alexametrics

Shenzhen dan Supremasi Teknologi Tiongkok

Oleh : Uruqul Nadhif Dzakiy*)
13 Juli 2019, 18:10:49 WIB

BELAKANGAN ini fokus dunia tertuju kepada perang dagang (trade war) antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Hal yang menarik selain tariff barrier yang menjadi senjata AS untuk membatasi gempuran produk-produk Tiongkok, AS berinisiatif memotong rantai suplai perusahaan high-tech raksasa Tiongkok Huawei dengan perusahaan AS.

Langkah serupa dilakukan Tiongkok dengan berencana menaikkan pajak perusahaan AS, Apple yang menguasai pasar ponsel di negara tersebut sekitar 9,1 persen pada 2018. Sejak dilantik menjadi presiden AS, Donald J. Trump dalam berbagai kesempatan mengajak negara-negara sekutunya untuk melakukan langkah serupa dengan melaksanakan agitasi terus-menerus kepada Tiongkok.

Melihat fenomena itu, sempit jika permasalahan tersebut hanya dikatakan perang dagang. Saya lebih setuju dengan istilah dari Debby Wu dkk di kolom media daring Bloomberg(20/6/2019) yang menyebut fenomena tersebut sebagai perang dingin teknologi (tech cold war).

Simbol kedigdayaan teknologi AS diwakili Silicon Valley yang dihuni perusahaan raksasa dunia seperti GoogleFacebook, Intel, dan Tesla yeng mencapai puncak kejayaan sejak Perang Dunia II berakhir. Sementara itu, Tiongkok diwakili Shenzhen, sebuah wilayah zona ekonomi khusus sejak era revolusi budaya Tiongkok pimpinan Deng Xiaoping pada 1980. Distrik tersebut saat ini dihuni berbagai perusahaan raksasa yang kini menguasai pasar dunia seperti halnya Huawei, Tencent, DJI, BYD, dan masih banyak lagi.

Jika Silicon Valley kini merupakan distrik dengan pendapatan per kapita terbesar di AS, bahkan dunia, sebesar USD 128,308 (theguardian.com, 30/4/2019), sangat mungkin Shenzhen yang pendapatanya hanya seperlimanya pada 2014 akan menyalip pada masa depan. Apakah supremasi teknologi dunia tak lama lagi beralih ke Shenzhen?

Shenzhen dan Simbol Supremasi

Shenzhen awalnya adalah sebuah wilayah pedesaan yang jauh terbelakang. Pada 1970-an, penduduk kota tersebut hanya sekitar 30 ribu. Ketika reformasi kebudayaan melanda Tiongkok yang diprakarsai Deng Xiaoping, Shenzhen difokuskan untuk menjadi daerah ekonomi khusus. Sejak saat itu, kawasan yang berbatasan langsung dengan Hongkong, Taiwan, dan Makau itu mulai mengawali pembukaan investasi asing dari berbagai perusahaan dunia, termasuk Apple.

Saat itu perusahaan yang didirikan di sana tak lebih dari perusahaan perakitan (assembling) dengan tenaga kerja murah. Kini Shenzhen bertransformasi menjadi kota megapolitan yang mampu melahirkan pengusaha-pengusaha asli Tiongkok, seperti Ren Zhengfei yang sukses mendirikan perusahaan telekomunikasi terkemuka Huawei. Jika saat itu produk-produk perusahaan Tiongkok dikenal sebagai produk imitasi alias KW, seiring berjalannya waktu produk-produk mereka menjadi inovatif, tak kalah oleh yang diproduksi AS. Kini kota tersebut berpenduduk 10 juta jiwa dengan gedung-gedung pencakar langit, sistem transportasi modern, dan perdagangan kelas dunia (Harvard Business Review, 18/11/2014).

Tiongkok diprediksi akan menjadi kiblat high-tech pada masa depan seperti artificial intelligence (AI), robotika, dan kendaraan listrik. Itu sangat beralasan karena Tiongkok paling siap untuk teknologi 5G, generasi selanjutnya dari teknologi komunikasi. Media terkemuka Jepang Nikkei Asian Review (asia.nikkei.com3/5/2019) mencatat bahwa paten terbesar terkait teknologi itu dimiliki Tiongkok dengan 34,02 persen, sedangkan AS hanya 13,91 persen.

Selain itu, negara Tirai Bambu itu juga memiliki cita-cita yang paling jelas jika dibandingkan dengan AS, sekalipun didukung sistem politik satu partai. Pada 2025, negara tersebut memiliki visi ambisius ’’Made in Tiongkok 2025’’ untuk teknologi generasi baru dan pada 2050 sebagai world class army (economist.com, 27/6/2019). Untuk mewujudkan visi tersebut, megainfrastruktur Belt and Road Inititiative (BRI) tengah dilangsungkan yang memungkinkan negara itu akan menjadi episentrum pendagangan global.

Dari semua rencana besar itu, Tiongkok sadar bahwa inovasi teknologi adalah katalis utama untuk mencapai semuanya. Dari situlah Shenzhen diproyeksikan menjadi simbol baru supremasi high-tech dunia mengungguli Silicon Valley yang kita kenal bertahun-tahun.

Penyebutan Shenzhen sebagai episentrum teknologi dunia sangat beralasan. An Xiao Mina dan Jan Chipchase di majalah ternama MIT Technology Review (18/12/2018) menyebut Shenzhen sebagai pusat inovasi, entrepreneurship, dan manufaktur sekaligus di mana ini tidak dimiliki Silicon Valley. Bahkan, kini beberapa perusahaan yang berbasis di kota tersebut berhasil unggul atas perusahaan Amerika dari segi paten.

Pada 2014, Huawei memiliki 3.442 paten internasional. Sedangkan Qualcomm hanya 2.409, Tencent 1.086, Microsoft 1.460, dan ZTE 2.179 paten. Sedangkan Intel mempunyai 1.539 paten internasional (The European Financial Review) 2017). Jika kini Shenzhen dikenal sebagai ’’Silicon Valley of Hardware’’, ke depan kota itu sangat mungkin menjadi pusat hardwaredan software sekaligus. Melihat progresivitas Shenzhen yang bergerak menjadi pusat teknologi dunia, penting bagi Indonesia untuk mengambil pelajaran dari kota tersebut.

Langkah Indonesia

Sebagian besar mindset pemimpin di negara kita melihat Silicon Valley sebagai satu-satunya rujukan. Terlihat dari apa yang disampaikan Menkominfo Rudiantara (viva.co.id, 23/10/2015), Menteri Perdagangan Airlangga Hartanto (antaranews.com, 16/1/2018), dan Wali Kota Bandung saat itu Ridwan Kamil (money.kompas.com, 22/9/2014) bahwa Bandung atau kota lain berpotensi menjadi Silicon Valley selanjutnya. Mereka terlalu ’’silau’’ kepada kecanggihan distrik di California tersebut, namun kurang update bahwa terdapat distrik-distrik inovatif baru yang bisa menjadi role model. Shenzhen salah satu di antaranya. Dan, Breznitz sampai menulis di Harvard Business Review (18/11/2014) bahwa Silicon Valley tidak cocok menjadi model inovasi untuk ditiru negara lain melihat sejarah perkembangan distrik ini yang tidak lumrah dan sukar diikuti. Peneliti dari Innovation Policy Lab University of Toronto tersebut menyebut yang perlu ditiru adalah distrik yang sukses memanfaatkan rantai suplai global. Dari sinilah Shenzhen justru yang lebih cocok.

Meniru apa yang dilakukan Tiongkok dengan Shenzhen, pemerintah Indonesia nosa menghidupkan kembali kota Batam yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka (Singapura) seperti yang pernah digagas pada zaman Orde Baru dulu. Langkah yang dilakukan pertama ialah mengundang investor perusahaan elektronik terkemuka untuk membangun industri manufaktur di sana, kemudian pelan-pelan kita serap pengetahuan berindustri mereka sehingga pada akhirnya kita mampu untuk turut bermain dalam produksi produk inovatif.

Perizinan dan regulasi yang tumpang tindih yang masih menjadi persoalan perlu segera diatasi. Ditambah lagi, sinergitas pemerintah lokal dengan pusat juga perlu segera dilakukan. Jika kita mampu menyelesaikan persoalan tersebut dengan segera, sangat mungkin Indonesia akan bisa mengambil benefit dari perang dagang Tiongkok-AS yang kini tengah berlangsung disertai dengan harapan mewujudkan techno-city seperti Shenzhen pada masa depan. (*)

*) Peneliti di Management of Technology Laboratory (MoT Lab) School of Business and Management Institut Teknologi Bandung (SBM ITB)

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads