alexametrics

Doktor Dagelan dan Politik Gila Gelar

Oleh ARDHIE RADITYA *)
16 Februari 2021, 19:48:14 WIB

UNTUK mendapatkan gelar doktor, setidaknya ada tiga jalan. Pertama, melalui jalan kesunyian. Jika jalan itu yang ditempuh, bekal dana saja tak cukup. Diperlukan juga kesabaran, ketekunan, pengetahuan, dan kasih sayang intelektual. Mereka ibaratnya pendekar dari gua hantu. Gelar doktor tak sebatas puncak pendidikan formalnya. Tapi juga pengayaan mata hati penyandangnya.

Para doktor yang menempuh jalur reguler itu bisa tergolong gila ilmu pengetahuan. Mari kita coba pilah secara umum gaya pembelajarannya. Pendidikan sarjana berorientasi pengetahuan umum, yakni mempelajari dasar keilmuan tertentu dan memahaminya. Itu sebabnya, mereka membutuhkan arahan pembimbing sebagai pegangan. Sebagian orang menyebutnya dengan istilah ”kaum rebahan” pendidikan.

Pendidikan master (magister) setingkat di atasnya. Pendidikannya bukan sekadar dasar keilmuan tertentu. Tapi juga bagaimana dasar keilmuan itu dibangun dan diterapkan. Pada fase ini, mereka butuh proses konstruksional. Pembimbing perlu mendorong kemandiriannya. Inilah fase transisi yang bisa terbilang lebih berat dari sarjana. Beragam tugas perkuliahannya menuntut gagasan relasional. Baik antarkonsep, teoretis, bidang kajian, maupun metodologis.

Berbeda halnya pada tingkat pendidikan doktoral. Pada level ini, kemandirian belajarnya sebagai panggilan hidup. Mereka tak hanya dituntut fasih dasar keilmuannya. Atau bangunan, penerapan, dan gagasan relasionalnya. Tapi juga mengevaluasi, mengkritisi, sekaligus mengkreasikan pemikiran baru. Posisi tim pembimbingnya sebagai penguji, pendamping, fasilitator, dan promotor.

Kandidat doktor maupun tim pembimbingnya sama-sama diuji. Inilah pertaruhan reputasi akademiknya. Sebab, tantangan terbesarnya bukan hanya disertasi dan promosi pemikiran baru bimbingannya. Tetapi juga kritik pada dirinya sendiri. Karena beratnya ujian hidup di sekolah doktoral ini, gelarnya kadang kala dipelesetkan dengan ”permanent head damage” (PhD).

Kedua, jalan pertukaran sosial. Tak sedikit orang yang menempuh studi doktoral bukan atas dasar cinta ilmu pengetahuan. Mereka yang pragmatis seperti ini biasanya punya banyak motif. Studi doktoral yang ditempuhnya, misalnya, berorientasi ekonomi dan sosial. Menurut teori pertukaran sosial Peter Blau (1964), biasanya pelakunya berburu tiga ekspektasi: mendongkrak status sosialnya, dihormati, dan menguasai orang lain.

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads