alexametrics

Maskapai Harus Lebih Kreatif Cari Keuntungan

Oleh ALVIN LIE, Pengamat Penerbangan
14 Mei 2019, 13:51:09 WIB

JawaPos.com – Polemik harga tiket masih berlanjut hingga sekarang. Saya sudah mempelajari, jumlah pengguna jasa angkutan udara di Indonesia ini paling hanya 10 persen dari total populasi kita. Dalam satu tahun ada 100 juta penumpang yang diangkut maskapai penerbangan. Tetapi, tidak mungkin penumpang tersebut terbang hanya sekali dalam setahun.

Ada yang terbang dua kali, bahkan sampai 20 hingga 30 kali dalam setahun.

Nah, rata-rata kalau dihitung, satu penumpang itu terbang 6 kali dalam setahun. Jadi, dari 100 juta penumpang yang diangkut, sebenarnya hanya 16 sampai 17 juta orang yang terbang berkali-kali dalam setahun. Jumlah tersebut tidak sampai 10 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai 260 juta orang.

Pengguna jasa penerbangan terbanyak pun berasal dari pegawai pemerintah. Kedua, pegawai BUMN. Ketiga, pegawai swasta atau profesional. Keempat, kalangan pengusaha. Setelah itu, barulah masyarakat dengan kepentingan pribadi. Misalnya, orang tua yang ingin menjenguk anaknya, mahasiswa yang sedang kuliah, atau perantau yang akan pulang ke kampung halaman. Keenam, baru sektor pariwisata. Sumbangan sektor pariwisata itu masih relatif kecil terhadap jumlah penumpang penerbangan. Apalagi, penumpang sektor pariwisata bersifat musiman dan biasanya sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Penumpang yang paling terdampak oleh kenaikan harga tiket adalah kalangan masyarakat dengan kepentingan pribadi. Mereka biasanya bukan pengguna full service, tetapi LCC (low cost carrier) seperti Lion Air. Kenapa mereka teriak? Karena LCC menaikkan harganya. Selain itu, mereka menerapkan bagasi berbayar.

Maskapai penerbangan juga harus kreatif menyiasati harga tiket. Misalnya, untuk yang beli tiket tiga bulan sebelumnya, harganya bisa lebih murah daripada yang beli seminggu sebelum penerbangan. Jadi, semakin dekat hari keberangkatan, harganya semakin mahal. Atau, jika membeli tiket pp (pergi pulang) bisa lebih murah dibandingkan beli sekali jalan. Kalau sekarang kan harganya sama saja, baik PP maupun sekali jalan. Maskapai juga bisa memberikan harga khusus untuk pelajar atau mahasiswa dengan menunjukkan kartu pelajar. Itu belum dilakukan maskapai.

Makanya, maskapai perlu kreatif untuk mencari keuntungan. Maskapai bisa mengambil keuntungan dari kalangan pebisnis atau profesional, tetapi berikan harga khusus untuk mahasiswa atau pelajar. Misalnya, ada membership dengan harga khusus bagi mereka yang sekaligus bisa untuk mengikat pelanggan dari kalangan tersebut.

Berbeda dengan kalangan lain yang tidak terlalu terdampak. Misalnya, pegawai pemerintah, pegawai BUMN, profesional, dan pengusaha. Jika memang ada kepentingan bisnis, mereka tetap berangkat dengan harga tiket berapa pun. Yang perlu diingat, tiket pesawat itu sejak dulu tidak pernah dijadikan moda transportasi yang murah.

Ingat, kita dulu kalau kirim surat melalui pos udara dan pos biasa itu kan jauh lebih murah pos biasa. Pos udara itu mahal. Sekarang pun kita kirim barang atau kargo, jika melalui udara juga lebih mahal jika dibandingkan dengan darat dan laut. Kenapa? Karena angkutan udara itu yang ditawarkan adalah ketepatan dan kecepatan. Dan ketepatan itu tidak pernah murah.

Sebenarnya, harga tiket bisa turun seperti tahun-tahun sebelumnya asalkan batas atas naik signifikan. Jadi, pada saat peak season atau lalu lintas puncak seperti sekarang, harganya mungkin bisa naik, lebih mahal dari sekarang. Nah, maskapai bisa mendapatkan laba yang cukup untuk subsidi sehingga saat low season bisa banting-bantingan harga lagi.

Namun, itu syaratnya besaran nilai angkut per penumpang per kilometer direvisi. Sedangkan kalau TBA (tarif batas atas) diturunkan akan semakin tidak fleksibel dan harga tiket terus bertengger di batas atas terus, tidak akan turun. Sebab, TBA ini kan besarannya sudah sejak 2016 tidak pernah direvisi walaupun asumsi-asumsinya sudah berubah seperti nilai tukar rupiah, harga avtur, dan harga sewa pesawat.

Dulu, pada 2016, nilai tukar rupiah terhadap dolar masih sekitar Rp 13 ribu, tetapi sekarang Rp 14 ribuan. Kemudian, biaya-biaya fasilitas pelayanan di bandara juga sudah naik. Sekarang struktur biayanya avtur itu kan 30 persen. Avtur bisa turun tidak sebesar 10 persen, 20 persen, sampai 30 persen lagi? Kalau avtur bisa turun 30 persen, itu biayanya bisa turun 9 persen kan.

Nah, avtur bisa turun 10 persen saja sudah hebat. Sekarang harga avtur malah naik lagi. Ini bukannya TBA dinaikkan, malah diturunkan. Saya yakin kalau pemerintah memaksakan TBA diturunkan, maskapai akan tetap berusaha bertahan hidup. Nanti, rute-rute penerbangan yang sebetulnya tidak menguntungkan akan berhenti. Pelayanan penerbangan hanya untuk rute-rute gemuk.

Sebab, tidak ada pilihan lain. Kenapa yang ditekan hanya airline. Penyelenggara bandara bagaimana? Komponen besar itu kan nilai tukar sama pengadaan pesawat atau sewa pesawat, perawatan pesawat, avtur kan. Pemerintah juga seharusnya menjaga nilai tukarnya. Kalau maskapai bisa menurunkan harga, mereka pasti juga menurunkan harga kan. (vir/c10/oni)

Editor : Ilham Safutra



Close Ads