Omicron, Antara Kekhawatiran dan Harapan

Oleh ARI BASKORO *)
17 Desember 2021, 19:48:28 WIB

OMICRON, varian virus penyebab Covid-19, telah menyedot perhatian publik sehingga menjadi pusat pemberitaan. Sejak dilaporkan untuk kali pertama di Afrika Selatan 24 November 2021, kini dikabarkan telah menyebar di 70 negara di dunia. Sangat mungkin lebih banyak lagi negara lainnya yang akan terkena sebaran varian teranyar ini.

Walaupun banyak ahli berspekulasi bahwa varian virus ini justru bermula dari Eropa, The Rainbow Nation, julukan negara di Benua Hitam itu, telah mengalami gelombang keempat. Diduga kondisi ini dipicu Omicron. Beberapa hari terakhir ini telah tercatat rekor kasus harian tertinggi yang meningkat pesat sejak terdeteksinya Omicron di negara tersebut.

Inggris merupakan negara yang juga terkena dampak hebat. Gelombang Covid-19 untuk kali kesekian menerjang negara The Three Lion tersebut. Inggris pula yang menyatakan untuk kali pertama varian virus hasil mutasi itu mengakibatkan kematian. Untuk sementara ini, Omicron diketahui mempunyai daya tular 4,2 kali lipat dibanding varian Delta.

Namun, yang cukup ”melegakan”, varian ini tidak menimbulkan dampak klinis yang berat. Analis sementara menyatakan, mayoritas hanya menimbulkan gejala klinis yang ringan dan tidak memerlukan perawatan di rumah sakit.

Tidak mengherankan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bertindak cepat. Varian baru itu segera diklasifikasikan sebagai varian of concern (VOC), artinya harus diwaspadai. Karena dampaknya bisa sangat mengkhawatirkan. Tingkat mutasinya yang tinggi, jauh di atas varian Delta, semakin meningkatkan daya tularnya. Bukan itu saja, perubahan materi genetik yang terjadi berakibat pada semakin mudahnya terjadi infeksi ulang pada penyintas Covid-19. Artinya, imunitas yang ditimbulkan pascasembuh dari Covid-19 tidak mampu mencegah paparan terhadap Omicron.

Kekhawatiran ini juga menyasar pada efektivitas vaksin. Respons imunitas pascavaksinasi, khususnya antibodi yang terbentuk, diperkirakan kurang efektif membendung paparan Omicron. Banyak pakar yang memprediksi Omicron mampu mengambil alih dominasi varian Delta di seluruh dunia. Saat ini varian Delta ”menguasai” 98% kasus Covid-19 secara global.

SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid-19), sebagaimana mikroba pada umumnya, akan selalu berevolusi. Ini merupakan sifat alamiah virus dalam upaya mempertahankan eksistensinya. Bila semakin banyak mendapatkan kesempatan menginfeksi inang yang sesuai, virus tersebut berpotensi mengalami mutasi. Tidak semua mutasi berakibat merugikan. Artinya, tidak selalu memantik peningkatan kapasitas penularan atau menimbulkan akibat klinis yang lebih berat.

Kekhawatiran terhadap virus mutan juga dinilai pada dampaknya terhadap efektivitas vaksin yang semakin menurun. Hasil mutasi yang demikian ini dapat meloloskan virus tersebut dari sergapan sistem imun/antibodi yang dihasilkan pascavaksinasi. Pengobatan yang berbasis antibodi juga tidak mampu segera membersihkan virus tersebut dari inangnya, yaitu manusia. Sebaliknya, mutasi virus bisa juga menimbulkan efek yang ”menguntungkan”. Apabila kemampuan menularnya yang meningkat, tetapi akibat klinisnya semakin ringan, secara alamiah akan mempercepat terjadinya herd immunity (kekebalan kelompok/komunal).

Peluang memperoleh kekebalan komunal secara artifisial juga dapat dipercepat melalui program vaksinasi. Bila segera tercapai, dengan sendirinya dapat melemahkan virulensi suatu mikroba dan akhirnya secara bertahap pandemi dapat melandai menuju endemi.

Konsep ”hidup berdampingan” bersama Covid-19 seperti ini sangat mungkin bisa terjadi. Berdasar kajian ilmiah dan pengalaman masa lalu menghadapi pandemi terhadap penyakit lainnya, banyak ahli yang berharap skenario ini bisa segera terwujud.

Pandemi Flu Spanyol

Flu Spanyol sempat menyebar ke seluruh dunia pada 1918–1919 walaupun gaungnya kalah dengan hiruk pikuknya Perang Dunia Pertama. Korban keganasan virus ini sungguh luar biasa. Diperkirakan penyakit ini menjangkiti sepertiga penduduk dunia yang saat itu berjumlah 1,7 miliar jiwa. Korban tewas sedikitnya 50 juta jiwa.

Meskipun pada awal 1920 sempat melonjak lagi, pada pertengahan 1920 pandemi flu Spanyol bisa berakhir. Banyak misteri yang belum bisa terungkap dengan jelas bagaimana pandemi tersebut berakhir dengan sendirinya. Perkembangan pengetahuan tentang virus dan pengobatannya saat itu masih sangat terbatas. Belum ada juga metode vaksinasi untuk mencegah penularan.

Upaya yang bisa dilakukan hanya berupa penggunaan ”masker seadanya” dan menjaga jarak. Penjelasan rasional yang bisa menjadi jawabannya adalah terbentuknya herd immunity alamiah. Virus flu tersebut pada akhirnya tidak menemukan lagi target inang yang rentan. Selesailah pandemi flu Spanyol.

Pandemi Smallpox (Cacar)

Pada abad ke-18, Inggris mengalami wabah penyakit cacar atau yang dikenal juga sebagai variola mayor. Selama berabad-abad, penyakit ini menjadi yang paling menakutkan di dunia. Diperkirakan saat itu 30 persen orang yang terinfeksi akan berujung pada kematian. Pada abad ke-20 saja, cacar telah mengakibatkan kematian setidaknya pada 300 juta orang. Mayoritas korbannya adalah anak-anak.

Seorang dokter berkebangsaan Inggris yang bernama Edward Jenner mengamati suatu peristiwa ”sederhana”, namun pada akhirnya mengukirkan namanya sebagai pionir dalam bidang vaksinasi. Dia meneliti seorang pemerah susu yang tertular infeksi cowpox yang berasal dari sapi peliharaannya ternyata kebal terhadap infeksi smallpox. Cowpox pada umumnya hanya menimbulkan gejala ringan pada manusia. Namun, kekebalan/imunitas pasca terinfeksi virus tersebut dapat memberikan perlindungan terhadap penularan smallpox.

Virus cowpox memang tidak sama dengan smallpox, namun dapat memberikan imunitas silang. Kelak pengamatan dan eksperimen yang dilakukan Jenner menjadi konsep dasar vaksinasi yang diterapkan hingga saat ini. Diperlukan hingga waktu sekitar 200 tahun untuk melenyapkan penyakit ini dari muka bumi. WHO telah mendeklarasikan dunia bebas dari cacar pada 1980. Semuanya berkat vaksinasi yang efektif.

Pelajaran berharga dari wabah flu Spanyol dan cacar tersebut menjadi pijakan ilmiah dan harapan mengakhiri pandemi Covid-19. Terbentuknya herd immunity merupakan jalur yang harus ditempuh, baik secara alamiah melalui penularan maupun melalui vaksinasi. Keduanya berperan membangun imunitas yang mampu melindungi seseorang dari paparan mikroba berbahaya yang bisa mematikan. Semoga Omicron sebagai pertanda akan berakhirnya pandemi. (*)


*) ARI BASKORO, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: