alexametrics

PR Berikutnya: Menurunkan Kurs Dolar

Oleh AGUS PAMBAGYO, Pengamat Kebijakan Publik
17 Mei 2019, 16:03:13 WIB

JawaPos.com – Penurunan tarif batas atas (TBA) oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memang tidak menyalahi aturan. Mereka memiliki kewenangan untuk menentukan hal tersebut. Namun, saya khawatir jika tarif itu terus ditekan pemerintah.

Masa mudik termasuk peak season. Banyak orang melakukan perjalanan. Itulah saat maskapai mengambil untung untuk menutup kerugian di bulan sebelumnya. Lalu, ketika semua naik, kenapa tarif pesawat harus diturunkan?

Setelah menurunkan TBA, tidak berarti pekerjaan rumah (PR) pemerintah selesai. Pemerintah harus menurunkan kurs dolar AS agar membantu maskapai tetap hidup. Kenapa demikian? Sebab, seluruh pembiayaan pesawat dibayarkan dengan dolar.

Pesawat terus menua. Untuk itu, perlu dilakukan pengecekan. Mungkin juga ganti onderdil. Semua dibayar dengan dolar. Begitu juga pelatihan untuk kru dan pilot yang pembayarannya dilakukan dengan dolar.

Setelah TBA turun, pemerintah harus menurunkan kurs dolar. Idealnya, 1 dolar AS berada di harga Rp 12.000. Sayang, kurs dolar masih bertengger di angka Rp 14.000-an.

Lalu, bagaimana dengan harga avtur? Avtur tidak disubsidi negara. Pertamina telah menurunkan harga avtur. Sekarang ini harga avtur di Jakarta lebih murah daripada di Singapura. Namun, avtur tidak satu harga. Antara satu wilayah di Indonesia dan wilayah lainnya, harganya beda.

Untuk menurunkan tarif bandara, juga harus ada negosiasi dengan Angkasa Pura I dan II. Mereka selama ini mendapat pemasukan dari parkir dan layanan bandara lain. Apakah mau?

Penurunan TBA itu sebenarnya harus dikoordinasikan juga dengan kementerian atau lembaga lain. Kemenhub hanya bisa menentukan patokan TBA dan tarif batas bawah (TBB). Selanjutnya, mereka mengawasi maskapai agar mematuhi hal itu. Tidak lupa, Kemenhub juga harus memastikan keselamatan transportasi udara.

Semoga diturunkannya TBA ini tidak mengurangi angka keselamatan penerbangan. Jangan sampai dengan harga yang terlalu murah, akhirnya pesawat kita di-banned Uni Eropa seperti 2007 silam. Waktu itu pesawat kita dilarang terbang ke Uni Eropa lantaran dianggap mengabaikan aspek keselamatan.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (*/Disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Ferlynda Putri/c10/ttg)



Close Ads