alexametrics

Terbang Tinggi, Pak Habibie…

Oleh Reza Indragiri Amriel *)
12 September 2019, 14:06:03 WIB

SEWAKTU Presiden Soeharto masih kuat-kuatnya, datukku –Maaz namanya– sudah membuat ramalan bahwa kelak akan ada satu nama yang menjadi presiden Indonesia berikutnya. Siapa gerangan? ’’Habibie. B.J. Habibie,’’ sebut Datuk Maaz di bangku ruang tamu rumah panggung kami. Kenapa nama Bacharuddin Jusuf Habibie yang dia sebut, belakangan baru kupaham penyebabnya. Ramalan itu tak ubahnya harapan. Dan harapan datukku adalah laksana pantulan dirinya sendiri, yaitu dua sisi pada satu orang. Izinkan kubandingkan, bahkan lebih tepat lagi kusandingkan, dua figur yang kukagumi itu.

Pertama, Habibie pintar dan datukku pun adalah orang pintar. Masih jernih ingatanku tentang rapor datukku yang dipenuhi angka-angka mengagumkan. Saking pintarnya, datukku berkisah, ia bisa melalui kelas tertentu hanya dalam waktu satu tahun, ketika para pelajar lainnya di tingkatan yang sama harus menempuh masa dua tahun.

Datukku juga mahir berpidato. Namun, ketika kutanya mengapa ia tidak meneruskan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, betapa kesempatan itu ada, jawabnya, ’’Emak [ibunda datukku] melarang. Takut anaknya jadi kafir.’’

Kafir, pada masa itu, bersinonim dengan penjajah Belanda. Dalam kata ’’kafir’’ terkandung serbaneka kedurhakaan tabiat manusia. Dan itulah sumber kerisauan orang-orang dulu; biarpun pintar dan bersekolah tinggi, itu tak ada gunanya apabila kepribadian rusak binasa.

Terlihat betapa kuatnya pengaruh sosok ibu sehingga bisa memengaruhi pencapaian cita-cita datukku. Walau dengan arah yang berbeda, kedahsyatan peran ibu pula yang menentukan lurus bengkoknya perjalanan hidup Habibie. Tuti Marini Puspowardojo adalah sosok yang mempunyai tekad berkobar-kobar untuk menyekolahkan anak-anaknya, termasuk Habibie, setinggi-tingginya dengan jerih payahnya sendiri. Hebatnya, bak layang-layang berbenang kukuh, walau terbang jauh menuntut ilmu, Habibie tetap kembali ke tempat ibu pertiwi menunggu.

Ayahku punya kiasan tersendiri untuk menggambarkan kepintaran Habibie. ’’Dia seperti tak bisa berhenti bicara ketika kesempatan itu tiba.’’

Dan pemandangan itu senyatanya kusaksikan dalam sekian banyak tayangan wawancara Habibie di TVRI pada 1980-an. Pewawancara seperti kepayahan saat berhadapan dengan tamunya yang satu itu. Seakan lebih sulit bagi si pewawancara untuk menyetop Habibie berbicara ketimbang saat mengerahkan isi kepala guna merumuskan pertanyaan bermutu yang akan diajukan kepada narasumbernya.

Bola mata Habibie seperti bola dunia. Begitu kedua mata itu membelalak, berjuta-juta halaman ensiklopedia pun seketika terbuka. Isi buku pintar itu seolah ingin Habibie bentangkan sebanyak-banyaknya, ceritakan setuntas-tuntasnya, agar lawan bicaranya juga ikut melanglang buana dari ujung ke ujung jagat ilmu pengetahuan.

Tetapi, sekali lagi, kepintaran bukanlah segala-galanya. Ada satu warna lagi yang melekat pada datukku dan juga menjadi aura Habibie. Datukku, di mataku, dekat pada agama. Ritual ibadah mewujud ke dalam perilaku kesehariannya yang sangat tenang sekaligus teguh di jalan lurus. Seumur-umur hanya sekali ia kulihat murka. Yaitu, ketika mendapati seseorang dalam keadaan mabuk akibat menenggak minuman keras, datukku melompat menerjang, lalu melibas kaki orang itu dengan menggunakan sebilah tongkat kayu.

Habibie pun, sebagaimana kubaca biografinya dan kusimak berbagai cerita lisan dari orang-orang yang dekat dengannya, menautkan hatinya kepada agama. Ini, jelas, sosok yang menghasilkan citra bening bak kristal. Pasalnya, ketika tak sedikit orang pintar dan berpendidikan tinggi yang menyekulerkan, bahkan mengateiskan dirinya, Habibie justru tampil ke depan sebagai sosok modern, progresif revolusioner, tanpa menjadi berjarak dengan agama.

Habibie memang bukan nabi. Tetapi, kehadirannya sebagai seorang tokoh di tanah air, dengan membawa sekaligus kepintaran dan kedekatannya kepada agama, punya pengaruh sangat nyata bagiku pribadi. Habibie-lah faktor yang melumerkan inferiority complex-ku. Karena itu, aku kemudian menjadi lebih percaya diri pada momen-momen ketika aku semestinya bisa menonjolkan identitas keagamaanku. Yang paling gampang kujadikan contoh adalah kebiasaan mengucap salam. Dahulu kala, sedikit banyak ada perasaan minder untuk menyapa orang yang kujumpai dengan mengucap salam. Apalagi di tempat umum. Ada gumpalan yang seketika muncul di hati, dan itu seolah berarti kuno bahkan terbelakang, saban kali ingin kuucapkan salam. Tapi, berkat Habibie, lidah, hati, dan lambaian tanganku sanggam berkata, ’’Assalamu’alaikum.’’

Karena itulah, aku merasa kehilangan, masygul, ketika Habibie tak berkeinginan menjadi presiden Indonesia, menyusul penolakan MPR RI atas pidato pertanggungjawabannya. Tapi, tak berselang lama bagiku untuk menemukan penawar atas perasaan kecewaku. Penawar yang juga datang dari Habibie sendiri. Kiprah Habibie yang tetap nyata di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, kesetiaannya kepada cita-cita mengembangkan dirgantara di Nusantara, serta kehebatannya bersama istri tercinta, Ainun, mendidik anak-anak hingga menjadi penerusnya adalah bukti tak terbantahkan bahwa lengser keprabon bukanlah kehancuran. Habibie lagi-lagi menjadi gambaran yang sangat kontras jika dibandingkan dengan sejumlah tokoh lain yang pascaturun dari singgasana kekuasaan langsung menjadi sinis dalam berkata-kata dan angkuh kekanak-kanakan tatkala berhadapan dengan rival-rivalnya.

Sudah sekitar dua dasawarsa Habibie tak lagi berada di lingkaran penentu kebijakan. Tetapi, rasa kangen pada beliau ternyata tak juga kunjung pupus. Sebuah obrolan kecil dengan seorang petinggi maskapai penerbangan swasta adalah pemicu kerinduan itu.

Kepada petinggi tersebut, kutanyakan mengapa perusahaannya sampai harus membeli beratus-ratus burung besi dari luar negeri. Jumlah pesawatnya memang ’’hanya’’ ratusan. Tetapi, jangan keliru, ada ribuan tenaga kerja yang terserap akibat pesanan maskapai tersebut. Juga tak mungkin dinihilkan, ada jutaan dolar yang menggelinding kencang ke rekening bank milik pabrik-pabrik pesawat di negara-negara asing tersebut.

Sang petinggi maskapai yang kutanyai itu menjawab dengan napas berat, ’’Andai impian dirgantara Pak Habibie puluhan tahun silam dilanjutkan hingga sekarang, kami tidak perlu mencari pesawat sampai ke mana-mana.’’

Sah sudah; kritik-kritik pedas yang dulu bertubi-tubi ditimpakan ke Habibie dan visi dirgantaranya kini membuat kita sebatas bisa gigit jari. Kepintaran Habibie yang dulu dilecehkan sebagian kalangan itu membuat industri pembuatan pesawat kita mengalami stall dan teramat-sangat untuk dikembalikan ke altitude yang seharusnya.

Apa pun itu, sebagaimana asa dan stamina Habibie yang tak pernah kehilangan gaya angkat, demikian pula seharusnya tekad kita untuk menyatukan tanah, air, dan udara Nusantara. Semangat itu pula yang ingin kuhunjamkan ke sanubari Aza, anak ketigaku, ketika kutanyakan cita-citanya.

’’Pembuat pesawat tempur, Ayah!’’ tegas Aza sembari mengacungkan telunjuknya ke angkasa.

Sejujurnya, naskah ini mulai kususun dua tahun silam. Tapi, ubah sana ganti sini tak kunjung usai. Baru petang semalam tanda titik penutup kububuhkan. Salaam, Pak Habibie. Semoga shaf terdepan, bersama insan-insan terbaik lainnya yang Ia cintai, Allah Swt berikan untukmu. (*)

*) Ketua Delegasi Indonesia dalam Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia 1995–1996

Editor : Dhimas Ginanjar

Alur Cerita Berita

Lihat Semua


Close Ads