alexametrics

Kita Memasuki Era Kartun Tom and Jerry

Oleh HATIB ABDUL KADIR *)
12 Oktober 2020, 19:48:36 WIB

UNDANG-UNDANG Omnibus Law Cipta Kerja didasarkan pada motivasi pemerintah yang hendak mengurangi angka statistik pengangguran. Caranya adalah merekrut sebanyak-banyaknya pekerja meski dengan kondisi yang penuh kerentanan (precarious). Karena itu, pemerintah beranggapan, sudah mendapatkan pekerjaan saja masyarakat pasti bersyukur.

Keputusan pemerintah menciptakan undang-undang itu mengakibatkan munculnya jenis status karyawan baru yang disebut sebagai pekerja prekariat. Sebagaimana definisi yang digunakan Guy Standing, The Precariat: The New Dangerous Class (2011), pekerja prekariat tidak mempunyai mobilitas sosial.

Dalam artian tidak mengalami promosi kepangkatan, naik gaji, tidak mempunyai serikat, dan jenis pekerjaan prekariat menjadi alternatif terakhir daripada menganggur. Pekerja dapat setiap waktu diberhentikan dan tidak dapat menuntut perusahaan.

Ketakutan dan perasaan insecure adalah faktor dominan yang menyebabkan pekerja prekariat kehilangan pekerjaan. Dan undang-undang ini melegitimasi perusahaan untuk merawat perasaan takut tersebut. Ketakutan itulah yang saat ini menyebabkan demonstrasi menjadi privilese bagi karyawan yang berstatus tetap karena mereka dilindungi undang-undang untuk mengemukakan pendapat. Namun, tidak bagi pekerja prekariat yang berstatus kontrak (outsourcing), paro waktu (part-timer), magang (internship) dan pekerja lepas (freelancer).

Pandemi yang disusul dengan terbitnya UU Ciptaker semakin melengkapi kecemasan pekerja prekariat, khususnya dari generasi milenial. UU Ciptaker melegitimasi mereka untuk semakin masuk dalam kerentanan. Stagnan dan rendahnya gaji juga membuat pengeluaran pekerja kontrak hanya habis untuk konsumsi dan bahkan saling berutang.

Orang Tua Lebih Mapan daripada Anak

Ini adalah masa di mana orang tua generasi milenial lebih sejahtera dibandingkan anak-anaknya. Sifat pekerjaan orang tua mereka lebih stabil dan tetap. Mereka mendapatkan jaminan kesehatan, pensiunan, dan rumah. Sebaliknya, generasi milenial hampir tidak mempunyai bayangan untuk membeli rumah seperti yang dilakukan orang tua mereka. Sebagai gantinya, alokasi gaji mereka digunakan untuk jalan-jalan atau berburu kuliner enak.

Di Amerika, misalnya, konsep ’’American Dream’’ mulai hilang, di mana setiap pendatang dapat mencapai mimpinya asalkan ia kerja keras. Amerika kehilangan generasi optimistisnya, baby boomers yang lahir tahun 1940–1950. Baby boomers adalah generasi pekerja keras dan dapat hidup lebih baik dibandingkan orang tua mereka. Namun, kini yang terjadi sebaliknya. Data dari Georgetown Center on Education and the Workforce (CEW) Amerika Serikat menunjukkan bahwa anak dengan orang tua kaya terjamin lebih sukses dibandingkan seorang anak yang terlahir cerdas atau bekerja keras, namun berasal dari keluarga pas-pasan.

Generasi milenial sebagai pekerja prekariat harus terus mereinvensi identitas dirinya karena jenis pekerjaan kontrak yang singkat dan berbeda-beda. Saya menyebutnya sebagai hidup dalam ’’temporalitas’’. Filsuf Slovenia Slavoj Zizek mengumpamakan temporalitas generasi milenial seperti film kartun Tom and Jerry. Dua figur kartun itu saling berkejaran, sesekali ada yang ekornya terpotong, badannya terjepit pintu, bulunya terbakar, dan luka-luka lainnya.

Namun, di episode selanjutnya, mereka kembali muncul dalam keadaan bugar, kembali saling berkejaran dan terluka, dan seterusnya. Fenomena temporalitas hidup dari satu seri ke seri lainnya kini terjadi pada pekerja prekariat generasi milenial. Mereka hancur dan bangkit lagi dan seterusnya.

Hidup adalah adegan serial dari satu kontrak ke kontrak kerja selanjutnya. Hari ini bekerja di sektor pertanian, dua tahun setelah bekerja mengurusi pengungsian, dan seterusnya. Menganggur sebentar, terluka, dan bertahan dengan tabungan yang ada hingga kembali mendapatkan pekerjaan baru.

Fleksibilitas kerja ala Tom and Jerry ini justru membuat kecemasan pada pekerja milenial meningkat. Anak muda cemas terhadap masa depan karena terjadi perubahan struktur dan jenis pekerjaan. Pekerjaan yang stabil seumur hidup berangsur-angsur berkurang tergantikan dengan pekerjaan tidak tetap tanpa jaminan pensiun dan asuransi kesehatan.

Dan sejak 20 tahun terakhir, isu tentang mental health atau kesehatan mental di kalangan anak muda menjadi perhatian serius. Satu karya etnografi Anne Allison, Precarious Japan (2013), dengan bagus menggambarkan situasi ini. Hilangnya kebijakan kesejahteraan dan asuransi kesehatan dalam pekerjaan, hilangnya jaminan pensiun, tegangnya kompetisi antarindividu, tingginya harapan orang tua, hilangnya solidaritas komunitas, hanya menyisakan banyak generasi yang kalah, cemas, dan akhirnya menyendiri dalam kamar-kamar di rumah. Mereka disebut dengan hikikomori atau generasi yang mengungsi (eksil) dan homeless dalam rumah orang tuanya. Tak sedikit di antara mereka yang berujung dengan bunuh diri.

Pertentangan Antarkelas

Di sisi lain, beberapa laporan menunjukkan perbedaan status pekerjaan menyebabkan ketegangan antara karyawan tetap dengan pekerja prekariat. Pekerja prekariat ini membentuk identitas dan kesadaran baru mereka sebagai kelas prekariat. Mereka iri melihat pekerja tetap yang mempunyai serikat kerja dan jaminan sosial. Sementara itu, pekerja tetap iri melihat kebebasan dan fleksibilitas pekerja prekariat.

Pertentangan dua kelas berlanjut dalam pilihan politik yang tecermin dalam berbagai hasil pemilihan di belahan dunia. Pekerja tetap cenderung memilih partai buruh, sedangkan kelas pekerja prekariat memilih partai konservatif. Sementara itu, kelas menengah yang terdidik cenderung golput. Alasan pekerja dari kelas prekariat memilih partai konservatif adalah karena mereka merindukan masa lalu yang stabil, jaminan sosial terpenuhi, hidup tidak harus dipenuhi dengan disrupsi dan kompetisi, melainkan kerja sama kolektif dan struktur yang mapan.

Omnibus law UU Ciptaker adalah kereta maut yang akan menyeret manusia untuk semakin cepat berubah dengan alasan pembangunan. Namun, satu yang sering dilupakan, sejarah telah membuktikan bahwa kemajuan dalam pembangunan selalu banyak menyisakan mereka yang tertinggal dan terluka seperti buntut Tom yang dijepit dan dibakar oleh Jerry.


*) Hatib Abdul Kadir, Visiting Professor School of Foreign Languages Peking University, dosen Antropologi Universitas Brawijaya

Editor : Dhimas Ginanjar




Close Ads