajaran juga sering menghadirkan banyak kontroversi. Kelompok Islam liberal dinilai terlalu sering mengutak-atik ajaran yang dianggap mapan oleh umat.

Menghadapi perdebatan dan persaingan dua mazhab pemikiran keislaman tersebut, kaum muda Muhammadiyah dapat menampilkan diri sebagai mediator. Pada konteks ini kaum muda Muhammadiyah dapat menjalankan fungsi management of ideas di antara berbagai mazhab pemikiran keagamaan. Dengan berfungsi sebagai mediator, kaum muda Muhammadiyah terlibat aktif untuk merekatkan jalinan pemikiran (silatul fikr) berbagai mazhab. Kaum muda Muhammadiyah juga dapat mengajak berbagai mazhab pemikiran keislaman (school of thoughts) untuk bergerak ke posisi tengah (median position).

Jika berbagai ikhtiar menyemai gerakan intelektualisme dilakukan secara berkelanjutan, kaum muda Muhammadiyah pada saatnya akan menjadi intelektual publik (public intellectual). Untuk itulah, kaum muda Muhammadiyah penting terlibat aktif dalam berbagai wacana yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Spirit merawat gerakan intelektualisme inilah yang penting digelorakan di kalangan aktivis Muhammadiyah. Komitmen ini penting agar api pembaruan (tajdid) Muhammadiyah terus menyala. (*)


*) BIYANTO, Wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads