alexametrics

Christchurch, Toleransi, dan Wisata Halal

Oleh BAYU ARIE FIANTO*
17 Maret 2019, 11:40:40 WIB

JawaPos.com – Ke Masjid Al Noor. Ya, ke sanalah saya biasanya membawa para turis yang berkunjung ke Christchurch. Sebab, di masjid itulah beragam aktivitas keislaman warga muslim di Christchurch, Selandia Baru, dilaksanakan. Mulai kajian rutin, pendidikan Alquran untuk anak-anak, sampai bazar.

Waktu itu, 2013-2017, sembari menyelesaikan pendidikan S-3 di Lincoln University, Christchurch, saya memang bekerja sebagai pemandu tur bagi biro wisata halal. Selain berkunjung, kami -saya dan para turis- tentu juga menyempatkan beribadah di masjid tersebut.

Setelah dari Masjid Al Noor, baru dilanjutkan kunjungan ke destinasi alam yang memang jadi andalan Christchurch dan Selandia Baru. Sungguh kenangan yang indah dan menyenangkan.

Sampai kemudian, terjadilah tragedi memilukan itu. Serangan teroris ke Masjid Al Noor dan Masjid Linwood. Ketika ibadah salat Jumat tengah dihelat di sana (15/3).

Bagaimana ini bisa terjadi di kota setoleran dan sedamai Christchurch? Selama empat tahun bermukim di sana, saya dan keluarga tak pernah sekali pun mengalami masalah rasisme. Kebebasan beragama dan beribadah diakui. Masyarakat Christchurch dan Selandia Baru sangat ramah dan bersahabat. Mereka memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap penganut agama lain.

Di mana pun kami berada, baik itu taman, pusat perbelanjaan, museum, maupun tempat-tempat wisata, kami selalu merasa aman dan nyaman. Suasana seperti itulah yang turut membantu kelancaran saya menyelesaikan disertasi dengan mengangkat tema ekonomi Islam.

Masjid Al Noor selalu ramai, terutama saat Ramadan dan ketika perayaan hari besar umat Islam. Beberapa kali pula masjid itu dijadikan sebagai tempat syuting acara religi Indonesia.

Sedangkan Masjid Linwood merupakan masjid baru dan berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan Masjid Al Noor. Karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan perkantoran, sebagian umat Islam memilih melaksanakan salat Jumat di sana.

Masjid Al Noor terletak di pusat kota. Masjid itu diperkirakan mampu menampung sekitar 200 jamaah. Al Noor memiliki beberapa pintu keluar serta ruang yang bersekat.

Satu ruang yang cukup luas difungsikan sebagai ruang salat utama. Kondisi masjid yang seperti itu pulalah yang memberikan peluang bagi para korban untuk menyelamatkan diri dari serangan tembakan brutal tersebut. Ketika suara tembakan pertama terdengar, beberapa jamaah sempat berlari keluar melalui pintu keluar yang lain untuk menyelamatkan diri.

Tragedi Jumat kelabu itu mengakibatkan 49 orang meninggal dunia serta puluhan orang terluka. Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengecam keras aksi itu dan menyatakan sebagai tindakan teroris. Jacinda juga menunjukkan rasa empati yang mendalam terhadap para korban dan seluruh masyarakat muslim di negeri yang dia pimpin.

Tragedi tersebut sungguh menggemparkan dunia. Bagaimana tidak, Selandia Baru selama ini dikenal sebagai salah satu negara teraman di dunia dengan tingkat kriminalitas yang sangat rendah, penduduk lokalnya ramah dan toleran.

Merujuk ke website SafeAround, Selandia Baru bertengger di posisi ketiga sebagai negara teraman di dunia dengan skor 90.9. Tepat di bawah Islandia dan Denmark yang menempati posisi pertama dan kedua secara berurutan.

Tidak dapat dimungkiri pula kejadian tragis tersebut pasti memukul sektor pariwisata Christchurch yang berlokasi di pulau selatan negara itu. Bandara ditutup, biro travel dan calon turis menunda kedatangan serta ada kemungkinan akan terjadi arus keluar masyarakat Christchurch yang trauma akan kejadian itu.

Secara umum, kejadian tersebut tentu saja akan berimbas pada perekonomian Selandia Baru, khususnya sektor pariwisata yang selama ini menjadi andalan utama. Mengutip Tourism New Zealand, 1 di antara 7 warga di negara tersebut bekerja di sektor pariwisata. Selain itu, sektor tersebut menyumbang sekitar 17,9 persen terhadap GDP (gross domestic bruto/produk domestik bruto) atau setara dengan NZD$ 47,5 billion pada 2017 menurut World Travel and Tourism Council.

Mengutip Razaq, Serrin et al. dalam jurnal Tourism Management Perspectives tahun 2016, Selandia Baru saat ini secara masif mempromosikan diri sebagai tujuan wisata yang ramah bagi muslim. Itu dilakukan melalui penyediaan makanan dan akomodasi halal maupun mempromosikan socio-cultural-nya yang baik yang tentu menjadi daya tarik bagi umat Islam di seluruh dunia agar datang.

Jumat kelabu tentu saja akan berpotensi pada menurunnya jumlah wisatawan muslim, khususnya di Christchurch. Meski jumlah wisatawan muslim di Selandia Baru belumlah signifikan, dengan adanya peristiwa itu, pemerintah setempat harus berusaha lagi dari awal. Meyakinkan dunia bahwa negaranya masih salah satu tempat teraman dan ramah terhadap masyarakat muslim di dunia.

Tapi, bagaimanapun, respons cepat dalam penanganan teror tersebut patut kita apresiasi. Itu menunjukkan bahwa pemerintah Selandia Baru serius dalam antisipasi teror. Baik yang terjadi pada muslim maupun nonmuslim. (*)

*) Dosen Departemen Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unair; alumnus Lincoln University, Christchurch

Editor : Ilham Safutra

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads
Christchurch, Toleransi, dan Wisata Halal