alexametrics

Pandemi, E-Learning, dan Ilusi Teknologi

Oleh BENNY LIANTO *)
18 Mei 2020, 21:06:47 WIB

SEKITAR seperempat abad lalu, John Naisbitt dalam Global Paradox (1994) meramalkan, perkembangan teknologi komunikasi (telepon genggam dan internet) akan mengakibatkan perubahan konsep ruang dan waktu. Internet memungkinkan orang terhubung melintas batas fisik secara real time. Ramalan Naisbitt terbukti. Kini teknologi komunikasi seperti internet menjadi jalan keluar bagi aktivitas atau kebutuhan manusia yang ingin serbacepat dan efisien.

Dalam konteks pendidikan di masa pandemi Covid-19 sekarang, internet tampil sebagai penyelamat proses pembelajaran di kampus atau sekolah yang terhenti karena kekhawatiran penularan virus tersebut. Aplikasi video conference seperti Zoom, Cisco Webex, Google Duo, atau Google Meet menjadi substitusi dari tertutupnya ruang komunikasi tatap muka dalam pembelajaran. Aplikasi itu seolah ikut mengukuhkan prediksi Naisbitt. Fasilitator pembelajaran (dosen dan guru) beramai-ramai menggunakan aplikasi tersebut untuk menjangkau peserta didik di rumah. Secara tiba-tiba, pandemi Covid-19 memaksa dunia pendidikan mengubah metode pembelajaran tatap muka (face-to-face) menjadi e-learning/pembelajaran daring.

Awalnya tidak terlalu tampak ada masalah. Pada titik tertentu, itu bahkan dilihat sebagai berkah tersamar. Sebab, dunia pendidikan akhirnya bisa menerapkan e-learning yang jauh sebelumnya digaungkan. Namun, belakangan mulai muncul problem. Problem paling praktis menyangkut biaya kuota internet yang harus disediakan peserta didik. Namun, yang didiskusikan di sini adalah problem mendasar dalam konteks human communication. Sebuah problem yang oleh Sherry Turkle dalam buku Alone Together (2011) disebut sebagai keintiman (intimacy) dan kesendirian (alone).

Problem tersebut menjadi kian menarik karena pada saat yang sama pandemi Covid-19 kian mendorong peserta didik saat ini (yang bisa dikategorikan sebagai net-generation atau digital native) makin tenggelam ke dalam kehidupan virtual (virtual life) ketimbang kehidupan nyata (real life).

Beberapa waktu lalu penulis menggelar survei kecil tentang sikap mahasiswa terhadap pembelajaran daring. Ternyata (selain mengeluhkan biaya kuota), data kuantitatif maupun kualitatif menggambarkan kerinduan mahasiswa menjalani kembali pembelajaran tatap muka. Mereka merindukan suasana kampus, kantin, teman, atau dosennya. Mereka merasa ada sesuatu yang hilang dari proses pembelajaran melalui layar komputer atau gadget, yang dalam istilah Turkle disebut intimacy itu. Hal tersebut terkait dengan karakter teknologi yang memang bersifat paradoks: memudahkan hidup manusia, tetapi sekaligus membuat manusia terasing dari lingkungan serta dirinya sendiri.

Ilusi Teknologi

Sejak 1980-an, saat komputer mulai banyak digunakan, hidup manusia mulai berubah. Pada era itu relasi manusia dengan komputer bersifat one-on-one, antara manusia itu sendiri dan mesin. Namun, sejak pertengahan 1990-an, relasi tersebut berubah. Komputer berubah menjadi portal bagi manusia untuk memasuki dunia baru yang disebut dunia virtual.

Dalam konteks kekinian, orang bahkan merasa aktivitas di media sosial seperti Instagram, Facebook, Twitter, atau lainnya sebagai hidup yang lebih nyata dibanding di dunia nyata (real life). Secara tidak sadar, teknologi sebetulnya menawarkan ilusi. Ilusi tentang kebersamaan dan relasi antarmanusia, bahkan ilusi tentang rumah (home) dengan perantaraan komputer (internet). Inilah hidup yang seolah-olah saling terkoneksi (networked life), tetapi tidak nyata karena hanya berlangsung di dunia virtual.

Dari sanalah muncul problem keintiman atau kesendirian. Turkle menulis, perasaan tidak aman dalam hubungan sosial dan kecemasan terkait keintiman membuat orang menoleh ke teknologi.

Melalui teknologi (komputer, gadget, atau media sosial) orang bisa menjalin hubungan dengan siapa pun, berapa pun jumlahnya, tanpa harus memiliki risiko kekecewaan sebagaimana berelasi dengan sesamanya. Orang memiliki harapan berlebih pada teknologi dan tidak lagi menumpukan harapan kepada orang lain. Teknologi bertindak sebagai arsitek dari keintiman dan pelarian dari dunia nyata.

Manusia, menurut Turkle lagi, adalah makhluk kesepian, tetapi takut pada keintiman. Itulah sebabnya, teknologi menjadi pelarian. Koneksi digital menawarkan ilusi pertemanan tanpa menuntut persahabatan. Kehidupan dalam jaringan digital memungkinkan orang saling bersembunyi dari yang lain.

Berkomunikasi atau berelasi secara face-to-face dianggap berisiko karena mengungkap identitas diri sebenarnya. Komunikasi melalui teks lebih dipilih dibanding berbicara langsung. Hal-hal yang berlangsung secara real time dan real life dianggap terlalu berlebihan. Kondisi itu membuat manusia merasa alone together (sendiri bersama-sama). Mereka saling terkoneksi dan berkomunikasi, tetapi tetap merasa sendiri.

Peserta didik kita saat ini adalah generasi milenial atau digital natives yang tumbuh dengan gadget dan internet. Namun, pada titik ketika diwajibkan menjalani pembelajaran daring dari rumah, mereka mulai merasakan ada yang hilang, yaitu keintiman. Social networking di internet dirasa tidak memadai lagi untuk memenuhi kebutuhan itu. Berkomunikasi dan berelasi hanya lewat gadget membuat mereka mulai merasa kosong.

Kondisi ekstrem akibat pandemi dan penerapan physical distancing atau social distancing dalam jangka waktu tidak terbatas membuat mereka mulai mendefinisikan ulang makna keintiman, kesendirian, atau teknologi. Pernyataan-pernyataan seperti rindu kampus, kangen teman, rindu diajar dosen di kelas, dan sebagainya merupakan ekspresi verbal yang mengisyaratkan bahwa pada titik tertentu apa yang diasumsikan Turkle bahwa manusia adalah makhluk kesepian tetapi takut keintiman perlu diperdebatkan. Pada kondisi ekstrem seperti sekarang (dipaksa secara nyaris total berkomunikasi dan beraktivitas melalui mediasi teknologi), ternyata manusia merindukan kembali keintiman yang tak bisa digantikan teknologi itu.

Dalam konteks pembelajaran, hal tersebut bisa dijadikan titik awal kita untuk merumuskan metode pembelajaran di masa depan yang menyeimbangkan metode face-to-face dan daring: sebuah metode pembelajaran yang tidak harus efisien, tetapi membuat peserta didik merasa tidak sendirian, nyaman, dan terhubung dengan dunia nyata.

Perguruan tinggi atau dunia pendidikan memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya memperhatikan ranah iptek sehingga mampu membentuk manusia peserta didik menjadi holistis dan utuh. Atau mengutip Naisbitt lagi, di masa pandemi dan setelahnya ini, dunia pendidikan harus merumuskan metode pembelajaran yang –meminjam istilah Naisbitt lagi– menyeimbangkan aspek high tech dan high touch, bukan metode pembelajaran yang justru mengakibatkan kesendirian dan problem keintiman. (*)


*) Benny Lianto, Rektor Universitas Surabaya

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads