alexametrics

Jihad Versi Teroris

Oleh Kardono Setyorakhmadi*
14 Maret 2019, 11:30:29 WIB

JawaPos.com – Masyarakat yang berpikiran normal pasti bertanya: bagaimana bisa seseorang dapat menggerakkan dirinya untuk melakukan bom bunuh diri, termasuk keluarganya? Pikiran semacam apa yang menggerakkan seseorang melakukan tindakan teror? Bagaimana bisa seseorang yang alim dapat menorehkan kejahatan kemanusiaan luar biasa?

Jawabannya sederhana: mereka (para ideolog kelompok teror) membuat agama menjadi begitu praktis.

Dari yang semula abstrak menjadi serbahitam-putih. Seolah-olah memberikan tujuan yang jelas. Mereka mempunyai konsep tauhid yang berbeda dengan kebanyakan aliran Islam lainnya. Juga pemahaman jihad yang berbeda.

Untuk bisa mengatasi terorisme, hal pertama yang harus dilakukan ialah mengenali sebaik-baiknya apa itu ideologi yang berada di dalam kepala para teroris ini.

***

Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Mujahidin Indonesia Timur (MIT), dan sejumlah kelompok teror modern Indonesia lainnya mempunyai akar terhadap dua kelompok teror paling ditakuti di muka bumi: Al Qaeda dan ISIS. Meski saling serang di Timur Tengah, perbedaan dua tanzhim tersebut tak banyak. Sama-sama mempunyai akidah ahlussunah wal jamaah sesuai dengan pemahaman salafus shalih. Atau yang biasa dikenal dengan sebutan salafi.

Namun, salafi ini masih mempunyai sejumlah aliran. Al Qaeda dan ISIS, serta sejumlah kelompok pengikutnya, memandang jihad sebagai ibadah yang utama. Menurut sejumlah ulama rujukan mereka seperti Ibnu Taimiyyah atau Syekh Abdullah Azam, jihad menempati urutan nomor dua setelah syahadat. Ia lebih penting ketimbang salat, puasa, zakat, dan melakukan ibadah haji.

Dalam gerakan Islam, kelompok tersebut dikenal dengan aliran salafi jihadi. Poin pertama sudah ketemu. Bagi orang-orang yang meledakkan diri di Sibolga kemarin pagi, jihad adalah amalan yang utama.

Pernah saya berdiskusi dengan sejumlah pentolan tanzhim ini soal jihad. Terutama tentang hadis yang menyebutkan, Rasul bersabda bahwa jihad dalam peperangan adalah jihad kecil. Sementara jihad mengalahkan diri sendiri adalah jihad akbar. Reaksinya, dengan menyitir sejumlah ayat yang jauh lebih banyak, mereka mengatakan bahwa kesahihan hadis tersebut diragukan. Bagi mereka, jihad adalah berperang. Titik. Tidak ada arti lainnya. Simpel. Sederhana. Tidak terasa abstrak, seperti “jihad melawan diri sendiri”.

Selain itu, dalam kondisi sekarang, jihad yang berlaku adalah fardu ain. Artinya, jihad yang menjadi kewajiban tiap muslimin. Ini adalah ibadah seumur hidup. Ibadah yang tak akan selesai -kecuali setelah nyawa pergi dari badan. Seperti salat. Kewajiban yang tak pernah hilang selama hayat dikandung badan.

Konsep jihad ini masih belum selesai. Pemahaman jenis jihad seperti apa yang dilakukan akan menjelaskan kenapa pelaku bom bunuh diri sekarang juga tak ragu untuk membawa anak-istrinya. Mereka memahami bahwa jihad yang mereka lakukan sekarang adalah jihad difai. Atau jihad defensif. Jangan terkecoh makna defensif, yang seakan bertahan. Sebab, jihad jenis itu tak memerlukan berbagai persyaratan.

Seorang perempuan boleh keluar untuk perang tanpa seizin suaminya dengan tetap didampingi mahramnya. Seorang anak kecil bisa melakukan serangan tanpa perlu izin orang tua. Pendek kata, apa pun yang bisa dilakukan untuk menyerang, ya akan menyerang. Meski hanya pakai batu bata sekalipun.

Itu menjelaskan bagaimana serangan-serangan teroris dalam setahun terakhir sangat spekulatif dan menggunakan anak-istri (kasus bom Surabaya Mei 2018). Penggunaan jihad jenis itu juga menunjukkan jenis tauhid mereka. Secara umum, mereka seperti kaum salafi lainnya. Yang mengharamkan ziarah kubur, yang menitikberatkan pada pengharaman bidah, dan cenderung untuk “mengislamkan” orang Islam lainnya yang tak seideologi. Namun, mereka mempunyai pembeda yang jelas terkait dengan negara. Mereka membagi dunia menjadi dua, yakni daulah Islam dan negara kafir.

Dalam salah satu dari poin-poin akidah yang disebarkan secara lisan dan tertulis, pemimpin pertama ISIS Umar Al Baghdadi menyebutkan bahwa memerangi negeri-negeri yang tidak berdasar syariat Islam hukumnya lebih wajib ketimbang memerangi kerajaan salibis. Maka, bagi pengikut ISIS, memerangi Indonesia hukumnya lebih wajib.

Meski tentu saja tidak ada jaminan non-Islam juga tidak diserang dalam rangka jihad. Pengeboman tiga gereja di Surabaya pada Mei 2018 menjadi buktinya.

Memang, penjabaran konsep jihad dan tauhid kelompok salafi jihadi tersebut terlalu pendek dan menyederhanakan. Pada praktiknya, ISIS dan Al Qaeda bahkan bertempur sendiri karena tidak cocok metode satu sama lain. Terutama pada musuh yang harus diperangi. Apakah far enemy, seperti Amerika Serikat dan bala tentaranya, ataukah near enemy, yang berarti negeri-negeri yang berdasar UUD. Bukan syariat Islam.

Namun, apa pun kritik terhadap konsep jihad dan tauhid di atas, satu hal yang membuat kelompok itu masih mempunyai pengikut, yakni berkarakter praktis dan jelas. Membagi dunia menjadi dua hal: yang baik dan yang jahat. Dan di sisi mana kamu menetapkan posisi. Ditanya seperti itu, tentu saja hampir semua orang akan menjawab akan berada di sisi yang baik. Tinggal diberi sentuhan kata akhir membujuk: “buktikan dengan berbaiat”, maka satu rekrutan bisa diambil. (*)

*) Jurnalis Jawa Pos yang pernah sebulan tinggal di kamp pelatihan Jamaah Islamiyah di Mindanao

Editor : Ilham Safutra

Copy Editor :

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Jihad Versi Teroris