alexametrics

Refleksi Hari Buku Nasional: Buku vs Internet

Oleh TOTO TIS SUPARTO *)
17 Mei 2021, 19:48:32 WIB

AKU rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas,’’ kata Bung Hatta ketika akan diasingkan ke Boven Digoel di Papua. Maka, dia minta kepada pemerintah Hindia Belanda bisa membawa koleksi bukunya.

Akhirnya Bung Hatta diizinkan membawa buku-buku itu. Tetapi, membawanya ke Papua, di tahun 1935, bukanlah soal mudah. Sebab, buku yang dibawa bukan puluhan judul, tetapi 16 peti besi yang totalnya empat meter kubik. Pengepakannya saja butuh tiga hari. Berhari-hari pula untuk sampai ke Papua dari Batavia via kapal.

Pada 28 Januari 1935, Bung Hatta sampai di Tanah Merah (sekarang ibu kota Boven Digoel). Repot juga membawa 16 peti buku itu dari pelabuhan ke tempat pengasingan. Untung ada orang Kaya-Kaya. Mereka menggotong peti itu. Mereka diberi ongkos satu uang kelip untuk tiap-tiap petinya. Waktu itu nilai uang kelip 5 sen. Bentuknya bundar dan berlubang di tengahnya. Berkat bantuan orang Kaya-Kaya itu, Bung Hatta bebas mengisi hari-hari pengasingannya di Boven Digoel dengan membaca buku.

Tapi, itu dulu. Sekarang? ’’Aku rela dirawat di rumah sakit, asal internetnya lancar,’’ kata teman saya ketika dia harus dirawat di rumah sakit sebelum pandemi. Ya, internet…, bukan buku.

Buku dan internet ini menjadi perenungan saat memperingati Hari Buku Nasional (Harbuknas) saban tanggal 17 Mei. Tujuan peringatan Harbuknas antara lain untuk memacu minat baca masyarakat Indonesia sekaligus menaikkan penjualan buku. Namun, tujuan memacu minat baca buku memperoleh tantangan dari kemudahan internet. Pasalnya, aktivitas berinternet menenggelamkan minat baca buku tersebut. Banyak yang berpikiran demikian: daripada baca buku, mending berinternet.

Bayangkan, awal tahun 2021 ini, pengguna internet di negeri kita sudah mencapai 202,6 juta jiwa. Bandingkan dengan jumlah penduduk 274,9 juta jiwa. Ini artinya, penetrasi internet di Indonesia pada awal 2021 mencapai 73,7 persen. Angka itu dimuat dalam laporan yang dirilis HootSuite dan agensi pemasaran media sosial We Are Social dalam laporan bertajuk ”Digital 2021”.

Masih di laporan yang sama, pengguna internet di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu selama 8 jam 52 menit untuk berselancar di internet. Aktivitas yang paling digemari adalah bermedia sosial. Saat ini, ada 170 juta jiwa orang Indonesia yang merupakan pengguna aktif media sosial. Rata-rata dari mereka menghabiskan waktu 3 jam 14 menit di platform jejaring sosial.

Sungguh, internet merupakan tantangan berat ketika minat baca kita sangat rendah. UNESCO menyebutkan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rajin membaca! Fakta inilah yang menempatkan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).

Minat baca adalah ketertarikan yang mendorong individu untuk melakukan kegiatan, memperhatikan, merasa menikmati, dan senang terhadap aktivitas membaca sehingga individu tersebut melakukan aktivitas membaca dengan kemauan sendiri.

Fakta lain adalah pandemi membuat penjualan buku tersendat. Mengutip ikapi.org, sebanyak 58,2 persen penerbit mengalami penurunan penjualan melebihi 50 persen dari biasanya. Kemudian 29,6 persen penerbit mengalami penurunan penjualan 31–50 persen; sebanyak 8,2 persen penerbit turun 10 persen sampai 30 persen; dan hanya 4,1 persen penerbit dengan kondisi penjualan relatif sama dengan hari-hari biasa.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads