Bejana Pertumbuhan Negatif

Oleh Ahmad Erani Yustika*
15 Februari 2021, 13:42:12 WIB

POLA pergerakan ekonomi nasional sepanjang 2020 telah terkuak seluruhnya. Berita buruknya, ekonomi Indonesia bukanlah termasuk yang bisa menggapai pertumbuhan ekonomi positif seperti yang dinikmati Tiongkok dan Vietnam.

Indonesia masuk dalam bejana pertumbuhan ekonomi negatif (2,07 persen) bersama sebagian besar negara di dunia seperti AS, Eropa, Korsel, Jepang, Singapura, dan seterusnya. Jadi, Indonesia punya banyak teman.

Warta bagusnya, intensitas tekanan ekonomi telah berkurang dari waktu ke waktu, sehingga puncak tekanan bisa dihentikan pada triwulan II 2020. Triwulan III dan IV 2020 pertumbuhan ekonomi memang masih negatif, tetapi angkanya terus mengecil. Pada triwulan III 2020, pertumbuhan ekonomi -3,05 persen dan triwulan IV 2020 sebesar -2,17 persen. Jika pola pertumbuhan ekonomi ini bisa dipertahankan, apalagi pengelolaannya lebih baik lagi, paling lambat triwulan II 2021 pertumbuhan ekonomi sudah netral atau positif.

Kesempatan Kedua

Mencermati data-data tersebut, dapat diikhtisarkan kondisi ekonomi Indonesia tidaklah berada di zona yang amat jelek. Bila dibandingkan dengan sebagian besar negara lain di dunia, situasi ekonomi nasional masih lebih bagus. Namun, sebagai bahan refleksi dan evaluasi, Indonesia sebetulnya punya peluang memperoleh pertumbuhan positif (seperti Tiongkok dan Vietnam) seandainya pilihan kebijakan pada fase awal pandemi (Maret 2020) adalah melakukan ”penutupan total”, khususnya zona DKI Jakarta. Opsi kebijakan itu masuk akal diterapkan dengan dua pertimbangan pokok: (i) cakupan wilayah tidak besar sehingga kapasitas pengawasan dan proteksi (sosial) dapat disangga dan (ii) persebaran virus bisa dikendalikan lebih efektif sehingga tidak mengganggu pergerakan ekonomi di daerah lain. Model inilah yang lebih kurang diambil oleh Tiongkok dan Vietnam sehingga ekonominya cepat pulih.

Sungguh pun begitu, mengambil kebijakan lain sebagai alternatif model pada masa itu juga tidak sepenuhnya dapat disalahkan karena variabel yang kompleks. Seperti sistem politik yang terdesentralisasi, struktur sosio-ekonomi masyarakat, dan kapasitas birokrasi yang belum sepenuhnya mapan. Alhasil, kebijakan yang telah dilalui merupakan titik temu antarberagam variabel dan kepentingan. Saat ini vaksin mulai disuntikkan secara bertahap sehingga harapan pengurangan tekanan akibat pandemi dapat direalisasikan. Tetapi, menyimak perkembangan kasus yang makin meningkat dan belajar dari pengalaman 2020, rasanya prioritas kesehatan tidak bisa dielakkan. Jika sampai akhir Maret 2021 lereng mendaki kasus pandemi tidak bisa dihentikan, impian pertumbuhan positif sulit dicapai. Di negara lain memang jumlah kasus masih besar (misalnya India), tetapi kenaikan kasus tiap hari kian rendah (lereng menurun). Sebaliknya, di Indonesia pertambahan kasus tiap hari masih terus meningkat.

Pada 2020, pertumbuhan ekonomi AS -3,5 persen; Singapura -5,8 persen; Korsel -1,0 persen; Hongkong -6,1 persen; dan Uni Eropa -6,4 persen (BPS, 2021). Negara dan kawasan tersebut tumbuh lebih buruk ketimbang Indonesia (kecuali Korsel), tetapi memiliki prospek pemulihan yang lebih terang pada 2021. Sebab, jumlah kasus baru terus menurun sehingga ekonomi bisa mulai direaktivasi.

Tiongkok yang tumbuh 2,3 persen dan Vietnam 2,9 persen pada 2020 dipastikan akan makin menjulang pertumbuhan ekonominya pada 2021. Di sinilah titik krusial yang dihadapi Indonesia: seberapa besar kesanggupannya untuk menekan jumlah persebaran pada triwulan I 2021. Ini merupakan pertaruhan yang besar bagi penentuan masa depan. Belajar dari masa silam, jangan sampai kesempatan kedua ini lenyap lagi. Lebih baik merampungkan isu kesehatan dengan risiko perlambatan ekonomi, tetapi setelah itu ekonomi akan kembali berlari kencang.

Proteksi Sosial

Berikutnya, refleksi yang bisa dilakukan ialah mencermati data capaian sumber pertumbuhan 2020. Pertama, bila dilihat dari sisi pengeluaran, pertumbuhan positif hanya disumbang oleh pengeluaran pemerintah. Ini tidak mengejutkan. Sebab, pada situasi krisis/resesi, yang bisa diharapkan hanya dari sisi pemerintah (ekspansi fiskal). Tentu saja model ini menimbulkan risiko: beban utang makin besar dalam jangka panjang. Sementara itu, sumber pertumbuhan dari investasi, konsumsi rumah tangga, dan perdagangan (ekspor-impor) mengalami kontraksi.

Pertumbuhan negatif paling besar dari sisi impor, yakni -14,71 persen. Kedua, pertumbuhan ekonomi dari lapangan usaha disumbang oleh sektor pertanian, jasa keuangan dan asuransi, informasi dan komunikasi, jasa pendidikan, realestat, jasa kesehatan dan kegiatan sosial, serta pengadaan air. Kontraksi terbesar dialami sektor transportasi dan pergudangan (-15,04 persen) serta akomodasi dan makan minum (-10,22 persen) [BPS, 2021].

Melihat peta tersebut, terdapat dua strategi untuk mengelola ekonomi 2021.

Pertama, konsumsi rumah tangga perlu dipulihkan terlebih dulu. Proteksi sosial wajib diteruskan, khususnya bagi kelompok menengah-bawah, dan mesti disalurkan lebih cepat. Perbaikan data merupakan keniscayaan dan mekanisme bantuan sebaiknya dalam bentuk tunai. Investasi tidak terlalu mencemaskan karena pada 2020 justru melampaui target (khususnya yang ditangani oleh BKPM/Badan Koordinasi Penanaman Modal). Bantuan UMKM dikaitkan dengan promosi ekspor, terutama yang memakai bahan baku lokal.

Kedua, sektor transportasi dan pergudangan serta akomodasi dan makan minum perlu ikhtiar spesifik pemulihannya karena terkait dengan situasi kesehatan.

Pada wilayah yang sudah lumayan landai, kedua sektor ini dapat dihidupkan secara bertahap. Sebaliknya, pada wilayah zona merah, jangan gegabah menghidupkan secara cepat. Selebihnya, ucapan Robert Kiyosaki masih punya gema keras: inside of every problem lies an opportunity. (*)

*) Ahmad Erani Yustika, Guru Besar FEB UB dan Ekonom Senior Indef

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

Editor : Ilham Safutra

Saksikan video menarik berikut ini: