alexametrics

Menyoal Tudingan Radikal kepada Din Syamsuddin

Oleh SLAMET MULIONO REDJOSARI *)
17 Februari 2021, 19:48:31 WIB

MENARIK pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas yang berharap agar semua pihak mendudukkan persoalan secara proporsional sehingga tidak mudah melabeli Pak Din sebagai radikal. Sebab, penyematan negatif tanpa dukungan data dan fakta yang memadai berpotensi merugikan pihak lain (Jawa Pos, 14/2/2021).

Pernyataan ini menanggapi laporan Gerakan Antiradikalisme (GAR) Alumni ITB yang menuding bahwa Din Syamsuddin sebagai orang radikal. Apa yang dilakukan GAR ini tidak hanya salah alamat dan menciptakan kegaduhan. Tetapi juga mencederai dan mengoyak dunia kampus.

Din Syamsuddin merupakan seorang aparatur sipil negara (ASN) fungsional akademis yang berada di luar struktur pemerintahan. Sebagai ASN di luar struktur pemerintah, dia memberikan pandangan lain sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Pandangan Din yang kritis bisa dikatakan sebagai representasi dunia kampus yang bersikap objektif. Daya kritisnya untuk membangun negara, bukan untuk menghancurkan tatanan atau ideologi negara.

Sosok Aktivis Perdamaian

Kritik Din Syamsuddin yang begitu tajam kepada pemerintah menjadi salah satu pemicu GAR Alumni ITB melaporkannya ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) dan Badan Kepegawaian Negara (BKN). Din Syamsuddin dinilai melanggar sejumlah prinsip kepegawaian serta melakukan enam pelanggaran.

Pertama, konfrontatif terhadap lembaga negara dan keputusannya. Kedua, mendiskreditkan pemerintah dan menstimulasi perlawanan terhadap pemerintah yang berisiko terjadinya disintegrasi negara. Ketiga, melakukan framing menyesatkan pemahaman masyarakat dan mencederai kredibilitas pemerintah. Keempat, menjadi pimpinan kelompok beroposisi pemerintah. Kelima, menyebarkan kebohongan, melontarkan fitnah, serta mengagitasi publik agar bergerak melakukan perlawanan terhadap pemerintah. Keenam, mengajarkan fitnah dan mengeksploitasi sentimen agama.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads