JawaPos Radar | Iklan Jitu

Max Havelaar dan Dosa Kolektif

Oleh Eka Kurniawan, Novelis

15 Desember 2018, 09:25:59 WIB
Max Havelaar dan Dosa Kolektif
Eka Kurniawan (Jawa Pos)
Share this

JawaPos.com - Kenapa novel seperti Max Havelaar begitu penting, terutama dalam konteks kolonialisme Belanda di Indonesia? Pertama, tentu karena novel itu memberi sejenis inspirasi kaum pribumi. Kedua, sebenarnya ini kekuatan terbesarnya: Ia juga memberi pengaruh besar bagi pembaca Belanda sendiri.

Setidaknya itulah yang saya sadari beberapa waktu lalu, ketika duduk satu meja dengan seorang Belanda. Dia lelaki berumur enam puluhan tahun. Mengaku pernah jadi diplomat, jadi penulis, bekerja sebagai bos penerbitan, dan pernah belajar kesusastraan Belanda.

"Terutama kesusastraan yang ada hubungannya dengan Hindia."

Saat itulah dia bicara tentang novel-novel kesukaannya. Dari novel karya Hella Haasse, De Stille Kracht karya Louis Couperus yang versi panggungnya selalu terjual habis dalam setiap pementasan di Amsterdam, dan berakhir dengan membicarakan Max Havelaar karya Multatuli. Dia menyebutnya sebagai karya terbesar kesusastraan Belanda.

Satu jilid novel itu bahkan selalu tersimpan di gedung parlemen, dan itu bukan tanpa arti sama sekali. Menurut dia, "Novel itu membuka kesadaran kami bahwa kami melakukan kesalahan di tanah kolonial."

Tentu tidak sekaligus, tapi bisa dibilang novel tersebut membuka kesadaran seperti keran air. Makin lama semakin membesar dan menguat.

Perbincangan tersebut kembali mengingatkan saya kepada sejenis keyakinan lama tentang karya yang hebat. Sebuah karya menjadi sangat berarti tak semata-mata karena ia membuka realitas, katakanlah memperlihatkan ketidakadilan, penindasan, kesewenang-wenangan. Banyak novel atau karya lain melakukan itu, termasuk Max Havelaar.

Ada kekuatan dahsyat lain yang terkandung di dalamnya. Apa? Menurut saya, kekuatan untuk membuka borok diri. Kekuatan yang membuat si pembaca sadar betapa brengsek dirinya, betapa jahat bangsanya. Sebuah refleksi diri bahwa untuk ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan itu, salah satu pelakunya adalah kita sendiri.

Itulah kehebatan novel itu, kata kawan saya. Kekuatan yang membuatnya jadi cermin. Kekuatan yang menerbitkan rasa malu tak terkira, tapi juga membuat banyak orang Belanda bersedia melewati perasaan tersebut. Tidak semua seperti itu, memang. Namun, para pembaca Max Havelaar atau De Stille Kracht yang tersadarkan juga tidak sedikit.

Lantas, apa arti kisah pertemuan saya dengan orang Belanda dan omong-omongan kami tentang kesusastraan Belanda di Hindia untuk Indonesia di masa sekarang?

Saya punya sedikit kenangan kecil bertahun lampau dengan sebuah buku. Judulnya Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma. Sampai hari ini saya masih menganggap buku itu sebagai kumpulan cerpen terbaik di Indonesia. Selain karena kisah-kisahnya, gaya menulisnya, terutama karena pengaruhnya (sastra maupun politik) terhadap saya pribadi.

Seperti banyak orang tahu, buku tersebut berisi cerita-cerita tentang pendudukan (militer) Indonesia di Timor Leste. Terutama selepas insiden Santa Cruz, Dili, 1991.

Jujur saja, sebelum membaca buku itu, saya tak tahu-menahu tentang Timor Timur (nama yang kita kenal waktu itu). Dan, menganggapnya sebagai provinsi bungsu (ke-25) yang sah. Timor Timur merupakan bagian dari Indonesia.

Namun, selepas membaca buku tersebut ketika masih mahasiswa, pikiran saya perlahan mulai berubah. Yang sangat mengganggu saya terutama bukan para klandestin yang disiksa, kepala manusia yang ditancapkan di pagar depan rumah, melainkan orang-orang yang melakukan penyiksaan itu.

Kenapa? Sebab, saya melihat wajah sendiri. Kita. Tentu kita tak melakukannya langsung. Namun, bagaimanapun, mereka mewakili kita: Indonesia.

Saya yakin banyak mahasiswa naif seperti saya terbuka matanya dengan buku tersebut, setidaknya di masa sebelum 1998. Tuntutan turunnya Soeharto berkelindan waktu itu dengan simpati dan dukungan untuk kemerdekaan Timor Leste. Saya rasa, penting bagi kita mengakui kebiadaban diri, didera rasa malu karena pengakuan itu, dan melewatinya.

Dengan mengingat pengalaman itu, saya bisa mengerti penjelasan kawan saya mengenai pengaruh Max Havelaar bagi pembaca Belanda di masa lalu. Bukan hanya itu, saya yakin ini bisa juga berlaku untuk dosa-dosa kolektif kita lainnya sebagai sebuah bangsa.

Bahkan, mungkin kita tak perlu menunggu ada buku dahsyat semacam buku-buku itu. Daya gugah tersebut bisa kita peroleh dari mana pun: film, berita, buku penelitian, atau lainnya. Yang terpenting adalah kehendak untuk membuka diri, kemudian mengakui kesalahan-kesalahan kolektif kita, bahkan meskipun kita tak terlibat secara langsung.

Maukah kita, misalnya, mengakui dosa-dosa kita sebagai bangsa atas penculikan dan penghilangan aktivis di masa reformasi, sebagaimana pembunuhan Munir juga dosa kita? Dan barangkali sama sulitnya dengan yang lain-lain bagi sebagian besar bangsa Indonesia, bersediakah mengakui dosa-dosa kita di Papua?

Dalam sejarah banyak negeri, pengakuan sebuah bangsa secara kolektif atas dosa-dosa mereka akan menjadi penggedor bagi langkah-langkah besar mereka di masa selanjutnya. Para elite politik sering kali merupakan orang terakhir yang memiliki rasa malu atas dosa-dosa mereka. Namun, sekumpulan warga biasa bisa bergerak lebih dulu untuk kemudian memaksa mereka. Mulailah membaca tentang reformasi, Munir, dan Papua sekarang juga. Itu akan mempermalukan kita, memang, seperti orang Belanda merasa malu saat membaca Max Havelaar. Tapi, kita harus melewatinya.

Editor           : Dhimas Ginanjar
Reporter      : (*)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini