alexametrics

Peci, Becak, dan Kado Istimewa Hari Museum Nasional

Oleh ADRIAN PERKASA
18 Oktober 2020, 12:09:00 WIB

PASCA mengikuti pernyataan sikap para akademisi dan pegiat sosial terkait pengesahan UU Cipta Kerja pekan lalu, saya bertemu dengan pembimbing akademik dalam sebuah makan malam. Ia bertanya, selain berita-berita bernada negatif di media internasional, adakah berita positif terkait Indonesia belakangan ini?

Sambil mengunyah kudapan yang disediakan olehnya, saya berpikir keras untuk menjawab pertanyaan tersebut. Sampai kemudian saya ingat bahwa bulan ini terdapat rilis media dari sebuah komisi yang menyatakan bahwa pemerintah Belanda berkewajiban mengembalikan objek warisan budaya yang dijarah dari bekas koloninya.

Di masa penjajahan, terdapat banyak sekali objek warisan budaya yang dibawa ke Belanda tanpa persetujuan pemiliknya. Atau bahkan bertentangan dengan keinginan dari si empunya.

Berbagai macam jalan benda-benda itu sampai ke negeri ini. Mulai mengambilnya langsung dari situs tempatnya berasal karena dianggap tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya. Maupun sebagai jarahan atau rampasan perang ketika rezim Belanda berupaya memperluas teritorinya.

Situasi ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai wilayah jajahan Belanda lain seperti Suriname dan Kepulauan Karibia. Isu kepemilikan objek warisan budaya ke negeri asalnya rupanya telah menjadi perhatian besar di negara-negara Eropa.

Pada akhir 2017, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah memulai inisiasi di bidang tersebut dengan membentuk suatu komisi yang bertugas untuk membuat rekomendasi kebijakan bagi pemerintahnya.

Tak lama setelahnya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda membentuk komisi serupa hingga menghasilkan rekomendasi seperti yang telah disebutkan di atas.

Dengan tambahan bahwa perspektif dan kehendak negara tempat benda-benda warisan budaya tersebut berasal juga harus diperhatikan. Maka, tentu rekomendasi dari komisi itu adalah berita yang positif bagi Indonesia.

Kabar baik dari Belanda tersebut tentu saja patut disambut dengan gembira oleh Indonesia. Bahkan boleh dibilang rekomendasi komisi itu seolah menjadi kado istimewa bagi peringatan Hari Museum Nasional yang dilaksanakan setiap 12 Oktober.

Hanya, perlu diperhatikan pula bahwa masih banyak tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia sebelum bisa menindaklanjuti inisiatif dari pihak Belanda.

Tantangan utama selain masalah teknis permuseuman yang masih mengganjal adalah persoalan dekolonisasi Indonesia, khususnya di bidang kebudayaan. Mungkin bagi sebagian besar dari kita menganggap bahwa kemerdekaan kita yang diproklamasikan 75 tahun yang lalu telah membebaskan kita dari belenggu penjajahan.

Padahal, yang perlu diingat, kemerdekaan secara politik suatu bangsa tidaklah otomatis melepaskannya dari nilai-nilai kolonialis yang masih bercokol. Seperti yang terlihat dalam berbagai bidang, mulai politik, ekonomi, hingga budaya (Ashcroft, Griffiths, dan Tiffin, 1998).

Kondisi ekonomi politik negeri kita dewasa ini tidaklah terlalu jauh dari penggambaran tersebut. Pun demikian dalam bidang kebudayaan, khususnya dalam hal permuseuman.

Bagaimana tidak, ekshibisi atau pameran utama dalam sebagian besar museum di Indonesia masih tidak jauh berbeda dengan model museum sebagai wunderkammer atau cabinet of curiosities yang bermula dari Eropa pada pertengahan abad ke-16.

Museum sebagai wunderkammer adalah tempat penyimpanan bagi segala macam benda yang dianggap menakjubkan dan eksotis. Berbagai barang koleksi ditampilkan hanya untuk memukau siapa pun yang melihatnya.

Anggapan semacam ini tentu bisa dianggap telah ketinggalan zaman mengingat berbagai perkembangan terkait permuseuman di Indonesia telah pesat. Hanya, apabila kita pernah melihat dan mengamati dengan saksama, pola pikir arus utama di Indonesia mengenai museum tidak jauh-jauh dari anggapan tersebut.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak museum di Indonesia seolah-olah fungsinya hanya berhenti sebagai gudang penyimpanan belaka. Pada beberapa kasus malah lebih parah lagi di mana sang pengelola justru menempatkan sumber daya manusia yang bukan pada tempatnya untuk tugas-tugas krusial di museum.

Bagaimana mungkin kita bisa aktif melakukan riset terhadap objek warisan budaya yang ada di museum apabila negara tidak memberikan kemudahan-kemudahan bagi mereka yang hendak meneliti soal ini. Banyak kesulitan seperti akses yang masih terbatas dan tidak gratis terhadap dokumen-dokumen terkait suatu objek yang tersimpan di kantor arsip milik pemerintah.

Tentu persoalan-persoalan seperti ini tidak saya kemukakan ke profesor saya karena yang ditanyakannya adalah kabar baik tentang Indonesia. Begitu pun dengan tulisan ini ingin saya akhiri dengan optimisme seperti jawaban saya kepadanya.

Terdapat beberapa inisiatif kebudayaan akhir-akhir ini yang mulai ditunjukkan pemerintah baik pusat maupun daerah. Strategi Kebudayaan yang dicanangkan akhir 2018 merupakan capaian yang luar biasa di mana persoalan warisan budaya juga terangkum di dalamnya. Beberapa museum yang dikelola pemerintah daerah juga telah melakukan banyak terobosan.

MERIAM DARI ACEH: Meriam yang diambil tentara KNIL saat menaklukkan Aceh. Meriam tersebut pemberian dari sultan Turki kepada Sultan Aceh pada abad ke-16. Kini tersimpan di Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda.(ADRIAN PERKASA FOR JAWA POS)

Salah satunya Museum Kambang Putih, Tuban, yang akan menggelar pameran temporer tentang becak. Tema yang diangkat ini telah mampu menerobos imajinasi museum yang terbentuk pada masa kolonial.

Semangat pameran tersebut selaras dengan Bung Karno yang melihat bahwa peci yang identik dengan penutup kepala milik tukang becak pada masanya sebagai upaya untuk mencerminkan perjuangan nasionalisme Indonesia bukanlah milik kelompok elite saja. Melainkan seluruh warga Indonesia.

Belum lagi berbagai kegiatan seperti yang dipelopori oleh kalangan diaspora dan mahasiswa Indonesia di Belanda. Bersama dengan PCI Nahdlatul Ulama Belanda, secara berkala telah merintis upaya dialog intensif antara museum Belanda dan Indonesia sejak tahun ini.

Sekali lagi, semoga rekomendasi tadi bisa menjadi momentum bagi Indonesia, khususnya untuk memberikan kontribusi besar bagi kebudayaan. Tidak hanya untuk negerinya, tetapi juga kepada dunia. (*)


 

*) ADRIAN PERKASA

Dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Ketua Komisi Kebudayaan Perhimpunan Pelajar Indonesia Sedunia, dan PhD Candidate di Universiteit Leiden, Belanda.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra




Close Ads