alexametrics

Indonesia Menuju Bahasa Dunia

Oleh PRAMUDITO *)
12 Oktober 2021, 19:48:24 WIB

DALAM hubungan antarnegara dikenal istilah bahasa diplomatik. Bahasa diplomatik yang dimaksudkan di sini sebagai bahasa yang dipergunakan dalam pergaulan dan hubungan antarnegara. Baik dalam tataran bilateral, regional, maupun internasional. Umumnya kita lantas membayangkan bahasa-bahasa asing yang sudah mendunia sebagai bahasa diplomatik seperti bahasa Inggris dan Prancis. Memang benar, selama ini dua bahasa diplomatik dunia yang paling menonjol adalah bahasa Inggris dan Prancis. Tapi, mungkin banyak yang tidak mengetahui bahwa bahasa Indonesia sebenarnya sudah menjadi bahasa diplomatik walaupun dalam batas-batas tertentu.

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia, pasal 28 berbunyi: ”Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi presiden, wakil presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri”, dengan tambahan penjelasan: ”…kecuali dalam forum resmi internasional di luar negeri yang menetapkan penggunaan bahasa tertentu.” Undang-undang tersebut secara tersurat mengisyaratkan keinginan agar bahasa Indonesia juga dikenal, diketahui, dan dipakai dalam pergaulan internasional.

Dalam masa kepemimpinannya, Presiden Soeharto merupakan presiden yang paling konsisten menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan kedinasan. Baik di dalam maupun luar negeri bila berdialog dengan tamu asing atau menyampaikan pidato di acara-acara tertentu. Misalnya, dalam pidato di depan sidang FAO di Roma dan sidang Majelis Umum PBB di New York, Presiden Soeharto menggunakan bahasa Indonesia.

Penggunaan bahasa Indonesia harus menjadi kebanggaan tersendiri bagi setiap warga negara Indonesia, apalagi pejabat negara, termasuk diplomat. Dengan demikian, selama ini bahasa Indonesia sudah dijadikan alat komunikasi atau bahasa diplomatik dalam pergaulan internasional. Dengan makin canggihnya teknologi penerjemahan, tidak menjadi masalah bila seorang pejabat dari negara mana pun menggunakan bahasa nasional sendiri.

Orang Inggris bangga karena bahasanya digunakan sebagai bahasa internasional yang utama. Tapi, bangsa yang paling bangga terhadap bahasa nasionalnya, bahkan ”fanatik”, adalah orang Prancis. Diplomat-diplomat asing yang bertugas di Prancis atau negara lain yang berbahasa Prancis tidak boleh tidak harus belajar dan bisa berbahasa Prancis.

Lalu, bagaimana dengan negara-negara lain seperti Asia? Orang-orang China, apalagi bila sedang di negara sendiri, pantang berbahasa selain bahasa China (Mandarin). Pemerintah China biasanya menyiapkan penerjemah, baik bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya sesuai kebutuhan.

Ada pengalaman penulis ketika bertugas (posting) di Beijing 25 tahun lalu. Suatu ketika KBRI mengirimkan nota diplomatik dalam bahasa Inggris kepada Kementerian Luar Negeri China. Tapi, Kemenlu China secara halus mengharapkan agar nota diplomatik cukup ditulis menggunakan bahasa Indonesia dengan lampiran terjemahan bahasa China.

Di Korea Utara, pejabatnya sama sekali tidak mau berbahasa lain kecuali bahasa Korea. Negara itu menyediakan korps penerjemah dalam hampir semua bahasa asing di dunia. Ketika menerima diplomat Indonesia, pejabat di Kemenlu Korea Utara menggunakan bahasa Korea, tapi didampingi seorang penerjemah bahasa Indonesia. Itulah ”kelebihan” Korea Utara. Mereka mendidik khusus anggota-anggota tim penerjemah dalam bahasa-bahasa asing, termasuk bahasa Indonesia atau Melayu.

Di Jepang agak lain lagi. Meskipun diplomat Jepang tidak mau berbahasa Inggris, bila seorang diplomat Indonesia berurusan dengan Kemenlu Jepang (Gaimusho), staf di Desk Indonesia Gaimusho bisa berbahasa Indonesia.

Jadi, sebenarnya di beberapa negara, bahasa Indonesia sudah mendapat perhatian dan dipelajari negara-negara yang bersangkutan. Khususnya di sini untuk kepentingan hubungan diplomatik dengan Indonesia.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:




Close Ads