alexametrics

Tidak Ada Kemajuan tanpa Kompetisi

Oleh Arief Budiman, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU)
17 April 2019, 14:47:24 WIB

JawaPos.com – Pemilu serentak 2019 berimplikasi terhadap seluruh pemangku kepentingan yang terlibat dalam penyelenggaraannya. Baik KPU dan jajarannya, Bawaslu dan jajarannya, peserta pemilu, dan tentu saja para pemilih.

Untuk kali pertama, kita akan memilih pemimpin di lima level kepemimpinan sekaligus di Indonesia.

Bagi KPU, implikasinya adalah keharusan menyelesaikan lima pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Yakni, pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPD RI, DPRD provinsi, serta DPRD kabupaten/kota. Tantangannya sangat berat. Pekerjaan yang menumpuk dalam satu waktu membutuhkan bukan hanya kekuatan fisik, tetapi juga ketahanan mental.

Walaupun fisiknya kuat, kalau tidak tahan tekanan mental, akan mudah terguncang dan berpotensi melakukan kesalahan. Maka, kami selalu berhati-hati dalam melakukan perekrutan sampai ke tingkat bawah. Memilih mereka yang memenuhi syarat dan kebutuhan untuk Pemilu 2019. Tantangan lain yang berat, di sejumlah daerah jadwal perekrutan berimpitan dengan pemungutan suara.Ditambah lagi tantangan kondisi geografis.

Bagi peserta pemilu, tantangannya juga tidak mudah. Tantangan utamanya adalah keserentakan dengan pemilu presiden dan wakil presiden. Partai politik harus berjuang keras karena pilpres sudah menjadi magnet yang kuat bagi publik. Partai politik harus mampu menampilkan kandidat-kandidat terbaik dan menunjukkan kinerja partai yang baik pula. Begitu pula untuk para calon anggota DPD.

Tingkat partisipasi politik tidak sepenuhnya dipengaruhi sosialisasi yang dilakukan oleh KPU. Sebetulnya, yang lebih berpengaruh adalah kinerja para peserta pemilu. Profil capres dan cawapres yang diusung, kinerja partai lima tahun belakangan, dan profil para kandidat anggota legislatif yang dibawa dalam pemilu kali ini.

Berbeda lagi tantangan bagi pemilih. Hari ini para pemilih dihadapkan pada lima surat suara. Tantangan terbesarnya, dia harus mampu dalam satu waktu memilih siapa wakilnya di lima lembaga perwakilan. Tantangan itu akan bertambah bila di lapangan ada problem teknis. Misalnya, antrean yang menjadi lebih panjang.

Memilih memang tidak mudah. Pemilih harus mengidentifikasi siapa calon wakilnya di DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi, DPD RI, DPR RI, dan presiden serta wakil presidennya.

Selain tiga stakeholder itu, ada pendukung lain yang punya fungsi sangat vital. Yakni, petugas keamanan. Mereka akan bertugas lebih dari 24 jam untuk mengamankan pemilu. Bisa jadi, pengamanan dilakukan sejak satu hari sebelum hingga satu hari setelah pencoblosan. Tanpa jeda.

Kemudian, faktor lain adalah pemerintah. Tugas pemerintah dan pemerintah daerah adalah memfasilitasi penyelenggaraan pemilu. Mereka harus memikirkan betul kebutuhan anggaran pemilu. Tidak hanya menyediakan secara cukup, tapi juga harus cair tepat waktu. Tanpa dukungan anggaran, kerja pemilu akan berat. Biaya yang dikeluarkan pasti besar karena jumlah pemilih kita banyak. Juga, jumlah tempat pemungutan suara yang banyak berimplikasi pada besarnya pengeluaran untuk membayar honor petugas penyelenggara ad hoc.

Pemilu juga berhubungan erat dengan kepercayaan publik. KPU harus mampu menjaga dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap proses pemilu. Maka, KPU menerapkan sistem kerja dengan prinsip keterbukaan, integritas, profesional, dan kualitas.

KPU melibatkan publik di semua tahapan. Mulai penyusunan regulasi, pembukaan akses data pemilih dan peserta pemilu, hingga proses produksi logistik. Termasuk, penetapan jadwal kampanye yang dilakukan secara adil dan terbuka. Setelah pemilu nanti juga ada Situng. Walaupun bukan hasil resmi, fungsinya besar dalam publikasi hasil pemilu. Sekaligus menjadi kontrol di internal KPU.

Transparansi itu pada akhirnya merangsang partisipasi publik. Namun, transparansi saja tidak cukup. Integritas juga penting. Prinsipnya, yang benar katakan benar. Kalau salah, katakan salah. Tidak usah kompromi. Tidak usah berdebat panjang. Demikian pula kualitas. Meskipun transparan dan berintegritas, kalau SDM-nya tidak berkualitas, orang juga tidak akan percaya pada penyelenggaraan pemilu.

Pekerjaan pemilu juga penuh dinamika. Berdasar pengalaman penyelenggaraan pemilu sebelumnya, sejak awal saya memprediksi hoaks dan fitnah akan terus bermunculan sampai tahapan pemilu berakhir. Kami tidak ingin lebay, sedikit-sedikit lapor. Kami pilah dan hanya menindaklanjuti secara hukum yang dampaknya besar bagi penyelenggaraan pemilu. Misalnya, hoaks tujuh kontainer surat suara tercoblos.

Hari ini adalah puncak dari segala pekerjaan kita semua. Penyelenggara pemilu, peserta, pemilih, dan lainnya. Tanggal 17 April sudah disepakati menjadi hari yang menentukan untuk memilih para pemimpin kita. Mulai level paling bawah sampai paling atas. Mulai DPRD kabupaten/kota dan provinsi, DPD, DPR, hingga presiden dan wakil presiden.

Kalau kita tidak menggunakan hak pilih, akan sangat berisiko. Sangat mungkin yang terpilih adalah orang-orang yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Maka, menjadi penting untuk menggunakan hak pilih demi memilih yang terbaik.

Saya selalu mengingatkan, sebaiknya Anda memilih di tempat di mana Anda terdaftar. Sebab, dengan begitu, Anda menggunakan hak konstitusional secara utuh untuk lima surat suara. Tapi, kalau Anda berpindah tempat, Anda hanya akan mendapat sebagian dari hak konstitusional itu. Artinya, Anda merelakan sebagian pemimpin kita ditentukan oleh orang lain, yang belum tentu pikiran, kemauan, dan cita-citanya sama dengan yang Anda inginkan.

Terakhir, bagi saya, tidak ada kemajuan tanpa kompetisi. Tidak mungkin kita menghindari sebuah kompetisi karena kemajuan itu bisa dipercepat melalui kompetisi. Kompetisi pemilu ini jangan dianggap sebagai perang hidup mati. Pemilu harus dipandang sebagai cara untuk membuat kemajuan. Siapa pun yang terpilih harus bersama-sama mendorong agar kemajuan itu bisa dicapai.

Pemilu di Indonesia sudah dirancang baik untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin yang baik. Pemilu ini harus menjadi sebuah festival. Di dalam sebuah festival, tidak ada yang buruk. Tidak ada yang kalah. Semua menjadi pemenang dan semua menjadi baik di bidang masing-masing. (*)

Editor : Ilham Safutra

Alur Cerita Berita

Lihat Semua