alexametrics

Kolaborasi, Syarat Kepala Daerah Ideal

Oleh: Putu Gde Ariastita *)
17 September 2019, 18:48:41 WIB

SAAT pesawat akan landing di Bandara Juanda, pramugari biasanya memberikan pengumuman, ”Sesaat lagi kita segera mendarat di Bandara Juanda Surabaya di Sidoarjo…” Kalau dipikir-pikir, pernyataan tersebut cukup menggelikan. Mengapa tidak disebutkan saja Bandara Juanda di Sidoarjo (tanpa kata Surabaya). Faktanya, bandara itu memang berada di Kabupaten Sidoarjo. Namun, siapa pun tidak menyangkal, keberadaannya karena pengaruh Kota Surabaya. Fenomena semacam itu relatif sering terjadi di wilayah lain. Namun, yang menarik, apa kaitan fenomena tersebut dengan pemerintahan daerah?

Tahun depan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak dilaksanakan. Di antaranya akan dilangsungkan di Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Gresik, dan daerah lain di Jawa Timur. Para calon wali kota dan bupati berancang-ancang mempersiapkan diri. Tokoh-tokoh baru dan potensial mulai terlihat. Persaingan semakin seru karena incumbent umumnya tidak bisa ikut serta lagi. Sebab, rata-rata telah melalui dua periode jabatan. Memang saatnya orang baru yang muncul. Cara berpikir baru memang dibutuhkan agar perkembangan daerah menjadi lebih dinamis. Lalu, figur seperti apa yang dibutuhkan masyarakat?

Masalah tanpa Batas

Sebelum itu, mari kita lihat capaian beberapa daerah selama periode incumbent. Surabaya menjelma sebagai kota yang bersih, indah, produktif, dan memiliki sederet prestasi lain di bawah komando Bu Tri Rismaharini. Bersama Pak Saiful Ilah, Kabupaten Sidoarjo juga mengukir sederet prestasi di bidang layanan publik. Bahkan, di ujung timur Pulau Jawa, Kabupaten Banyuwangi, bersinar sebagai destinasi wisata baru di Indonesia. Dari daerah miskin, Banyuwangi menjelma sebagai salah satu kabupaten yang memiliki kinerja ekonomi terbaik di Jawa Timur. Tentu saja di bawah pengelolaan Pak Azwar Anas.

Sederet prestasi para petahana tentu saja perlu kita apresiasi, bahkan menjadi inspirasi bagi calon suksesornya. Akan tetapi, apakah keberhasilan dan kesuksesan di daerah-daerah tersebut berdampak secara regional, bahkan nasional? Atau dengan kata lain, apakah hal itu adalah keberhasilan yang bersifat parsial-parsial semata?

Bila memperhatikan beberapa kasus, terdapat fenomena yang menarik. Sebagai contoh, saat Kota Surabaya mengembangkan Suroboyo Bus, bahkan trem dan monorel, terlihat tidak terintegrasi dengan angkutan masal yang dikembangkan oleh Sidoarjo dan Gresik. Padahal, mobilitas ulang-alik masyarakat dari Sidoarjo dan Gresik ke Surabaya dan sebaliknya sangat tinggi. Bahkan, untuk kemacetan parah yang rutin terjadi di jalur regional Surabaya–Sidoarjo dan Surabaya–Gresik, faktor penyebab utamanya adalah mobilitas yang tinggi itu.

Fakta lain terjadi di Banyuwangi dan Jember. Dua daerah yang bertetangga itu membangun bandara untuk memacu pertumbuhan ekonomi wilayah mereka. Tidak disadari, keberadaan bandara tersebut mengubah simpul-simpul kegiatan dalam struktur ruang yang telah ditetapkan pada rencana tata ruang wilayah (RTRW) Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Jember ditetapkan sebagai pusat kegiatan wilayah (PKW) yang melayani kabupaten sekitarnya, termasuk Banyuwangi. Pola itu menjadi tidak berjalan karena Banyuwangi dengan bandaranya memiliki simpul pelayanan sendiri.

Dua kasus itu memang belum bisa mewakili keseluruhan. Namun, kondisi serupa juga terjadi di daerah lain. Dalam hal ini, penulis melihat para kepala daerah sangat fokus pada wilayah masing-masing, tapi terkadang kurang bersinergi dengan wilayah sekitar, bahkan dengan kebijakan di level provinsi dan nasional. Padahal, permasalahan yang dihadapi kabupaten/kota sering kali melewati batas wilayah administrasinya.

Dalam kasus sebelumnya, permasalahan kemacetan di Surabaya ternyata lebih dominan disebabkan mobilitas yang tinggi antara Surabaya dan Sidoarjo. Bahkan, dalam kasus yang berbeda, penanganan banjir di Jakarta tidak bisa diselesaikan di Jakarta saja, tetapi juga harus menyelesaikan persoalan lingkungan di Bogor.

Bila diperhatikan lagi kasus-kasus tersebut, ternyata pengelolaan daerah sangat bergantung jiwa leadership kepala daerah. Kondisi itu diperkuat dengan desentralisasi. Leadership yang kuat dan dukungan desentralisasi membuat kepala daerah lebih leluasa dalam mengelola daerahnya. Sehingga kisah-kisah sukses pengelolaan daerah bermunculan di mana-mana. Hanya, sayangnya, dua kekuatan itu melihat dari sudut pandang teritorial wilayahnya saja. Perspektif regional bahkan nasional kurang diperhatikan. Padahal, permasalahan pembangunan daerah bersifat kontinu dan tidak memandang batas wilayah administrasi lagi.

Era Kolaborasi

Inspirasi bisa kita lihat di Bali. Kabupaten Badung adalah daerah terkaya di provinsi itu. Pendapatan Kabupaten Badung bersumber dari hotel, restoran, dan akomodasi wisata lainnya yang memang berkumpul di daerah itu. Kabupaten tersebut memberikan bantuan keuangan kepada kabupaten lain di Bali. Sebab, mereka menyadari bahwa dukungan kabupaten lain dalam mengelola lingkungan dan objek wisatanya akan memengaruhi lama tinggal wisatawan di Badung. Dengan demikian, prinsip kolaborasi antarkabupaten menjadi penting untuk dilakukan.

Saat ini sudah bukan zamannya lagi berkompetisi untuk saling mengalahkan. Saatnya memasuki era kolaborasi. Mengambil analogi pada bisnis start-up, prinsip utamanya adalah sharing sumber daya alias kolaborasi. Karena itu, bisnis tersebut mulai mengalahkan dan merusak tatanan bisnis kovensional yang lebih menekankan jiwa kompetitif. Apalagi bila dilihat dalam konteks pengelolaan daerah, di mana kunci permasalahan dan potensi untuk pengembangan daerah justru sering kali berada di luar wilayah teritorialnya.

Kembali ke pesawat yang akan landing di Bandara Juanda. Pengumuman yang disampaikan oleh pramugari memang menyiratkan kontinuitas permasalahan dalam pengelolaan wilayah. Karena itu, penyelesaiannya tidak bisa parsial, melainkan harus kolaboratif. Maka, untuk sosok pemimpin daerah ke depan, diperlukan figur yang memiliki helicopter view yang tidak terkotak pada wilayahnya sendiri. Nilai-nilai kerja sama dan kolaborasi menjadi hal yang penting bagi pemimpin daerah di masa mendatang(*)


*) Putu Gde Ariastita, Dosen Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota ITS, Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads