alexametrics

Absurditas Manusia di Jalan Raya

Oleh LISTIYONO SANTOSO *)
18 Mei 2022, 19:48:07 WIB

JALAN raya kita kembali merenggut belasan nyawa manusia sekaligus dalam satu tragedi. Sebuah bus pariwisata yang membawa 33 penumpang menghantam tiang pesan di tol Surabaya–Mojokerto. Akibatnya, 15 orang tewas dan belasan lainnya luka-luka (Jawa Pos, 16/5/2022). Hampir semua yang tewas merupakan warga dua RT dari lingkungan Kelurahan Benowo, Surabaya.

Rombongan yang menyebut Group Benowo Piknik itu baru saja menikmati liburan panjang dengan berwisata di kawasan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah; dan Malioboro, Jogjakarta. Kecelakaan nahas menimpa mereka pukul 06.15 WIB Senin (16/5). Duka mendalam patut kita sampaikan karena warga Benowo kehilangan saudara, keluarga, anak, atau teman bermain mereka dalam waktu bersamaan. Benowo berduka. Suatu kejadian yang menyesakkan dada. Berangkat dengan keceriaan, berlibur dengan kegembiraan, namun pulang dengan kesedihan diiringi raungan sirene ambulans.

Kecelakaan maut ini menambah daftar panjang deretan kecelakaan yang berujung kematian. Data Korlantas Polri yang dipublikasikan Kementerian Perhubungan menyebutkan, angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia mencapai 103.645 pada tahun 2021. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan data tahun 2020 yang sebanyak 100.028 kasus. Data kecelakaan tahun 2021 telah menewaskan 25.266 korban jiwa dengan kerugian materi mencapai Rp 246 miliar. Sementara jumlah korban luka berat akibat kecelakaan lalu lintas sebanyak 10.553 orang dan korban luka ringan 117.913 orang.

Tingginya kasus kematian akibat kecelakaan di jalan raya tentunya memprihatinkan dan mengetuk rasa empati kita. Betapa jalanan tidak selalu aman untuk manusia. Setiap kasus kecelakaan, korban pertama dan utama adalah manusia. Mereka tidak kuasa mengamankan diri dari arus lalu lintas para ”monster” kendaraan yang selalu pongah berjalan. Tubuh lemahnya tak selalu bisa terlindungi dari kedigdayaan mesin-mesin di jalanan. Yang sudah hati-hati saja masih sering menjadi korban, apalagi yang sembrono dan ugal-ugalan.

Tidak heran jika kasus kecelakaan menjadi salah satu penyebab kematian cukup tinggi di Indonesia. Rata-rata terdapat tiga orang meninggal setiap jam akibat kecelakaan di jalan. Suatu kematian yang ”sia-sia” karena ketidakberdayaan manusia berada di jalan raya. Ketika di jalan raya, manusia seolah berada pada situasi antara hidup dan mati. Kehidupan manusia menjadi tidak berharga dalam ruang yang namanya jalan raya. Kendaraan bermotor menjadi monster pencabut nyawa paling kuasa di jalan raya.

Bahkan, World Health Organization (WHO) mencatat, kecelakaan di jalan raya menempati jumlah kematian tertinggi dari kategori penyakit tidak menular. Bahkan, kecelakaan lalu lintas di jalan raya akan menjadi penyebab kematian nomor lima di dunia setelah penyakit jantung, stroke, paru-paru, dan infeksi saluran pernapasan.

Absurditas Manusia

Manusia itu makhluk paling absurd, kata Albert Camus. Tidak pernah meminta dilahirkan di muka bumi, tapi harus berhadapan dengan kenestapaan, penderitaan, dan kemudian kematian. Bagaimana tidak absurd, tak pernah minta dilahirkan, tiba-tiba harus berhadapan dengan kematian. Hidup manusia selalu berhadapan dengan rasa takut, kecemasan, dan rasa waswas. Hal yang paling nyata yang dihadapi oleh manusia tidak lain selain kematian. Jalan raya menjadi medan pertempuran antara hidup dan matinya manusia. Ancaman paling nyata dari kecemasan manusia di jalan raya adalah kecelakaan yang berujung kematian.

Jalan raya saat ini telah menciptakan kecemasan dan ketakutan dalam diri manusia. Berada di jalan raya seolah harus bersiap menghadapi kematian itu sendiri. Di tengah jalan, manusia mengalami ketidakpastian eksistensial. Kepatuhan pada rambu lalu lintas tidak memberikan jaminan ke(ny)amanan berkendaraan. Keselamatan kita di jalan raya tidak hanya bertumpu pada eksistensi diri sendiri, tapi juga keberadaan pengendara lain yang tumpah ruah di jalan raya.

Rilis yang dilakukan Direktorat Perhubungan Darat (2021) menyebutkan bahwa faktor paling besar penyebab kecelakaan di jalan raya adalah faktor manusia sebanyak 61 persen meliputi kemampuan dan karakter pengemudi; 30 persen disebabkan oleh prasarana dan lingkungan, termasuk kondisi jalan raya; dan 9 persen terkait faktor kendaraan, yakni pemenuhan persyaratan teknik laik jalan. Faktor manusia atau human error menduduki tempat tertinggi penyebab kecelakaan. Pengemudi sering kali abai memperhatikan kondisi diri ketika berkendara.

Dalam konteks ini, diperlukan berbagai solusi komprehensif. Pertama, ketegasan menegakkan aturan berkendaraan di jalan raya. Pelanggaran terhadap rambu lalu lintas merupakan pelanggaran yang berbahaya karena berpotensi membahayakan keselamatan diri sendiri dan orang lain. Sanksi tilang memang diperlukan. Satu atau dua kali. Kalau kemudian melakukan pelanggaran lagi, selayaknya diberi sanksi larangan berkendara selama beberapa tahun atau bahkan seumur hidup.

Kedua, penegakan aturan batas kecepatan berkendara dan juga regulasi khusus untuk mesin kendaraan dengan batas maksimal kecepatan di jalan raya. Batas kecepatan berkendara di ruas tol maksimal adalah 100 km/jam sesuai peraturan pemerintah. Selama ini selalu saja ada kesan bahwa mampu memperpendek waktu berkendara dengan kecepatan tinggi dianggap sebagai prestasi yang membanggakan. Bahkan selalu dipamerkan ke orang lain dengan mengolok yang berkendara dalam batas kecepatan yang ditentukan.

Ketiga, untuk kendaraan umum, penumpang selayaknya diberi hak untuk mendapatkan informasi terkait dengan siapa sopir dan bagaimana track record selama ini. Informasi itu penting agar setiap penumpang merasa nyaman naik kendaraan dengan sopir yang tepercaya. Penumpang juga berhak memberikan teguran kepada pengendara ketika cara berkendaranya sudah mulai membahayakan penumpang maupun orang lain.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Close Ads