G20 dan Perkara Global

Oleh AHMAD ERANI YUSTIKA*
15 November 2022, 11:26:13 WIB

PERHELATAN G20 kali ini tergolong tertata dengan serius dan rapi. Ratusan forum diskusi dan pertemuan lainnya telah digelar sejak awal tahun di berbagai lokasi di Indonesia (pertemuan tingkat menteri, working groups, dan engagement groups). Persiapan puncak KTT G20 yang digelar hari ini dipantau langsung oleh presiden.

Beberapa bulan terakhir, presiden hilir mudik ke Bali untuk mengawasi langsung persiapan acara. Intinya, tidak boleh ada cacat dalam penyelenggaran forum kolosal yang melibatkan 20 negara paling besar di dunia tersebut.

Pertemuan puncak ini dilaksanakan saat dunia menghadapi aneka peristiwa dramatis: pandemi belum usai, perang Rusia-Ukraina, krisis pangan dan energi, inflasi menjulang, utang negara bengkak (sebagian besar untuk mengongkosi pandemi), perubahan iklim, dan lain-lain.

Forum Konsultasi

G20 yang telah berusia 23 tahun (berdiri September 1999) sebetulnya hanya sebatas forum ’’konsultasi” antarnegara untuk mengupas persoalan global yang dianggap paling serius. Forum ini tidak mengambil keputusan yang mengikat sehingga deklarasi yang disepakati lebih dipahami sebagai kesamaan sudut pandang untuk menyelesaikan masalah.

Pada forum ini tidak diputuskan target-target spesifik, misalnya, persentase pengurangan kemiskinan dan ketimpangan global, sehingga negara anggota tidak diberi beban berat menunaikan kesepakatan. Hal ini tentu berbeda dengan, misalnya, pertemuan COP (Konferensi UNFCCC/United Nations Framework on Climate Change) yang dilakukan setiap tahun untuk memitigasi perubahan iklim. Forum COP membuat kesepakatan yang definitif dengan target terukur seperti pengurangan produksi emisi karbon dan mengikat untuk dipenuhi oleh seluruh negara.

KTT G20 kali ini mengambil slogan (tagline): Recover Together, Recover Stronger. Indonesia merasa saat ini momentum yang bagus untuk mengerjakan pemulihan bersama (setelah pandemi bisa dikelola) dan bangkit lebih kuat. Indonesia mengusung tiga tema yang dibahas dalam rangkaian pertemuan, yakni penguatan arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi.

Tiga tema tersebut amat kokoh dari segi substansi karena pandemi menyadarkan seluruh pemangku kepentingan bahwa infrastruktur kesehatan begitu rapuh, bahkan di negara maju. Dunia juga bergerak cepat berpindah ke abad digitalisasi. Salah satunya dipicu oleh pandemi. Misalnya, dalam kegiatan transaksi ekonomi dan pendidikan. Demikian pula, transisi energi meski segera digeser ke sumber daya yang bisa diperbarui untuk memitigasi perubahan iklim.

Isu kesehatan yang paling menonjol untuk diperjuangkan ialah akses seluruh warga negara terhadap jaminan kesehatan. Negara utama Eropa memiliki fondasi yang paling bagus pada aspek ini. Namun, negara berkembang (apalagi terbelakang) masih jauh dari layak. Hal ini berakibat pada tingkat produktivitas penduduk yang rendah, kemiskinan susah diturunkan, dan tingkat balita stunting cukup tinggi.

Berikutnya, transformasi digitalisasi membutuhkan dua penopang pokok: dana dan literasi. Pendanaan dipakai untuk membangun infrastruktur telekomunikasi yang mahal, sedangkan literasi diperlukan agar penduduk mampu mengakses dan menggunakan teknologi digital bagi kebutuhan hidup. Terakhir, perkara prioritas dalam transisi energi adalah komitmen negara maju menurunkan emisi karbon. Tanpa syarat ini, transisi energi hanya jargon semata.

Perdamaian dan Kesetaraan

Indonesia telah merancang dengan tepat isu-isu yang mesti dibahas dan disepakati sebagai bahan baku deklarasi. Di luar tiga hal itu, terdapat dua kesepakatan yang mesti didesain. Pertama, dunia tidak akan pernah bisa menuntaskan agenda besar tersebut bila jaminan perdamaian tidak tercipta. Perang wajib dihentikan, apa pun penyebabnya. Konsensus dasar ini mesti dihadirkan agar ragam visi dan program yang hendak dikerjakan bisa solid dieksekusi. Kedua, negara berkembang tidak akan beranjak kemajuan ekonomi dan kesejahteraannya tanpa bantuan dari negara maju. Anggota G20 punya tanggung jawab membangun kesetaraan pembangunan sehingga seluruh negara memiliki masa depan yang gemilang. Penguatan sektor kesehatan, transformasi digitalisasi, dan transisi energi butuh kolaborasi yang intensif antarnegara.

Pada ujungnya, seperti yang telah ditulis di muka, dunia sekarang berada dalam situasi paling mencekam dalam 50 tahun terakhir. Indonesia punya gairah dan peran vital untuk mengingatkan agar seluruh negara anggota G20 serius mencermati perkara tersebut. G20 hadir bukan sekadar mengurus nasibnya sendiri, melainkan mengulurkan tangan bagi kemaslahatan kolektif (seluruh negara di dunia). (*)

*) AHMAD ERANI YUSTIKA, Guru Besar FEB UB dan Ekonom Senior Indef

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads