alexametrics

Mudik sebagai Momentum Inner Journey

Oleh SYAMSUL ARIFIN*
18 Mei 2020, 14:03:44 WIB

SEANDAINYA bukan karena Covid-19, biasanya beberapa hari jelang Lebaran dan sesudahnya, massa dalam jumlah kolosal akan bergerak ke kampung asal mereka. Namun, mudik kali ini dipastikan menghadapi banyak kendala menyusul pandemi Covid-19.

Mudik sejatinya bukan organ agama dalam arti normatif-teologis, tetapi tidak lebih sebagai manifestasi budaya di wilayah tertentu Islam. Di antara wilayah Islam yang identik dengan mudik adalah Indonesia.

Terdapat banyak fitur pada Islam di Indonesia yang saling mengait yang di antaranya memunculkan budaya mudik. Yang paling mudah terlihat di permukaan tentu populasi muslim yang melampaui wilayah-wilayah Islam lainnya, bahkan yang disebut sebagai Islam pusat atau inti (centre). Sementara Indonesia sering disebut sebagai pinggiran atau periferi (peripheral).

Kendati terdapat di pinggiran secara geografis dan proses islamisasinya agak belakangan, pertumbuhan populasi Islam di Indonesia paling pesat. Sehingga pada www.pewresearch.org Indonesia ditempatkan di urutan teratas dalam daftar countries with the largest of muslims. Tingginya populasi ini antara lain disebabkan oleh kelenturan Islam dalam menerima budaya lokal.

Dialektika yang saling mengisi antara Islam dan budaya setempat mengakibatkan Indonesia –fitur yang kedua– menjadi wilayah yang membentuk keragaman (diversity) dan distingsi Islam dari sisi budaya yang membedakan dengan wilayah-wilayah Islam lainnya. Perbedaan ini, jika merujuk pada Abdullah Saeed (2003), lebih banyak berada di wilayah interpretasi dan manifestasi. Sementara pada aspek common values yang menjadi inti Islam, tidak ada perbedaan dan menjadi pembentuk kesatuan (unity) dalam Islam.

Interpretasi merupakan penafsiran terhadap teks yang merupakan sumber Islam. Sedangkan manifestasi merupakan tampilan Islam dengan menggunakan media budaya setempat. Sebagai contoh, kewajiban puasa Ramadan telah menjadi common values semua kelompok dalam Islam. Lalu terjadi perbedaan terkait dengan penentuan awal Ramadan karena perbedaan dalam menafsirkan suatu teks.

Perbedaan kian tampak ketika aktivitas bulan Ramadan mendapatkan sentuhan dari budaya setempat seperti terekam dengan bagus dalam penelitian Ramadan in Java: The Joy and Jihad of Ritual Fasting yang dilakukan Andre Moller. Dalam disertasi tersebut ditemukan setidaknya 47 kata mudik yang tersebar di berbagai halaman yang di antara pembahasannya dikatakan, ’’As a consequence, Indonesia probabily hosts one of the largest annual mass mobilization activities in the world in connection with lebaran.’’ Mudik di Indonesia rupanya telah menjadi salah satu cara dalam selebrasi pasca-puasa Ramadan.

Inner Journey

Mudik pada hakikatnya kembali ke asal. Secara common sense, mudik lebih dimengerti sebagai pergerakan atau mobilisasi banyak orang (masal) ke kampung asal beberapa hari sebelum atau sesudah Lebaran. Tetapi, dengan munculnya pandemi Covid-19, kita perlu menggeser ke makna yang baru dan lebih esensial. Dalam pemaknaan baru, alih-alih merupakan pergerakan fisik, perjalanan keluar kembali ke kampung asal dengan menempuh perjalanan darat, udara, dan laut dalam jarak tertentu, mudik sebagai perjalanan spiritual (spiritual journey) ke dalam diri kita sendiri atau inner journey.

Dalam manifestasinya secara superfisial, mudik yang ditandai dengan pergerakan masal kembali ke kampung asal, kendati merupakan fenomena budaya, bukan tuntutan normatif agama. Menurut Nurcholish Madjid (2007), tidak mudah dibendung karena berkaitan dengan dorongan alamiah atau fitri manusia kembali kepada hal-hal yang berdimensi asal, yang dalam konteks mudik dorongan ini diwujudkan dengan kembali kepada orang-orang dekat (ibu-bapak dan sanak famili) untuk meminta maaf sebagai cara kembali ke kondisi asal sebagai manusia yang suci. Dengan demikian, mudik sebenarnya memiliki makna yang mendasar dan mendalam, yakni merupakan salah satu cara ingin kembali ke kesucian manusia sebagaimana kondisi awal ketika baru terlahir ke muka bumi.

Tidak mudah bertahan dengan kondisi awal itu. Seiring dengan perjalanan life spans (masa hidup), lebih-lebih setelah memasuki tahapan remaja, manusia mudah tergoda melakukan sesuatu yang sebenarnya bertolak belakang dengan nuraninya. Agama lalu hadir antara lain berfungsi sebagai kanopi sakral (the sacred canopy) jika meminjam konsep dari Peter L. Berger. Lazimnya kanopi, agama akan memberikan proteksi kepada manusia terhindar dari berbagai unsur negatif yang dapat mengotori kesuciannya. Puasa yang berujung ke Idul Fitri juga berfungsi sebagai kanopi sakral.

Ketika mudik secara fisik tidak bisa dilakukan karena terkendala oleh protokol penanganan Covid-19, mudik perlu dimaknai dalam rangka inner journey. Yakni, melakukan refleksi dengan melibatkan hati nurani yang akan memberikan penilaian secara jujur terhadap kualitas perjalanan hidup mulai fase awal hingga kini.

Setelah melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup dari awal ke yang kini, lalu kita ’’mudik’’, merenungkan kondisi awal betapa ’’putihnya’’ manusia, dan sejatinya seperti dalam kondisi awal itulah manusia kembali kepada Tuhan. Semoga, dan selamat ’’mudik’’. (*)


*) Guru Besar Sosiologi Agama dan Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads