alexametrics

Intonasi hingga Ekspresi Wajah Bisa Menentukan

Oleh ERWIN PARENGKUAN*
17 Januari 2019, 14:51:50 WIB

JawaPos.com – Gaya komunikasi sudah mengalami perubahan, tidak lagi seperti zaman dulu. Kalau dulu lebih otoriter, sekarang lebih egaliter.

Kalau dulu lebih individual, sekarang lebih kolaboratif. Pada hakikatnya, komunikasi adalah membangun hubungan. Dengan struktur yang benar, komunikasi dapat memengaruhi lawan bicara atau mengubah pola pikirnya sehingga menghasilkan tujuan yang ingin dicapai oleh komunikator.

Seorang komunikator harus bereskalasi agar ketertarikan lawan bicara terus naik. Terlebih kalau kita kaitkan dengan generasi saat ini, kalangan milenial itu banyak sekali jumlahnya. Attention spending atau rentang perhatiannya sangat pendek, hanya sekitar 8 detik. Ketika mendengarkan kata-kata lebih dari 8 detik yang membosankan, perhatian mereka beralih ke hal lain. Itu biasa disebut first impression. Apakah orang yang berbicara ini dapat dipercaya (reliable), hangat, menyenangkan, ataukah kaku, bahasa tubuhnya terbuka atau tertutup.

Ada beberapa komponen yang membentuk first impression. Dari aspek visual, yaitu, ekspresi wajah, gerak tangan, dan postur tubuh. Ekspresi wajah meliputi bagaimana arah pandang komunikator, senyuman. Kemudian, gerak tangan yang mempertajam makna. Serta, postur tubuh mencakup posisi berdiri. Nah, tiga aspek visual itu berpengaruh 60 persen.

Selanjutnya, komponen penampilan memegang 10 persen pengaruh. Penampilannya cenderung modern atau klasik. Apakah formal atau kekinian, misalnya. Itu adalah simbol-simbol yang melekat pada penampilan seseorang. Kemudian, auditori atau suara yang pengaruhnya sebesar 20 persen. Apakah high pitch, medium, low. Idealnya harus diatur, dimainkan, kapan rendah, sedang, tinggi. Orang memerlukan dinamika dalam auditori mereka. Pelan terus tidak ada ritmenya. Medium terus juga lempeng saja. Kalau intonasi high pitch, tinggi, tinggi, tinggi terus, seperti orasi. Sekali lagi, komunikasi itu membangun hubungan, bukan menghancurkan hubungan.

Kemampuan mengatur dinamika suara dan bahasa tubuh juga menunjukkan self-control yang baik. Artinya, cara-cara lama perlu ditinggalkan, kita perlu ubah pendekatannya supaya masuk ke semua generasi, terutama milenial yang perlu di-attract. Komponen berikutnya yang memegang 10 persen, tapi bisa mengubah pola pikir seseorang. Yaitu, kata-kata. Jika kata-kata yang disampaikan itu logis dan reliable (dapat dipercaya), akan lebih impresif dan berdampak.

Nah, dalam kaitannya dengan debat pilpres hari ini, semuanya itu yang terangkum dalam penampilan di depan publik bisa memengaruhi persepsi calon pemilih serta turut berpengaruh terhadap elektabilitas. Walau first impression belum tentu riil. Bisa juga sesuatu yang dibuat dengan sengaja. Atau memang begitu orangnya. Ada yang natural, ada yang dibuat. Tidak apa-apa, selama hal itu bisa dipertanggungjawabkan.

Menurut saya, di situlah perlunya memiliki konsultan komunikasi. Sebagaimana yang dilakukan semua presiden di AS dan banyak negara lainnya. Memerlukan expert sebagai penasihat, bagaimana strategi berpikir, termasuk komunikasi. Di zaman sekarang, kemampuan berkomunikasi adalah mandatory. The ultimate goal. Sebab, itu yang pertama dilihat. Ada visual, auditori, ada kata-kata.

Mantan Presiden AS Barack Obama adalah contoh standar baku di level global. Bahwa seperti itulah seharusnya sosok pemimpin. Obama tampil dengan figur yang bisa dibilang lengkap. Gaya komunikasinya tidak meledak-ledak, tenang, ada fun-nya juga. Hangat, sudah pasti. Sehingga kebanyakan orang bisa merasa connected dengan apa yang ditampilkan.

Dalam penampilan debat yang disiarkan langsung malam ini (17/1) oleh stasiun televisi, hindari gestur-gestur yang tertutup, posisi berdiri dan ekspresi wajah kaku, gerak tangan yang juga kaku, arah pandangan hanya ke satu titik, serta suara high pitch terus-menerus. Bahasa tubuh mesti terbuka, rileks, hangat. Ada senyuman. Karena kita sedang membangun hubungan. Mainkan gerak tangan secara fleksibel. Sebab, itu bisa mempertajam makna dari kata-kata yang disampaikan. Lalu, bisa juga dengan berjalan, tak hanya berdiri di satu titik, setiap orang punya cara dan gaya tersendiri.

Kalau boleh, saya bahas dari sisi penampilan kedua pasangan calon yang selama ini saya amati. Paslon nomor urut 01 Jokowi dan KH Ma’ruf Amin. Jokowi terbiasa dengan kemeja putih yang lengannya agak digulung, celana jins, sneakers, terasa dekat dengan kalangan milenial. Sampai X generation kelahiran 1970-an masih bisa menerima gaya yang open seperti itu. Tapi, mungkin untuk baby boomers, yang sekarang usianya 55-70-an tahun dan masih kolot, kurang bisa menerima. Dikombinasi dengan penampilan konservatif Ma’ruf Amin.

Kemudian, paslon nomor urut 02, Prabowo, dengan kemeja putih dan celana krem yang terkesan lebih formal dipadu dengan Sandiaga Ugo yang tampil stylish, muda, masuk ke generasi milenial. Penampilan merupakan bagian dari visual.

Selanjutnya, kata-kata yang disampaikan harus terstruktur dengan baik, didukung data yang reliable dan tuntas. Contoh bagaimana sebuah struktur disampaikan dengan tuntas. “Bakso yang dimakan tadi harganya Rp 30 ribu”. Bandingkan dengan yang hanya mengatakan, “Bakso itu mahal lho”. Orang yang diajak bicara akan bertanya, “Mahalnya berapa?” Dijawab, “Pokoknya mahal banget”. Tidak bisa seperti itu, harus didukung data yang reliable.

Debat hari ini tentu sangat penting sebagai first impression dan bisa mendongkrak elektabilitas. Juga, bisa memengaruhi pemikiran hingga menjadi call-to-action

*) Founder TALKinc, personal branding specialist, public speaking coach

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (disarikan dari wawancara dengan wartawan Jawa Pos Nora Sampurna/c10/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Intonasi hingga Ekspresi Wajah Bisa Menentukan