alexametrics

Keriuhan Pendukung Perlu Dievaluasi

Oleh M. AFIFUDDIN*
18 Februari 2019, 10:10:11 WIB

JawaPos.com – Debat pasangan calon presiden dan wakil presiden sudah berlangsung dua kali. Debat ini adalah salah satu bentuk metode kampanye. Yaitu kegiatan untuk meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program pasangan calon yang difasilitasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Tujuan utama debat adalah pemilih mencoblos surat suara di hari pemungutan berdasar pengetahuan yang memadai terkait dengan perencanaan membangun negara dan bangsa lima tahun mendatang.

Keberhasilan debat diukur dari seberapa kuat masyarakat pemilih mendapatkan informasi sedetail mungkin terhadap program-program yang dicanangkan pasangan calon Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Dari dua kali debat yang telah dilaksanakan, pasangan calon presiden dan wakil presiden telah menyampaikan strategi dan rencana kebijakan yang diprogramkan dalam menerjemahkan dokumen visi, misi, serta program yang disampaikan ke KPU. Eksplorasi yang disampaikan dalam debat dapat menjadi pertimbangan masyarakat untuk menentukan pilihan 17 April nanti.

Catatan Bawaslu

Dalam debat pertama, terdapat beberapa catatan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) terkait teknis dan substansi penyelenggaraan debat. Untuk semakin meningkatkan kualitas debat, Bawaslu memberikan rekomendasi kepada KPU. Dari aspek teknis, KPU perlu menjamin proses debat berlangsung baik dan lancar tanpa gangguan serta keriuhan yang berlebihan.

Pada debat kedua, nyatanya keriuhan pendukung masih terjadi. Keriuhan pendukung menjadi catatan penting untuk bahan evaluasi karena relatif mengganggu proses debat. Terutama saat calon presiden menyampaikan gagasannya.

Dari aspek substansi, berdasar pengalaman debat pertama, Bawaslu merekomendasikan untuk mewujudkan debat yang semakin eksploratif. Penyampaian jawaban pasangan calon tanpa kisi-kisi. Masukan itu telah dikembangkan KPU di debat kedua dengan semakin menguatkan kualitas debat. Di antaranya dengan pembahasan dan eksplorasi yang dialogis dalam membahas strategi serta rencana kebijakan publik. Format debat juga telah diubah dengan menampilkan video sebagai ilustrasi.

Bawaslu sudah mewanti-wanti, dalam pelaksanaan debat sebagai metode kampanye, dilarang mempersoalkan dasar negara Pancasila, pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Juga dilarang melakukan penghinaan terhadap seseorang, agama, suku, ras, atau golongan calon dan/atau peserta pemilu lainnya. Selain itu, dilarang menghasut dan mengadu domba perseorangan ataupun masyarakat serta mengancam untuk melakukan kekerasan kepada seseorang, sekelompok anggota masyarakat, dan/atau peserta pemilu yang lain.

Peningkatan Partisipasi

Dalam tiga debat lagi ke depan, proses pelaksanaan dan kualitas debat diharapkan dapat ditingkatkan. Tujuannya, debat pilpres semakin membuat masyarakat pemilih antusias hadir dan mencoblos di tempat pemungutan suara (TPS) dengan pengetahuan yang memadai terkait visi, misi, serta program pasangan calon.

Dalam peningkatan kualitas pemilihan umum, debat dilaksanakan untuk menguatkan visi nasional kebangsaan. Yakni melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Akhirnya, tujuan utama debat adalah menjadikan pemilih mempelajari dan mempertimbangkan program pasangan calon. Dengan demikian, yang belum menentukan pilihan bisa mempunyai pilihan dan yang sudah menentukan pilihan semakin mantap dengan pilihannya untuk datang dan mencoblos pada 17 April 2019. 

*) Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/c9/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Keriuhan Pendukung Perlu Dievaluasi