alexametrics

Membumikan Politik Restorasi

Oleh: Charles Meikyansah *)
13 November 2019, 18:48:16 WIB

MOMEN kongres Partai Nasdem yang berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, diterpa gemuruh isu keluarnya partai tersebut dari koalisi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma’ruf Amin pasca pertemuan Ketua Umum Surya Paloh dan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman.

Padahal, jauh dari isu yang terbilang sensasional tersebut, Partai Nasdem selama berlangsungnya kongres yang dirangkai dengan peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-8 menawarkan dan membumikan diskursus gagasan restorasi ke dalam advokasi kebijakan bernapas gagasan restorasi.

Sebagai gagasan, restorasi Indonesia bertumpu pada kemerdekaan sebagai negara bangsa, berdaulat secara ekonomi, dan bermartabat dalam budaya. Pada tataran praksis, gagasan restorasi Indonesia mewujud dalam bentuk advokasi kebijakan yang ke depan menjadi arah partai.

Pertama, amandemen konstitusi. Aspek ini penting karena sebagai fondasi, konstitusi harus mengalami pembaruan agar tak lekang oleh zaman. Kontekstualisasi konstitusi akan membuat kita terhindar dari kungkungan masa lalu. Pengarusutamaan amandemen konstitusi sebagai agenda mendesak bangsa mengingat dunia tengah menghadapi great disruption yang membutuhkan pembaruan konstitusi.

Perubahan ancaman global dari ancaman tradisional (traditional security) telah meluas menjadi ancaman nontradisional (non-traditional security). Seperti ancaman transnasionalisme (radikalisme dan terorisme), ancaman perang siber, persebaran penyakit, dan ancaman lainnya. Perubahan yang fundamental tersebut membutuhkan repositioning ulang konstitusi kita dalam tatanan baru (world order).

Kedua, modernisasi partai politik (parpol). Parpol sebagai agregasi kepentingan publik harus menghasilkan kader-kader terbaik untuk menjadi penerus estafet kepemimpinan bangsa. Maka, sejatinya partai harus membuka diri untuk seluruh lapisan masyarakat yang menghibahkan hidupnya untuk memimpin Indonesia. Konvensi calon presiden (capres) pada Pemilu 2024 menjadi manifestasi politik restorasi ke depan. Konvensi secara filosofis memberikan kemungkinan bagi seluruh anak bangsa dalam menentukan jalannya republik.

Mengapa pelaksanaan konvensi begitu penting dan menandai modernisasi Partai Nasdem? Sebab, konvensi adalah jawaban atas keraguan ’’the rise of political dynasty’’ yang terjadi di Nasdem. Konvensi sekaligus menandai bahwa siapa pun yang berprestasi mendapatkan kesempatan untuk berkontestasi. Tak harus anggota parpol.

Lalu, kenapa ketua umum masih menjadi pusat dari semesta politik Nasdem? Justru karena Nasdem yang masih berumur 8 tahun membutuhkan kepemimpinan yang menyatukan, kepemimpinan yang menjadi center of the gravity. Toh, kalaupun diukur dalam kinerja, berkat kepemimpinan Surya Paloh, Partai Nasdem menjadi salah satu partai peraih kenaikan suara terbesar dua kali pemilu berturut-turut. Pada Pemilu 2014, Partai Nasdem lolos dari parliamentary threshold dengan raihan 8.402.812 suara (6,72 persen).

Pada Pemilu 2019, Nasdem mengantongi 12.661.792 suara atau 9,05 persen. Terjadi peningkatan 4.258.980 suara atau 2,33 persen. Torehan yang memukau di tengah hampir sebagian besar parpol mengalami stagnasi popularitas dan penurunan perolehan suara.

Ketiga, situasi global yang penuh dengan volatility, uncertainty, complexity and ambiguity (VUCA) membutuhkan pemikiran dan jalan keluar agar Indonesia mampu menghadapi ancaman resesi global. Seperti diketahui, perekonomian global diprediksi terus memburuk. International Monetary Fund (IMF) telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 dari 3,2 persen menjadi 3 persen. Seperti disampaikan Presiden Jokowi pada malam penutupan kongres, Senin (11/11), ancaman resesi ekonomi di depan mata.

Pelambatan ekonomi global diperparah dengan semakin dinamisnya konstelasi geopolitik global yang membuat kinerja ekonomi negara emerging market tertekan dan berada dalam tepian resesi yang dapat merembet. Ancaman krisis yang terjadi di Argentina (mata uang peso mengalami tekanan -52,2 persen) dan Turki (-43,2 persen) pada 2018 juga merembet ke Indonesia di mana rupiah mengalami pelemahan -9,2 persen yoy atau terparah di kawasan Asia Tenggara.

Maka, Nasdem sebagai partai koalisi mendorong agar Indonesia tidak terkena badai krisis ekonomi dengan menawarkan politik restorasi sebagai proposal dalam menghadapi resesi dan ancaman bangsa. Resesi ekonomi menjadi masalah serius bangsa kita. Indonesia memiliki pengalaman buruk di mana negara terancam menjadi negara failed state karena badai krisis ekonomi 1998. Semua kekuatan parpol harus bersatu untuk menciptakan stabilitas politik dan keamanan serta pembangunan iklim ekonomi yang aman dan berkelanjutan.

Basis kekuatan dan stabilitas bangsa hanya bisa dicapai dengan semangat gotong royong sesama anak bangsa. Maka dari itu, politik restorasi harus menyatukan. Sehingga rumusan keempat adalah silaturahmi kebangsaan agar ada ruang konsensus yang tercipta secara deliberatif. Maka, ketika elite partai bersilaturahmi ke kantor DPP PKS di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta, dan ditafsirkan secara beragam, sebenarnya Nasdem tengah membumikan politik restorasi.

Politik yang hangat dan beradab. Politik yang merangkul semua elemen tanpa membedakan sekat koalisi dan oposisi adalah jalan Nasdem. Sebab, bagi Nasdem, proposal restorasi adalah dengan jalan memperkuat presidensialisme dan membangun politik yang kritis dan konstruktif adalah semesta politik Indonesia. Selain itu, silaturahmi menjadi adab berkomunikasi bangsa yang menjunjung tinggi gotong royong serta menyatukan sekat dan perbedaan.

Kelima, tantangan dan ancaman ke depan adalah permasalahan lingkungan. Harus ada konsensus dan aksi global dalam menghadapi ancaman lingkungan. Hal itu menjadi alasan bahwa selain mendorong upaya kerja sama global seperti paris agreement dan pengarusutamaan green policy dalam level domestik, juga pentingnya menyerukan aksi konkret dalam mendukung Indonesia bebas sampah plastik melalui pengurangan penggunaan air kemasan dan atau pembangunan fasilitas air minum gratis (potable water) di instansi/kantor/sekretariat masing-masing.

Yang terakhir adalah memperteguh Pancasila sebagai napas dalam setiap kebijakan legislatif dan eksekutif untuk tercapainya cita-cita kemerdekaan. Pancasila sebagai way of life dari bangsa ini, maka semua harus bermuara pada napas Pancasila sebagai fondasi kehidupan bernegara dan berbangsa. Membumikan politik restorasi adalah pekerjaan rumah Nasdem selanjutnya. Selebihnya, selamat ulang tahun, Nasdem. (*)


*) Charles Meikyansah, Anggota DPR RI

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads