Imunitas Super Dapat Mengendalikan Pandemi?

18 Februari 2022, 19:48:41 WIB

GELOMBANG varian Omicron tidak selalu disikapi dengan rasa cemas. Setidaknya ada secercah harapan menuju berakhirnya pandemi. Riset dari berbagai negara menuai pandangan baru terkait sepak terjang Omicron pada sistem imun manusia. Rasa pesimistis menghadapi virus Covid-19 dengan mutasi tertinggi ini perlahan mulai pudar. Munculnya imunitas super sangat mungkin membawa hikmah bagi mitigasi pandemi yang sudah berlangsung sekitar dua tahun ini.

Berkaca pada pola gelombang Covid-19 yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, bisa ditarik banyak pelajaran berharga. Setelah diterpa gelombang Omicron yang sulit dibendung, negara-negara tersebut kini bisa bernapas lega. Swedia sebagai negara pionir dengan percaya diri menyatakan bahwa pandemi telah berakhir. Kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat terkait pandemi telah dicabut. Deklarasi yang dinilai berani ini disampaikan pada 9 Februari 2022.

Tentu saja banyak pertimbangan yang bisa menjadi pijakannya. Dampak risiko yang mungkin timbul juga telah dipertimbangkan dengan cermat. Covid-19 dengan berbagai macam variannya, terutama Omicron, selanjutnya dikelola sebagai kasus flu biasa.

Walaupun demikian, tidak sedikit pakar bidang kesehatan yang mengkritisi kebijakan tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) termasuk yang berseberangan pendapat. Mereka menyatakan, keputusan Swedia tersebut amat prematur. Sangat mungkin kebijakan yang diambil pemerintah Swedia itu akan diikuti beberapa negara Eropa lainnya. Norwegia, Inggris, Irlandia, Belanda, Finlandia, Denmark, Prancis, dan Italia juga berancang-ancang mengambil sikap melonggarkan aturan pembatasan warganya. Tren terhadap pelonggaran terkait Covid-19 mungkin juga dipertimbangkan dua negara tetangga kita. Malaysia dan Filipina akan mempersiapkan konsep pelonggaran kedatangan turis asing ke negara tersebut.

Kasus terkonfirmasi Covid-19 juga menurun tajam di Amerika Serikat saat ini. Walaupun angka kematian terbilang meningkat, para ahli optimistis melihat perkembangan Omicron. Menurunnya kasus di beberapa negara tidak terlepas dari terbentuknya imunitas super. Angka vaksinasi global yang terus bergerak naik sangat berdampak pada hasil akhir infeksi Omicron. Respons imun yang terbentuk pascavaksinasi dan disertai paparan alamiah Omicron menghasilkan imunitas super. Kolaborasi dua keadaan ini diprediksi mampu mengendalikan pandemi. Timbulnya herd immunity (kekebalan komunal) semacam inilah yang digadang-gadang dapat mengakhiri pandemi.

Imunitas Super

Konsep imunitas super saat ini menjadi kajian yang menarik bagi para ahli. Seseorang akan menjadi kebal terhadap paparan mikroba, khususnya virus, setelah terpicunya respons imunitas tubuh. Infeksi virus merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri (self-limiting disease). Setelah sembuh dari infeksi tersebut, akan dihasilkan imunitas dalam jangka waktu tertentu. Vaksinasi juga menghasilkan pola yang serupa. Keunggulannya terletak pada terbentuknya imunitas tanpa harus menderita sakit terlebih dahulu.

Namun, efektivitas suatu vaksin dalam mencegah infeksi menular tidak selalu dapat mencapai 100 persen. Oleh karena itulah, pascavaksinasi Covid-19, masih dapat terjadi penularan. Respons imun, baik yang bersifat seluler ataupun humoral (antibodi sebagai indikatornya), akan terbentuk sempurna minimal 14 hari pascavaksinasi yang terakhir.

Apabila terjadi penularan setelah rentang waktu tersebut, dikenal dengan istilah breakthrough infection. Bila terjadi ”infeksi terobosan” semacam ini, mayoritas tidak akan berakibat separah jika individu tersebut belum divaksin.

Omicron diketahui dapat menghindari rintangan antibodi yang terbentuk pascavaksinasi. Varian itu juga kebal terhadap pengobatan yang berbasis antibodi. Fenomena ”infeksi terobosan” akibat Omicron menuai banyak perhatian dari para peneliti. Penyintas akibat varian paling menular ini ternyata mendapatkan ”anugerah” antibodi yang sangat melimpah.

”Hikmahnya”, mereka mampu terhindar dari infeksi Covid-19 varian apa pun juga. Termasuk varian Delta yang menimbulkan gejala klinis paling berat. Imunitas super yang dibentuk hasil kolaborasi vaksinasi dan infeksi alamiah memicu potensi respons imun. ”Kekebalan hibrida” yang terbentuk disebut-sebut para ahli memiliki imunitas yang paling kuat.

Baru-baru ini telah dipublikasikan hasil riset yang menarik dalam jurnal Science Immunology. Para ahli membandingkan imunitas yang berasal dari beberapa keadaan. ”Kekebalan hibrida” juga dapat terbentuk dari kejadian yang sebaliknya. Yaitu pada penyintas yang belum pernah divaksin, kemudian baru dilakukan vaksinasi setelah sembuh.

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa imunitas super atau imunitas hibrida menghasilkan kekebalan yang mumpuni. Jauh melampaui kekuatan yang dihasilkan dari proses vaksinasi saja. Tanpa adanya paparan alamiah virus SARS-CoV-2, antibodi pascavaksinasi relatif tidak maksimal. Dalam rentang waktu tiga hingga enam bulan setelahnya akan menurun secara bertahap. Omicron bisa bertindak layaknya ”booster” alamiah. Namun, para ahli tidak menyarankan untuk secara ”sengaja” terpapar dengan virus tersebut.

Pandemi Menjelang Berakhir?

Lancet, sebuah majalah kedokteran terkemuka, memprediksi pandemi akan segera berakhir. Itu disampaikan dalam publikasi terbarunya akhir Januari 2022. Estimasi itu berdasar model dari Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). Diprediksi, hingga akhir Maret 2022, lebih dari 50 persen penduduk dunia akan terinfeksi Omicron.

Namun, karena mayoritas kasus tidak bergejala atau hanya ringan saja, tidak dilakukan pelacakan terhadap kontak erat. Dengan demikian, testing untuk kepastian diagnosis juga akan menurun. Angka deteksi secara global diperkirakan akan menurun, dari 20 persen menjadi 5 persen saja. Fenomena gunung es akan terjadi. Sebagai perbandingan, 40 persen Covid-19 dari varian-varian sebelumnya tidak bergejala. Sebaliknya pada Omicron, tanpa gejala bisa mencapai 80–90 persen. Bahkan lebih.

Ada suatu hal yang mengejutkan dari model IHME. Laju transmisi Omicron mampu mengungguli penggunaan masker dan vaksinasi. Peningkatan 80 persen pemakaian masker hanya akan menurunkan 10 persen angka infeksi dalam jangka waktu empat bulan. Peningkatan intensitas vaksinasi juga terlambat. Itu digalakkan pada saat gelombang Omicron berada pada puncaknya. Diperlukan strategi baru untuk mengendalikan laju Covid-19.

Masih ada beberapa hasil analisis lainnya. Prediksi berakhirnya pandemi menuju fase endemi terkait dengan imunitas global. Baik yang berasal dari meningkatnya program vaksinasi global, penyintas, ataupun imunitas hibrida. Penggunaan obat antivirus seperti Molnupiravir dan Paxlovid akan menambah harapan tersebut.

Skenario akan berjalan sesuai harapan bila tidak timbul mutasi baru yang mengkhawatirkan. Namun, prediksi para ahli menyatakan, Omicron adalah puncak mutasi. Semoga pandemi benar-benar dapat dikendalikan. (*)


*) ARI BASKORO, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Unair-RSUD dr Soetomo Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: