alexametrics

Menteri Penerangan

Oleh SAMSUDIN ADLAWI*
15 Desember 2019, 12:25:37 WIB

DALAM kabinet Gotong Royong yang dilantik Presiden Megawati Soekarnoputri pada 10 Agustus 2001, tidak ada lagi menteri penerangan.

Namanya diganti dengan menteri komunikasi dan informatika.

Tidak begitu jelas alasan penggantian nomenklatur itu. Bisa jadi ia dianggap sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Atau, alasannya lebih politis: ingin menghilangkan sama sekali jejak-jejak Orde Baru.

Sebelum berganti nama, seperti diketahui, sebutan menteri penerangan sudah eksis selama 54 tahun. Sejak 1945 sampai 1999.

Dalam kurun lebih dari setengah abad itu, 25 tokoh secara bergantian menjabat menteri penerangan. Mr. Amir Sjarifuddin tercatat sebagai menteri penerangan pertama pada 14 November 1945 dalam Kabinet Presidensial. Sedangkan Letnan Jenderal TNI (pur) Muhammad Yunus Yosfiah menjadi menteri penerangan terakhir. Dia menjabat mulai 23 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999 dalam Kabinet Reformasi Pembangunan.

Setelah itu, menteri penerangan hilang ditelan bumi. Bangsa Indonesia benar-benar sudah melupakannya. Kecuali masyarakat di Banyuwangi, Jawa Timur. Sebutan menteri penerangan tetap eksis di ujung paling timur Pulau Jawa itu. Meski dalam konteks yang berbeda, tapi punya tujuan yang sama. Sama-sama membuat sesuatu menjadi terang benderang.

Dulu Harmoko (menteri penerangan yang sangat populer dengan kalimat pembuka ”atas petunjuk Bapak Presiden”) setiap kali muncul di televisi, pemirsa langsung bisa menebak: pasti dia akan menjelaskan keputusan/kebijakan baru dan penting dari pemerintah yang diputuskan Presiden Soeharto.

”Menteri penerangan” Banyuwangi juga bertugas membuat suasana menjadi jelas. Terang benderang. Sebab, ”menteri penerangan” Banyuwangi punya tugas khusus. Yakni, menghalau dan menyingkirkan awan agar tidak turun menjadi hujan di satu tempat. Ya, ”menteri penerangan” adalah sebutan populer untuk pawang hujan di Bumi Blambangan.

Suatu ketika, dalam acara Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) saya keceplosan. Saat itu, melihat mendung begitu pekat menggantung di atas seputar lapangan Taman Blambangan –panggung utama BEC– beberapa tamu dari Jakarta merasa waswas. Apalagi, rintik gerimis mulai berguguran.

”Waduh bagaimana ini. Sebentar lagi hujan lebat pasti segera turun sangat deras. Lihat itu awan hitamnya. Sangat tebal,” gerutu sejumlah tamu sambil menunjuk ke awan hitam yang membentang di atas venue kehormatan BEC. Secara refleks saya menjawab: ”Tenang saja. Jangan khawatir, Pak. Menteri penerangan kami sedang bekerja.”

Tamu kehormatan itu tampak bingung. Mereka saling melempar pandang. Menganggap saya guyon. Tidak serius memberikan jawaban.

”Maaf, Mas. Anda kok menyebut-nyebut menteri penerangan. Semua orang tahu, sejak reformasi 1998 sudah tidak ada lagi menteri penerangan. Itu produk Orde Baru,” kata seorang di antara mereka bersungut-sungut.

Buru-buru saya memberikan klarifikasi. Menteri penerangan yang saya maksud tidak lain adalah tukang sarang alias pawang hujan.

Barulah mereka ngeh. Apalagi, tak lama setelah saya memberikan penjelasan, tiba-tiba angin berembus kencang, memindah awan hitam tebal yang menggelayut di atas kami ke tempat lain. ”Wah, sakti juga ’menteri penerangan’ Banyuwangi ya, Pak,” kata mereka kompak sambil melirik ke arah saya.

Di Banyuwangi, jumlah ”menteri penerangan” banyak. Hampir di setiap kecamatan (Banyuwangi memiliki 25 kecamatan) pasti ada ”menteri penerangan”-nya. Bahkan, dalam satu kecamatan ada yang memiliki lebih dari satu ”menteri penerangan”.

Orang Banyuwangi sudah lazim memakai jasa ”menteri penerangan” ketika sedang punya acara atau hajatan. Ketika menggelar resepsi khitan atau pernikahan sang anak, mereka tidak meninggalkan ”menteri penerangan”. Terutama kalau hajatan itu digelar saat musim hujan. Mereka tidak mau mengambil risiko, gara-gara hujan besar, tidak ada undangan yang datang ke acara hajatannya.

Bukan hanya masyarakat biasa yang memakai jasa ”menteri penerangan”. Pemerintah kabupaten juga punya langganan ”menteri penerangan” yang hebat-hebat. Dinas pariwisata dan budaya serta panitia induk Banyuwangi Festival punya daftar nama ”menteri penerangan”.

Mereka bertugas mengamankan setiap event Banyuwangi Festival dari hujan. Terutama event-event yang diselenggarakan pada bulan musim hujan seperti Oktober sampai Desember ini. Walhasil, ketika event sedang berlangsung, tidak ada air hujan yang jatuh. Begitu acara selesai, barulah air hujan seperti ditumpahkan dari langit.

Ketika musim hujan, ”menteri penerangan” Banyuwangi tidak pernah sepi job. Para pengelola proyek besar seperti hotel, perusahaan, dan konstruksi mengontrak mereka sampai proyeknya kelar. Mereka juga dikontrak berhari-hari untuk memindah hujan ketika ada kapal besar sedang sandar membongkar muatan.

Bahasa memang dinamis. Ia akan terus berkembang mengikuti kreativitas masyarakat penggunanya. Dengan kearifan lokalnya, masyarakat Banyuwangi telah melahirkan ”menteri penerangan” sebagai pemerkaya sebutan pawang hujan atau tukang sarang. Semoga pengelola Kamus Besar Bahasa Indonesia mau menerimanya. (*)

*) Wartawan Jawa Pos, penyair

Editor : Ilham Safutra


Close Ads