alexametrics

Dakwah Era Gegap Gempita

Oleh NADJIB HAMID *)
13 Januari 2021, 19:48:09 WIB

MENURUT bahasa agama, setiap usaha sungguh-sungguh untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik disebut dakwah. Dalam Islam, orang yang berdakwah, atau lengkapnya dakwah amar makruf nahi mungkar, mendapat predikat umat paling utama (QS Ali Imran: 110).

Sebaliknya, sekalipun mereka rajin beribadah, tapi bertindak kasar terhadap anak yatim dan mengabaikan nasib fakir miskin serta para gelandangan atau tunawisma, disebutnya sebagai pendusta agama (QS Al Maun).

Dalam sejarahnya, jalan dakwah memang berliku dan penuh warna. Ada yang sunyi dan ada pula yang gegap gempita. Masing-masing mempunyai konsekuensi yang berbeda.

Tapi, kini memang era gegap gempita. Semua hal diukur oleh riuh rendahnya suatu perkara. Pun dalam hal berdakwah, terutama nahi mungkarnya. Semakin gaduh tindakannya, akan semakin eksis pelakunya. Sebaliknya, jika tanpa gegap gempita, dianggap tidak melakukan apa-apa. Termasuk dalam menyantuni orang-orang tunawisma.

Rupanya, cara berpikir seperti itu telah merasuki sebagian warga Muhammadiyah. Sehingga persyarikatan bersimbol matahari ini belakangan kerap dinilai lemah dalam hal nahi mungkar gegara tidak dilakukan dalam suasana gegap gempita. ’’Mengapa Muhammadiyah tidak menonjol nahi mungkarnya?’’ gugat mereka dalam beberapa acara.

Dikira yang disebut nahi mungkar itu identik dengan membawa pentungan ke tempat kemungkaran seraya memekikkan takbir sambil ngaploki para pelaku maksiat dan memorak-porandakan tempat maksiatnya. Itu adalah cara melihat Muhammadiyah dengan kacamata yang salah.

Sejak awal, dakwah amar makruf nahi mungkar Muhammadiyah dilakukan dalam bingkai gerakan kultural tanpa aura gegap gempita. Ketika menyantuni anak-anak yatim dan fakir miskin serta janda-janda tua sehingga terselamatkan akidahnya, bukankah itu nahi mungkar yang luar biasa? Bayangkan kalau akidah mereka tidak dibentengi, lalu diserbu agama lain dan terjadi pemurtadan, betapa mungkarnya!

Demikian pula, ketika Muhammadiyah mendirikan lembaga pendidikan untuk mencerdaskan anak bangsa sehingga bangsa ini terbebas dari penjajah dan belenggu kebodohan lainnya, bukankah itu bisa disebut nahi mungkar juga?

Termasuk pula, di masa pandemi ini, Muhammadiyah melalui rumah sakit dan lembaga kesehatan yang dimilikinya menolong orang-orang yang terpapar virus korona, kemudian ditakdirkan selamat jiwanya, bukankah itu dakwah amar makruf nahi mungkar pula?

Begitulah cara Muhammadiyah membingkai dakwah amar makruf nahi mungkar. Semua dilakukan secara kultural dalam diam dan jauh dari suasana gegap gempita sehingga kurang menarik untuk diberitakan di media massa.

Teladan dalam Berdakwah

KH Ahmad Dahlan memang merupakan teladan sejati dalam berdakwah. Lihatlah, misalnya, ketika kali kedua datang di Banyuwangi untuk berdakwah. Mengetahui bahwa dirinya diancam akan dihabisi nyawanya, beliau tidak galau. Tapi cukup dihadapi dengan menggunakan logika yang sangat sederhana.

’’Sekali lagi datang ke Banyuwangi, Anda akan tinggal nama,’’ ancam seseorang melalui surat kalengnya. Kiai Dahlan adalah orang yang paham psikologi massa. Dalam pemaknaannya, orang yang suka mengancam menandakan dirinya tidak berani menghadapi masalah. Karena itu, setelah mendapat ancaman akan dihabisi nyawanya, beliau justru bergegas menuju Banyuwangi lagi dengan mengajak istrinya.

Begitu turun dari kereta, Kiai Dahlan didatangi sejumlah polisi dan menyuruhnya untuk membatalkan pengajian dan meminta segera kembali ke Jogjakarta.

’’Pak Kiai kembali saja ke Jogja,’’ bujuk polisi.

’’Kenapa, Pak Polisi?’’ tanya sang kiai.

’’Karena ada sekelompok orang yang akan membunuh Pak Kiai,’’ jawab mereka.

’’Pak Polisi ini aneh. Saya mau mengajak berbuat baik disuruh kembali ke Jogjakarta, tapi yang mau bunuh saya kok dibiarkan saja,’’ sangkal Kiai Dahlan.

Akhirnya Pak Polisi mati gaya dan tidak bisa lagi mencegahnya. Setelah itu, Kiai Dahlan memberikan pengajian agama. Dan orang yang berkirim surat tadi, Abdullah namanya, adalah orang Banyuwangi yang kali pertama menyatakan masuk Muhammadiyah.

Hanya dengan logika sederhana, tanpa gegap gempita, apalagi pertumpahan darah, orang yang semula mengancam akan membunuhnya berbalik menjadi pengikut setia Kiai Ahmad Dahlan dan penggerak Muhammadiyah.

Tentu semua itu tidak lepas dari kedalaman ilmu agama dan keluasan pergaulan sang pendiri Muhammadiyah. Tidak otomatis semua orang bisa meneladaninya jika tanpa didukung bekal kedalaman ilmu agama dan keluasan pergaulannya. Alih-alih meneladaninya, yang terjadi justru salah paham dengan dakwah amar makruf nahi mungkar Muhammadiyah.

Baca Juga: Islam, Peradaban, dan Pembangunan Ekonomi

Menghadapi era pandemi ini, misalnya, Muhammadiyah melalui putusan majelis tarjih telah membuat tuntunan ibadah yang sesuai dengan protokol kesehatan dalam rangka menjalani maqashid syariah, yakni menjaga jiwa dan agama, tapi disalahpahami sebagai berlebihan mengikuti ketentuan pemerintah. Sementara itu, konsep dakwah kultural Muhammadiyah sempat disalahpahami dan ditolak oleh sebagian jamaah karena dianggap telah melegalkan hal-hal berbau takhayul, khurafat, dan bidah.

Padahal, inti dakwah kultural sebenarnya menegaskan kembali tentang jati diri Muhammadiyah yang bukan merupakan gerakan politik kekuasaan yang gegap gempita. Berbeda pula dengan gerakan menyantuni para tunawisma yang dilakukan penguasa sebagai pencitraan untuk memperoleh simpati massa. (*)


*) Nadjib Hamid, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar


Close Ads