alexametrics

Fenomena Susu Beruang dan Resiliensi di Masa Pandemi

oleh SUNARDI SISWODIHARJO*)
13 Juli 2021, 19:48:24 WIB

SUDAH lebih dari sepekan PPKM darurat Jawa-Bali dilaksanakan. Banyak sekali peristiwa yang menyertainya. Salah satunya, fenomena panic buying produk-produk yang dikaitkan dengan penyembuhan terhadap penderita Covid-19. Bahkan, sejak awal pandemi, sejatinya panic buying acap kali terjadi di Indonesia. Dimulai dari masker, vitamin, serta belakangan obat Ivermectin dan susu steril merek beruang (Bear Brand).

Sebuah video tentang fenomena panic buying susu beruang pernah viral. Terjadi tepat saat dimulainya PPKM darurat 3 Juli lalu. Dalam video berdurasi sekitar 30 detik tersebut, terlihat kepanikan sekelompok pembeli di sebuah supermarket. Mereka berhamburan berebut setumpuk susu beruang. Sungguh merupakan sebuah ironi. Sebagai food engineer yang lebih dari 15 tahun berkutat di industri susu, saya merasa perlu memberikan sedikit pencerahan agar masyarakat tetap rasional dan optimistis dalam menghadapi tekanan dan ketidakpastian selama masa pandemi.

Kontribusi ini terasa makin penting setelah saya mengetahui kesimpulan sebuah penelitian ilmiah yang dilakukan tim riset Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) pada rentang 26 Mei hingga 2 Juni 2021 terhadap 5.817 responden. Riset ini menyimpulkan bahwa tingkat resiliensi orang Indonesia pada berbagai tingkat usia cenderung rendah. Resiliensi merujuk pada kapasitas psikologis individu untuk mampu kembali bangkit dari kesulitan, ketidakpastian, konflik, maupun kegagalan.

Efek Plasebo

Setidaknya ada dua hal yang bisa menjelaskan fenomena panic buying susu beruang di atas. Yaitu, terjadinya efek plasebo dan kurangnya literasi gizi masyarakat. Usia merek susu beruang di dunia telah sangat tua, bahkan lebih dari 100 tahun, karena mulai diperkenalkan di Swiss pada 1906. Susu beruang masuk ke Indonesia pada 1930-an, lebih dari 90 tahun lalu. Sebuah merek yang sangat legendaris.

Awalnya, susu beruang ini hanya bisa didapatkan di toko-toko obat China dan diyakini bisa membantu menyembuhkan penyakit. Jadi, sejak awal susu beruang memang memiliki image sebagai obat, terlepas dari kandungan gizi dan nutrisi yang sesungguhnya.

Perasaan fear of death di tengah pandemi dan efek plasebo susu beruang juga turut mendorong terjadinya panic buying. Efek plasebo adalah sembuhnya pasien dari penyakitnya ketika mengonsumsi obat kosong (plasebo). Sugesti dan keyakinan bisa membuat susu beruang benar-benar manjur layaknya obat. Apalagi, sejauh ini susu beruang dikenal tidak memiliki efek samping yang buruk. Bahkan sanggup memberikan harapan kepada pasien yang mau berjuang keras untuk sembuh.

Secara objektif, susu sapi murni memang padat nutrisi, terutama tinggi protein. Dalam setiap 1 ge-las, kira-kira 250 ml, terdapat sekitar 7,7 gram protein yang setara dengan 13 persen angka kecukupan gizi (AKG) untuk usia umum, mengacu pada Peraturan Kepala BPOM Nomor 9 Tahun 2016 tentang Acuan Label Gizi (ALG).

Demikian pula kandungan kalsium 300 mg atau sepadan dengan 27 persen AKG. Belum lagi kandungan phosphorus 250 mg atau 36 persen AKG. Sayangnya, lemak di dalam susu sapi bukanlah lemak sehat karena terdapat kandungan kolesterol di dalamnya.

Kandungan nutrisi susu sapi murni steril merek beruang sejatinya sama dengan susu sapi murni steril merek lainnya. Karena itulah, para pakar dan dokter spesialis gizi membantah semua asumsi berlebihan tentang susu beruang yang dapat menyembuhkan Covid-19.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads