alexametrics

Demonstran Hari Ini Adalah Polisi Masa Depan

Oleh REZA INDRAGIRI AMRIEL *)
12 November 2020, 19:48:39 WIB

SITUASI unjuk rasa makin penuh tantangan karena masyarakat demonstran yang dihadapi Polri adalah kaum muda. Sebagian di antaranya bahkan masih berusia kanak-kanak. Mereka adalah mahasiswa dan pelajar.

Kaum muda tersebut adalah warganet sekaligus kaum milenial. Mereka sangat mengandalkan media sosial dan aplikasi komunikasi berbasis gawai sebagai rujukan informasi. Informasi yang hadir di dua wahana itu niscaya lalu-lalang dengan deras dan tanpa disunting sama sekali.

Bahwa kaum belia (mahasiswa dan pelajar) kemudian menjadi rawan bias memang bisa demikian. Yang jelas, sebagaimana riset Christina Conkling (2019), semakin banyak waktu yang digunakan kaum belia untuk menyimak informasi di media sosial dan aplikasi komunikasi berbasis gawai, semakin tinggi pula penolakan mereka terhadap penggunaan kekerasan oleh polisi. Dengan kata lain, paparan informasi tentang polisi hari-hari ini berpotensi meninggalkan kesan yang tidak begitu positif di benak kaum milenial. Padahal, mereka sesungguhnya merupakan sumber daya manusia kepolisian pada masa yang akan datang.

Minat Menjadi Polisi

Secara nasional, jumlah peminat kerja sebagai polisi di Negeri Paman Sam (Amerika Serikat) telah menurun hingga ke level yang disebut sebagai krisis. Kecenderungan serupa berlangsung di Jepang, Inggris, dan berbagai negara lain. Bukan hanya jumlah pendaftar yang kian lama kian rendah. Jumlah personel kepolisian yang mengundurkan diri ternyata juga meningkat.

Jadi, persoalan yang mengemuka bukan hanya bagaimana memikat warga negara agar mau bergabung ke dalam organisasi kepolisian. Tetapi juga bagaimana menciptakan institusi kepolisian yang tetap menarik sehingga para anggotanya mau terus berkarir di dalamnya.

Situasi di Indonesia masih perlu ditelaah secara lebih saksama hingga beberapa waktu ke depan. Namun, animo masyarakat untuk mengikuti seleksi Akademi Kepolisian (Akpol) Republik Indonesia (RI) tergambar pada penurunan dari 15 ribu pendaftar pada 2017 ke 13 ribu setahun setelahnya. Berkurangnya peminat seolah mengindikasikan bahwa publik tidak terangsang untuk menjadi jago-jago penumpas teror, ahli pemberantasan kejahatan siber, pasukan peringkus penjahat ekonomi, tribrata pembasmi kejahatan seksual anak, dan posisi-posisi lain yang sesungguhnya membuat Polri lebih berwarna dewasa ini.

Satu kemungkinan yang penting dikaji, berkurangnya angka peminat menjadi polisi merupakan imbas dari bermunculannya para calon tenaga kerja baru yang membawa tabiat khas mereka selaku generasi milenial. Kepribadian mereka bertolak belakang dengan atmosfer kerja kepolisian yang dinamikanya tidak banyak berubah. Institusi kepolisian terus bersentuhan, bahkan menjadikan bahaya sebagai menu hariannya. Sementara warga ulayat digital (kaum milenial) menggemari pekerjaan yang penuh kesenangan.

Institusi kepolisian juga sangat hierarkis dengan kesiagaan tingkat tinggi, sedangkan pekerja pendatang baru di era milenial menyukai format kerja yang lentur. Juga, terlebih pada waktu-waktu belakangan ini, anggota kepolisian acap terekspos ke publik laksana personel paramiliteristik. Padahal, para calon profesional milenial lebih gandrung akan gaya hidup yang sedang ”in”, sedang ”happening”, sedang ”viral”.

Sentuhan Personal

Problematika masyarakat kian pelik. Lembaga kepolisian bisa saja menetapkan standar-standar pencapaian kinerja. Tapi, pada akhirnya penilaian masyarakat yang menjadi penentu.

Pemikiran tersebut menjadi dasar untuk meyakinkan pemangku kepentingan bahwa posisi paling strategis di kepolisian adalah pos-pos penugasan yang memungkinkan personel berinteraksi seluas dan selangsung mungkin dengan masyarakat. Kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan berkomunikasi personel saat berhadapan dengan masalah orang per orang atau situasi per situasi dituntut sangat tinggi. Business as usual, kerja berbasis prosedur tetap, dikhawatirkan tidak lagi laris. Polisi yang tidak kreatif, tidak sigap mengolah informasi, dan tidak komunikatif akan diabaikan, bahkan harus bersiap menerima sinisme masyarakat.

Atas dasar itu, berbahagialah anggota kepolisian yang bekerja sebagai petugas yang saban hari ronda dan bercengkerama dengan warga. Merekalah yang semestinya bisa diasumsikan sebagai pekerja yang memiliki kelengkapan berupa kreativitas tertinggi, paling cakap berpikir, dan paling komunikatif.

Bahkan, dengan keinsafan bahwa mustahil setiap persoalan diselesaikan seorang diri, personel bersangkutan juga sepatutnya paling cekatan membangun kolaborasi dengan individu dan kelompok terkait. Para petugas di lini itu pula yang sesungguhnya paling berkesesuaian dengan karakter para digital natives. Yaitu menempatkan kepatuhan pada atasan sebagai agenda berikutnya setelah memberikan sentuhan personal kepada masyarakat.

Karena mereka berada di ujung tombak, kriteria bagi para petugas tersebut tidak boleh sekadar normatif. Tempaan bagi mereka pun tidak selayaknya sebatas menggugurkan kewajiban. Mereka harus dididik agar tumbuh menjadi manusia pembelajar. Ringkasnya, para petugas kepolisian yang dalam keseharian mereka berada di lini terdepan itu adalah (idealnya) personel kelas satu.

Secara spesifik, konsekuensinya, jabatan mereka pun dicap sebagai posisi paling prestisius yang diincar setiap orang yang berminat menjadi anggota kepolisian. Paralel dengan itu, secara umum, lewat tulisan ini cukuplah ditandaskan, lembaga kepolisian pun mesti menjelma sebagai lingkungan kerja yang sungguh-sungguh kolaboratif, lebih terbuka, serta lebih memberikan peluang bagi para warga milenial untuk menerapkan ilmu dan keahlian mereka.

Sekian banyak harapan serta gambaran tentang insan dan organisasi kepolisian seperti dijabarkan di atas sesungguhnya bukan hal yang benar-benar baru. Bedanya, kini desakan agar lembaga kepolisian terus mereformasi dirinya datang tak lagi melulu dari ujaran kaum cerdik cendekia. Tapi juga, tak terelakkan, dari perkembangan teknologi dan pengaruhnya terhadap lahirnya golongan digital natives, yakni kaum muda dengan tabiatnya yang serbakhas serbalugas.

Rebut hati kaum muda milenial, latih pikiran mereka. Begitu titah sang waktu agar Polri tidak kekurangan orang sekaligus bisa terus menjawab tantangan zaman. Allahu a’lam. (*)


*) Reza Indragiri Amriel, Ketua Delegasi Indonesia Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads