Relasi G20 dengan Hari Diabetes Sedunia

Oleh ARI BASKORO *)
14 November 2022, 19:48:16 WIB

PERTEMUAN puncak para pemimpin G20 di Bali pada 15–16 November 2022 akan banyak membahas isu penting dunia. Pembahasannya berkaitan dengan tema besar: ”Pulih Bersama, Pulih Lebih Kuat” (Recover Together, Recover Stronger). Tiga isu besar yang merupakan prioritas dari pertemuan puncak pemimpin G20 adalah masalah arsitektur kesehatan global, transformasi digital, dan transisi energi berkelanjutan.

Sebagai bagian resmi dari presidensi G20, Think20 (T20) menjadi wadah pemikiran (“bank ide”) bagi riset isu-isu terkini. Di sinilah kiprah para pakar dan peneliti global merumuskan semua bentuk kajian-kajiannya. Harapannya bisa memberikan sumbangsih berupa solusi terbaik bagi semua aspek permasalahan yang dihadapi dunia saat ini.

Salah satu satuan tugas (satgas) T20 membahas masalah keamanan, kesehatan global, dan Covid-19. Hasil rumusannya berupa kebijakan berbasis riset. Selanjutnya akan direkomendasikan kepada para pemimpin dunia di ajang G20 yang merupakan forum kerja sama multilateral beranggota 19 negara utama ditambah Uni Eropa (UE).

Menjelang berlangsungnya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, diperingati World Diabetes Day (Hari Diabetes Sedunia). Diselenggarakan pada 14 November setiap tahunnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama International Diabetes Federation (IDF) secara bersama-sama mengusung tema Access to Diabetes Care (Akses ke Perawatan Diabetes). Topik penting ini dikukuhkan selama tiga tahun berturut-turut, mulai 2021 hingga 2023. Munculnya isu ini ke permukaan didasarkan atas keprihatinan dunia. Jutaan orang penyandang diabetes di seluruh dunia tidak memiliki akses perawatan yang memadai.

Melalui tema tersebut, WHO dan IDF mengharapkan terpenuhinya distribusi obat-obatan, teknologi penunjang medis, dan perawatan khusus bagi semua pasien yang memerlukannya. Pemerintah dituntut meningkatkan fasilitas pencegahan dan perawatan diabetes bagi setiap warganya.

Masalah Diabetes pada G20

Masalah pelik pandemi Covid-19 hingga kini masih harus dihadapi masyarakat di seluruh dunia. Tetapi, ada ancaman lainnya yang tidak kalah rumitnya. Diabetes melitus menjadi permasalahan global yang memerlukan solusi. Imbasnya bisa membebani sistem kesehatan yang tentu saja dapat berdampak pada perekonomian negara. KTT G20 perlu mengantisipasi persoalan makin melonjaknya penyandang diabetes di seantero dunia. Perlu dibangun sistem kesehatan yang lebih mumpuni sekaligus mudah diakses siapa pun yang membutuhkan.

Saat ini ada 422 juta penyandang diabetes di seluruh dunia. Diproyeksikan akan terjadi peningkatan hingga mencapai 578 juta pada tahun 2030 dan 700 juta pada 2045. Ironisnya, mayoritas (sekitar 81 persen) penyandangnya adalah warga di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah. Beban ekonominya bisa menyulitkan keuangan negara. Diabetes menyebabkan 6,7 juta kematian per tahun atau satu orang tiap lima detik.

Negara kita menempati peringkat kelima dunia dalam hal jumlah penyandang diabetes. Data tersebut dirilis IDF pada 2021. Indonesia berkontribusi terhadap 19,47 juta penyandang diabetes. Prevalensinya yang saat ini sebesar 10,6 persen diprediksi akan makin meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2045 jumlah penyandangnya diperkirakan bisa mencapai 28,57 juta jiwa.

Menyangkut beban biaya pengobatan, data yang dirilis IDF bisa menjadi gambaran. Setiap penyandang diabetes di Indonesia bisa menghabiskan dana sebesar US$ 323,8 per tahun. Biaya ini meningkat hingga 305 persen bila dibandingkan sepuluh tahun silam. Setiap tahun anggaran ini akan terus merangkak naik. Pada 2030 diprediksi meningkat hingga 14 persen, menjadi US$ 370,6. Selanjutnya bisa memakan anggaran hingga US$ 431,7 per orang pada 2045. Laju peningkatannya setara dengan 33 persen bila dibandingkan tahun 2021.

Riset Insulin Dalam Negeri

Diabetes yang sering kali disebut sebagai ibu dari segala penyakit dapat memicu berbagai komplikasi pada banyak organ tubuh. Penyakit jantung koroner, stroke, gagal ginjal kronis, penyakit pembuluh darah, dan pelemakan hati merupakan dampak diabetes dalam jangka panjang. Risiko mengalami kebutaan bisa meningkat hingga 25 kali lipat dibanding orang yang sehat.

Insulin yang ditemukan Frederick Banting dan Charles Best pada 1922 merupakan tonggak sejarah tata laksana diabetes. Tanggal 14 November 1891 merupakan hari kelahiran Frederick Banting yang sekaligus menjadi penanda peringatan Hari Diabetes Sedunia. Sumbangsih spektakuler dari pakar kelahiran Kanada itu sudah selayaknya bila dianugerahi penghargaan Nobel Fisiologi/Kedokteran pada 1923.

Insulin sebagai tulang punggung pengobatan diabetes semula diekstrak dari pankreas hewan. Kemudian dimurnikan. Sejak 1982 pengembangan teknologi rekayasa genetika berhasil membawa mikroba Escherichia coli dan yeast bisa digunakan untuk memproduksi recombinant human insulin. Penemuan insulin analog, suatu bentuk insulin manusia yang dapat dimodifikasi untuk berbagai keperluan, muncul pada 1997. Hal itu semakin dapat meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes. Jadwal aktivitas harian mereka menjadi lebih fleksibel karenanya.

Sayang sekali, untuk keperluan dalam negeri, Indonesia masih harus mengimpor insulin tersebut. Saat ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan penelitian dan pengembangan biosimilar insulin. Keberhasilan salah satu prioritas riset nasional (PRN) yang menggunakan teknologi canggih ini bisa mewujudkan kemandirian nasional dalam penyediaan obat diabetes. BRIN bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi ternama di tanah air, PT Bio Farma, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Dunia kedokteran di Indonesia sangat berharap agenda penting riset insulin di dalam negeri dapat menjadi bahan kajian pada KTT G20. Masukan para pakar global, khususnya dalam teknologi produksi insulin, bisa membawa angin segar percepatan kemandirian insulin di dalam negeri. (*)


*) ARI BASKORO, Divisi Alergi-Imunologi Klinik Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair/RSUD dr Soetomo Surabaya

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads