alexametrics

Perlu Segera Bentuk Badan Pangan Nasional

Oleh SOEKARWO *)
14 Juli 2021, 19:48:41 WIB

PROBLEM harga gabah dan stok beras selalu menjadi masalah berulang setiap tahun. Petani sering menerima harga gabah kering panen (GKP), harga gabah kering giling (GKG), dan utamanya beras premium di bawah harga pembelian pemerintah (HPP) serta harga pasar. Di sisi lain, isu terkait impor beras untuk kebutuhan stok juga menjadi masalah klasik yang berulang hampir setiap tahun.

Sepanjang panen bulan Juni dan minggu pertama Juli 2021, secara umum harga gabah kering panen (GKP) di tingkatan petani masih di bawah HPP, yakni Rp 4.200. Turun 8 persen dari HPP. Untuk gabah kering giling (GKG), HPP di penggilingan Rp 5.250 dan di gudang Bulog Rp 5.300 per kilogram. Secara umum, penurunan GKG sekitar 14 persen di bawah HPP.

Sementara itu, harga beras premium juga berada di bawah harga pasar Rp 11.500 per kilogram dan secara umum penurunan harga beras premium mencapai 16 persen dari harga pasar.

Di pihak lain, para pelaku penggilingan membatasi pembelian gabah petani. Alasannya, pemilik penggilingan kesulitan dalam melakukan pengeringan atau dryer karena kandungan kadar air pada gabah sebelum penggilingan rata-rata antara 23 persen sampai 31 persen.

Kondisi empiris yang berulang hampir setiap tahun ini menunjukkan bahwa ada masalah transformasi teknologi pascapanen yang harus dibenahi. Transformasi teknologi ini utamanya perlu dilakukan di off farm, yaitu pengeringan/dryer, penggilingan/rice milling unit, mesin pengemas packing hampa udara, dengan spesial pembiayaan murah seperti kredit usaha rakyat (KUR).

Perum Bulog mengakui, di tengah upaya penyerapan beras hasil panen petani, muncul data tentang penurunan harga gabah dan beras di sebagian besar daerah sentra penghasil padi. Penurunan itu disebabkan melimpahnya pasokan gabah dan beras dari hasil panen sebelumnya.

Dalam kondisi stok gabah dan beras masih banyak, perlu dilakukan hilirisasi, utamanya di beras. Baik lewat pasar murah maupun distribusi kepada kelompok orang miskin dan miskin baru. Dalam hilirisasi pasar murah dan murah sekali, kerugian Perum Bulog harus disubsidi oleh pemerintah melalui APBN karena pembiayaan operasional Bulog merupakan pinjaman dari perbankan.

Upaya On Farm dan Off Farm

Problem rendahnya harga gabah petani dan ketersediaan stok beras yang aman bagi lebih dari 270 juta penduduk Indonesia harus dicari solusinya dari hulu maupun hilir. Dari sisi on farm, terdapat beberapa langkah yang perlu ditempuh.

Pertama, menjamin ketersediaan sarana produksi pertanian seperti bibit, benih, pupuk, obat-obatan, dan saprodi lainnya serta melakukan mekanisasi pertanian. Kedua, pemerintah perlu menerapkan manajemen pengairan dengan metode satu sungai satu manajemen. Ketiga, perlu diwujudkan research (riset) dan development (R & D) setiap tahun untuk menghasilkan inovasi bibit baru dengan minimal dua varietas unggul (one year two innovation).

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads