Kejadian Fatal pada Atlet

Oleh ARI BASKORO *)
16 Juni 2021, 19:48:14 WIB

LUAR BIASA! Apresiasi itu pantas disematkan kepada tim Denmark saat berlaga pada Euro 2020. Walaupun akhirnya kalah 0-1 melawan Finlandia, tim Dinamit itu ”memenangkan” simpati dari masyarakat dunia. Bahkan, bisa dikatakan, tenaga medis yang ikut menyaksikan pertandingan itu harus ”angkat topi”.

Komentar singkat yang banyak diucapkan: mereka sangat terlatih! Terlatih dalam suatu pertandingan itu hal yang wajar karena mereka pemain sepak bola profesional. Namun, terlatih dalam situasi kedaruratan medis bagi seorang atlet, itu sesuatu yang patut dihargai. Sang kapten, Simon Kjaer, tampak begitu cekatan dalam situasi yang mencekam tersebut. Dia bisa membaca kondisi gawat dan segera bisa mengatur rekan-rekan timnya bertindak tepat. Syukurlah, Christian Eriksen, sang gelandang yang kolaps, bisa tertolong. Sekali lagi, kami tenaga medis sangat menaruh simpati atas kejadian tersebut.

Memori traumatis segera melayang pada kejadian tragis 15 Oktober 2017. Choirul Huda, penjaga gawang Persela Lamongan, harus meregang nyawa di lapangan hijau yang membesarkan namanya setelah mengalami benturan dengan rekan sesama timnya. Sayang sekali, semua pihak yang terkait di lapangan tampak gagap dalam situasi ”tak terduga” seperti itu. Kejadian tersebut membawa dampak traumatis bagi semua pemain.

Pertolongan pertama pada kedaruratan medis semestinya bukan hanya milik tenaga medis. Semua penggawa di lapangan, tidak terkecuali, harus selalu siap pada kondisi menegangkan tersebut. Sebab, kejadian serupa pernah dialami pemain-pemain Liga 1 lainnya. Sebut saja Hilton Moreira, penggawa Persipura Jayapura pada 2018. Lalu, Andri Muliadi saat memperkuat Persebaya Surabaya pada 2018. Patut disyukuri bahwa dua pemain tersebut selamat.

Yang terbaru, kejadian itu menimpa Markis Kido, peraih medali emas ganda putra bulu tangkis Olimpiade Beijing 2008. Atlet legendaris yang masih relatif muda tersebut (36 tahun) dikabarkan meninggal mendadak. Di lapangan juga! Belum ada keterangan resmi dari pihak yang berwenang tentang penyebab kematiannya. Hampir semua kejadian fatal dan bahkan bisa berakhir dengan kematian di arena latihan/pertandingan dikaitkan dengan masalah jantung. Benarkah demikian?

Kolaps Nontrauma

Ada beberapa kemungkinan yang bisa dialamatkan sebagai penyebab bila kejadiannya tanpa didahului suatu trauma (benturan, posisi jatuh yang tidak tepat, dan sebagainya). Betul sekali, penyebab paling umum kematian mendadak seperti ini adalah serangan jantung. Ada satu contoh penelitian yang pernah dimuat majalah kesehatan olahraga terkemuka di Amerika Serikat. Dari 136 kematian nontrauma pada atlet, 100 kematian disebabkan masalah jantung. Penyebab lainnya, yaitu 13 orang, terkait sengatan panas (heat stroke), 7 orang karena exertional rhabdomyolysis (ER) , 4 orang karena serangan asma, dan 3 orang sisanya akibat tersambar petir.

”Sengatan panas” bisa terjadi pada seorang atlet yang gagal mengendalikan homeostasis temperatur dalam tubuhnya. Suhu tubuh bisa mencapai lebih dari 40 derajat Celsius sehingga bisa mengakibatkan gangguan kerja saraf pusat, bahkan kematian. Faktor dehidrasi dan lingkungan sangat memengaruhi kejadian ini.

Sementara itu, ER adalah suatu bentuk kerusakan otot dari aktivitas fisik yang berat/berlebihan. Hal ini bisa terjadi akibat tingkat hidrasi yang kurang dan pada suhu serta kelembapan yang tinggi.

Pada atlet yang sebelumnya tampak sehat (terutama yang telah menjalani tes kesehatan secara paripurna), kematian mendadak menandakan adanya ”sesuatu yang salah” pada organ vital. Hal ini bisa disebabkan adanya penyakit yang muncul tanpa disadari. Kelainan arteri koroner (penyakit jantung koroner/PJK) menjadi penyebab utama kematian mendadak. Pembuluh darah koroner ini sangat vital bagi fisiologi kerja jantung karena bertugas menyuplai oksigen dan nutrisi bagi organ penting tersebut.

Alhasil, karena suplai yang tidak adekuat pada saat puncak aktivitas latihan/laga, fungsi jantung berpotensi terganggu. Dampak yang bisa terjadi adalah timbulnya henti jantung (cardiac arrest) atau timbulnya kekacauan irama jantung (arrhythmia). Pada kondisi demikian, tindakan cepat dan tepat dapat menghindarkan sang atlet dari akibat fatal, bahkan kematian. Sangat mungkin hal inilah yang terjadi pada Christian Eriksen. Pengenalan yang cepat disertai tindakan ”defibrilasi eksternal” bisa menyelamatkan jiwa sang gelandang.

Otot jantung juga bisa menjadi lebih tebal karena suatu kelainan (cardiomyopathy). Daya pompa jantung bisa terganggu karenanya. Kondisi demikian ini sering kali membawa dampak kematian mendadak pada atlet usia muda (pada umumnya kurang dari 30 tahun).

Kolaps nontrauma lainnya pada atlet dapat berupa stroke pendarahan akibat pecahnya pembuluh darah di otak. Walaupun jarang, penyumbatan pembuluh darah otak karena emboli bisa saja terjadi. Latar belakang kejadian ini amat bervariasi pada seorang atlet.

Kolaps Trauma

Trauma fisik pada seorang atlet adalah sesuatu yang lumrah terjadi. Pada olahraga tertentu, benturan bagian tubuh antaratlet tidak mungkin terhindarkan. Benturan pada kepala, leher, dan dada bisa menimbulkan akibat fatal bila trauma fisik tersebut tergolong berat. Atlet yang kehilangan kesadaran akibat benturan kepala-leher harus dicurigai mengalami cedera pada saraf penting yang terdapat di tulang belakang leher (cervical).

Gegar otak (concussion) bisa terjadi akibat benturan kepala. Penanganan darurat pada kondisi seperti ini memerlukan tenaga medis yang terlatih, namun sesama atlet sebaiknya segera bisa mengenalinya. Benturan pada daerah dada juga bisa menimbulkan commotio cordis yang berujung pada terjadinya gangguan irama jantung yang berakibat fatal.

Tidak semua kejadian pada atlet di lapangan bisa dideteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh dan reguler. Namun, siap siaga pada kondisi apa pun di lapangan merupakan kewajiban semua pihak terkait agar terhindar dari kejadian fatal pada atlet. (*)


*) Ari Baskoro, Staf dosen pada Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD dr Soetomo dan Prodi Magister Ilmu Kesehatan Olahraga Unair

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini: