alexametrics

Alih Kelola Blok Rokan, Momentum Wujudkan Kemandirian Energi

Oleh: Budi Muliawan
16 September 2021, 00:02:32 WIB

9 Agustus 2021 menjadi hari bersejarah bagi Pertamina. Pada tanggal itu, dimulai proses alih kelola Blok Rokan dari Chevron Pacific Indonesia (CPI) kepada Pertamina Hulu Rokan (PHR), anak perusahaan Pertamina. Sejak tanggal itulah, Pertamina mengelola sepenuhnya atau 100 persen Blok Rokan yang merupakan kawasan penghasil minyak nomor dua terbesar di Indonesia. Dengan kata lain, pengelolaan Blok Rokan kini sepenuhnya dilakukan oleh perusahaan minyak nasional (Pertamina) dan putra putri bangsa Indonesia. Anak negeri kini mendapat kepercayaan untuk memimpin pengelolaan blok migas ini.

Alih kelola Blok Rokan di Riau bertepatan dengan bulan Agustus, momentum perayaan Kemerdekaan Indonesia. Karena itu, alih kelola Blok Rokan Riau bisa dikatakan sebagai sebuah kado istimewa buat bangsa Indonesia yang merayakan Hari Ulang Tahun ke-76 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pada 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan setelah perjuangan merebut kemerdekaan dari Belanda yang menjajah selama 350 tahun. Perumpamaan yang sama, pada tanggal 9 Agustus 2021, pengelolaan Blok Rokan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi setelah dikelola perusahaan asing selama 97 tahun.

Pengelolaan Blok Rokan Riau berpindah ke PT Pertamina Hulu Rokan setelah kontrak bagi hasil PT Chevron Pacific Indonesia berakhir pada 8 Agustus 2021. Pemerintah Indonesia memberikan hak kelola Blok Rokan yang habis masa kontraknya itu kepada PT Pertamina (Persero). Maka, mulai 9 Agustus 2021, hak kelola Blok Rokan sepenuhnya diserahkan kepada Pertamina melalui anak perusahaan PT Pertamina Hulu Rokan. Pertamina mengelola wilayah kerja minyak dan gas Rokan selama 20 tahun ke depan.

Blok Rokan Riau sendiri mempunyai sejarah panjang. Penemuan ladang minyak ini terjadi jauh sebelum kemerdekaan Indonesia atau sejak era kolonialisme Belanda. Adalah geolog asal Amerika, Walter Nygren, yang menemukan kandungan minyak Blok Rokan pada tahun 1939. Pertama kali Walter Nygren menemukan lapangan Minas. Ini menjadi tambang minyak pertama di Blok Rokan. Baru kemudian pada tahun 1941 ditemukan lagi lapangan minyak kedua di Duri. Ladang minyak ini baru berproduksi pada tahun 1958.

Lapangan Minas disebut-sebut sebagai lapangan minyak terbesar di Asia Tenggara. Pengeboran pertama dilakukan oleh Caltex yang kemudian berganti nama menjadi Chevron. Sejak mulai berproduksi pada tahun 1951 sampai tahun ini (2021), ladang minyak Rokan seluas 6.453 km2 telah menghasilkan 11,69 miliar barel minyak. Puncak produksi lapangan Minas terjadi pada tahun 1973 yang mencapai 440 ribu barel per hari. Di Blok Rokan terdapat 96 lapangan minyak. Dari semuanya, tiga lapangan minyak yang memiliki potensi besar, yaitu Duri, Minas, dan Bekasap.

Meskipun sudah miliaran minyak keluar dari bumi Blok Rokan, ladang minyak Blok Rokan diperkirakan masih memiliki cadangan minyak sekitar 1,5 miliar – 2 miliar barel. Artinya, ketika alih kelola dari Chevron ke Pertamina, potensi minyak bumi yang terkandung di Blok Rokan masih cukup besar. Sejak dulu, Blok Rokan memang menjadi ladang minyak terbesar. Karena itu, produksi minyak dari Blok Rokan masih bisa dioptimalisasi.

Editor : Dimas Ryandi

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads