alexametrics

Ini Cuma Dinamika Pasar

Oleh Gerry Soejatman*
14 Januari 2019, 10:31:41 WIB

JawaPos.com – Sejak pertengahan 2016, tarif batas atas tiket pesawat belum berubah. Jadi, sudah dua setengah tahun lalu harga tiket bisa fluktuatif, bergantung permintaan pasar. Saat musim liburan dengan permintaan tinggi, harga bisa menyentuh tarif batas atas. Misalnya, saat Lebaran, harga tiket bisa sampai Rp 1 juta, bahkan lebih. Tapi, tidak ada orang yang ngamuk-ngamuk masal seperti sekarang ini.

Lantas, mengapa dalam beberapa hari ini orang ngomel dan mengeluh? Selama ini ke mana saja? Memang biasanya saat musim liburan usai, harga tiket pesawat akan anjlok. Tapi, tahun ini memang tidak. Sebab, permintaan masih ada. Apalagi, ini baru sepekan setelah liburan. Bisa jadi masih ada orang yang mengambil cuti. Setiap orang punya prioritas berbeda-beda. Kalau kenaikan berlanjut sampai akhir bulan, baru pantas kita pertanyakan.

Tahun ini juga tahun pemilu. Banyak yang melakukan perjalanan dinas begitu tahun ini mulai berjalan. Sebab, mereka takut nanti ada kampanye dan lain-lain. Ya, kenaikan ini saya anggap masih dinamika pasar saja.

Ini Cuma Dinamika Pasar
Ilustrasi: kenaikan tarif tiket pesawat jalur domestik dianggap bagian dari dinamika pasar. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Jadi, jujur, yang sangat saya sayangkan adalah Kementerian Perhubungan. Semestinya mereka menjelaskan sejelas-jelasnya bahwa permintaan pasar masih tinggi. Mereka juga harus menjelaskan bahwa harga masih berada di bawah tarif batas atas yang selama dua setengah tahun ini belum berubah. Dan malah lebih murah jika dibandingkan tarif pada 2015. Apakah kita pernah mendengar orang ngamuk-ngamuk pada 2016, 2017, 2018? Jadi, mengapa baru sekarang?

Perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya relatif tidak ada. Hanya, tahun ini tahun politik. Akan ada pemilihan presiden. Itu saja. Harga naik itu bisa menjadi bahan gorengan yang sangat nikmat untuk dipolitisasi. Kita tidak menuduh, tapi khawatir itu terjadi. Padahal, biaya penerbangan di Indonesia lebih murah dibandingkan negara lain. Kalau dari sisi maskapai, dengan harga mahal tapi permintaan atau penumpang sedikit, justru mereka yang merugi. Saya sendiri juga mengecek harga itu, memang ada yang lebih mahal dari biasanya. Tapi, menemukan harga yang murah juga masih bisa. Ini masih dalam kondisi pasar yang wajar.

Kalau dari pemerintah, seharusnya lebih jelas mengutarakan bahwa batas atasnya belum berubah sejak dua setengah tahun lalu. Dan, kalau dibanding tiga tahun lalu, malah tarif sekarang itu sebenarnya turun. Kalau itu masih dianggap mahal, sekali lagi, ke mana saja kok ngomelnya baru sekarang?

Pemerintah sah-sah saja mengimbau kepada maskapai untuk menurunkan harga. Asalkan penurunan itu tidak di bawah batas ekuilibrium. Bila di bawah batas keseimbangan antara permintaan yang tinggi dan harga, itu namanya merugikan.

Selain itu, bila pemerintah ingin terus menjaga tarif tiket pesawat, biaya passenger service charge di bandara harus ditinjau juga. Hanya, hal itu akan bersinggungan dengan BUMN pengelola bandara. 

*) Sekretaris Jaringan Penerbangan Indonesia, Konsultan Bidang Penerbangan

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (Disarikan dari wawancara oleh wartawan Jawa Pos Juneka/c17/oni)

Alur Cerita Berita

Lihat Semua
Ini Cuma Dinamika Pasar