alexametrics

Komunikasi dan Kemiskinan Informasi Covid-19

OLEH : SUKO WIDODO *)
13 Juli 2020, 19:48:53 WIB

BELUM ada prediksi akurat soal kapan pandemi Covid-19 berakhir. Sementara itu, data orang terpapar Covid-19 di Indonesia mengalami kenaikan. Fakta di lapangan, aktivitas sosial mulai menggeliat. Orang seakan abai dan menganggap situasi ”darurat” ini sebagai kondisi ”aman-aman” saja.

Tampaknya informasi perihal Covid-19 belum membuat banyak warga menyadari ganasnya Covid-19. Laporan tentang korban meninggal karena Covid-19 yang tiap hari disampaikan oleh gugus tugas juga tak membuat orang takut. Demikian pula anjuran agar berprotokol kesehatan, belum dilakukan warga secara masksimal. Masih banyak orang yang berkerumun. Tidak bermasker. Juga masih ada ruang publik yang tak menyediakan sarana cuci tangan.

Tak mengherankan jika pertengahan Mei lalu dunia media sosial dihebohkan dengan tagar Indonesia Terserah. Munculnya tagar tersebut diiringi keluhan dan rasa kecewa dari warganet yang menilai pemerintah belum secara maksimal menanggulangi wabah Covid-19. Sebetulnya menyalahkan pemerintah bukan solusi. Sebab, praktiknya, warga masyarakat juga masih enggan menerima kenyataan Covid-19 ini.

Ketidakdisiplinan menjalankan protokol kesehatan bukan perkara di Indonesia saja. Sejumlah negara lain juga tidak sabar menormalkan situasi yang tidak normal ini. Semua pengin segera memulihkan keadaan seperti semula. Kepala Program Kedaruratan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mike Ryan telah memperingatkan potensi munculnya gelombang kedua penularan Covid-19. Menurut dia, dunia saat ini masih berada di tengah-tengah gelombang pertama karena peningkatan kasus di kawasan Amerika Tengah dan Selatan serta Asia Selatan dan Afrika.

Mengapa banyak orang masih tak disiplin menjalankan protokol kesehatan? Mengapa orang tak serius menghadapi Covid-19? Padahal, belajar dari negara yang berhasil mengeliminasi penularan Covid-19, dilandasi perasaan takut. Selandia Baru dan Taiwan adalah negara yang berhasil menangani Covid-19. Mereka berhasil karena takut sehingga serius. Di sisi lain, Amerika dan Brasil gagal menekan angka korban karena pemimpinnya mengabaikan semua peringatan. Lalu, bagaimana situasi Indonesia?

Protokol Komunikasi Publik

Orang disiplin karena rasa takut, mengidentifikasi dengan orang lain dan menyadari manfaat disiplin. Adanya warga yang tidak disiplin menjalani protokol kesehatan boleh jadi karena sanksi hukumnya tidak ada atau kurang tegas. Karena itu, orang tak mematuhinya. Bisa juga karena menyaksikan orang lain tidak melakukan. Serta tidak disiplin karena tidak mendapatkan informasi memadai sehingga mengalami kemiskinan informasi.

Sikap abai terhadap protokol kesehatan itulah penyebab utama yang menyulitkan terputusnya rantai persebaran Covid-19. Akibatnya, berapa pun fasilitas rumah sakit dan tenaga medis yang disediakan akan tidak bisa menolong korban penularan. Dengan demikian, tugas berat di depan mata saat ini adalah bagaimana membuat orang tidak miskin informasi sehingga patuh menjalankan aturan bermasker, jaga jarak aman, dan rutin cuci tangan dengan sabun.

Sejauh ini landasan protokol komunikasi publik pencegahan Covid-19 didasari cara berpikir dan tujuan yang tepat. Landasan pijaknya adalah pikiran Anthony de Mello (1977) yang menyatakan bahwa jumlah korban bisa menjadi lima kali lipat kalau terjadi ketakutan di saat terjadi wabah penyakit. Seribu orang menjadi korban karena sakit, sedangkan empat ribu orang menjadi korban karena panik. Tujuan komunikasi publiknya adalah membuat masyarakat paham dan mengikuti anjuran yang disampaikan.

Tetapi, realitasnya, tetap saja masyarakat tidak secara serius menjalankan disiplin protokol kesehatan. Bisa dibayangkan, tatkala terus terjadi penambahan kasus, potensi kepanikannya akan meningkat. Karena itulah, untuk mencegah potensi kepanikan meledak, diperlukan langkah-langkah tepat dalam menjalankan kebijakan komunikasi publik Covid-19.

Hindari Kemiskinan Informasi

Kemiskinan informasi Covid-19 harus menjadi perhatian serius. Selama ini program komunikasi hanya bertumpu pada distribusi informasi. Monotonnya karakter informasi membuat warga sebagai khalayak tidak termotivasi. Komunikasi yang efektif adalah yang bisa membangkitkan (to evocate) motivasi agar khalayak mengikuti anjuran.

Di era teknologi informasi yang lengkap, seharusnya konten soal Covid-19 juga dikembangkan secara kreatif. Lebih dari kreatif, hal yang diabaikan dalam program komunikasi publik Covid-19 adalah proses diadik antara sumber informasi dan penerima informasi. Banyak sudah lembaga penanganan Covid-19 yang menyediakan hotline dengan media modern. Tapi, tak sedikit sumber daya pengelolanya yang minim pengetahuan berinteraksi dengan khalayak. Lebih parahnya, ada hotline tapi tak aktif.

Padahal, komunikasi publik itu memerlukan interaksi yang sifatnya dua arah untuk menemukan pengertian yang sama (mutual understanding). Di sini esensi tujuannya sebagaimana yang ditetapkan dalam protokol komunikasi publik Covid-19.

Pelajaran dari strategi komunikasi publik pemerintah Selandia Baru adalah kehadiran negara dengan cara yang ”akrab”. Setiap hari Perdana Menteri Selandia Baru Ardern muncul di televisi dalam sesi brifing media yang ramai. Dia pun kerap muncul dalam sesi Facebook live, menjawab pertanyaan publik dan menjelaskan strategi pemerintah. Dirjen Kesehatannya, Ashley Bloomfield, pun banyak muncul di media dan dipuji karena responsnya yang sederhana, berbasis ilmiah, dan jelas. Sedangkan strategi komunikasi publik Taiwan dilakukan dengan tindakan proaktif, berbagi informasi ke publik, serta menerapkan teknologi dalam bentuk menganalisis big data dan platform online.

Indonesia pastilah berbeda dengan Selandia Baru dan Taiwan. Baik dari segi geografis maupun populasi. Namun, strategi komunikasi yang bersifat melayani (dua arah), kesigapan tim komunikasi, dan pemanfaatan teknologi komunikasi secara maksimal layak ditiru. Memang infrastruktur teknologi komunikasi kita belum merata. Tetapi, perangkat kelembagaan komunikasi masyarakat bisa diperankan. Tokoh adat dan forum-forum kebudayaan setempat bisa menjadi andalan komunikasi publik.

Hari-hari ini kita berada dalam kelelahan dan perasaan bingung. Lelah karena aktivitas sosial terbatasi regulasi pencegahan penularan Covid-19. Bersamaan itu, muncul rasa bingung karena masih cukup banyak warga yang mengalami kemiskinan informasi. Agar masyarakat berdaya diri, strategi komunikasi publik dibangun dengan cara yang transparan dan rutin. Masyarakat perlu diajak bicara. Tidak sekadar menjadi pendengar orang bicara.

Kehadiran juru bicara tidak cukup hanya membawa kabar kematian. Tetapi juga memberikan pengetahuan dan bisa mengulik hati warga untuk peduli sesama. Kebijakan komunikasi publik bisa menjadi andalan mendisiplinkan warga. Masyarakat harus dihindarkan dari kekurangan informasi yang akurat. Informasi Covid-19 yang akurat dan dikomunikasikan secara efektif akan membantu warga berdaya menghadapi pandemi. (*)


*) Suko Widodo, Dosen Departemen , Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Airlangga

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads