alexametrics

Menggagas Koperasi Kesehatan

Oleh JAMAL WIWOHO *)
12 Juli 2021, 19:48:14 WIB

HARI ini, 12 Juli, adalah Hari Koperasi. Koperasi di Indonesia telah berulang tahun ke-74. Menginjak usia tersebut, bagaimana kiprah koperasi dalam perekonomian nasional senantiasa menjadi pertanyaan publik. Terlebih, pemerintah sering menggelontorkan berbagai stimulan fiskal dan nonfiskal agar koperasi dapat menjadi ”Pahlawan Ekonomi” pada masa pandemi ini. Bahkan, dalam omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja, salah satu syarat pendirian koperasi juga dipermudah cukup dengan sembilan orang.

Koperasi memang sedang menghadapi tantangan berat. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan, survei yang dilakukan kementeriannya pada Juli 2020 menunjukkan ada tiga kelompok usaha koperasi paling terdampak pandemi. Yakni, koperasi simpan pinjam (41 persen), koperasi konsumen (40 persen), dan koperasi produsen (10 persen).

Lalu, permasalahan utama yang dihadapi koperasi pada masa pandemi Covid-19 adalah permodalan (47 persen), penjualan menurun (35 persen), dan produksi terhambat (8 persen). Teten menambahkan, pandemi Covid-19 menjadi momentum bagi koperasi untuk bertransformasi ke arah ekonomi digital agar lebih memiliki daya tahan di tengah pandemi.

Banyak ahli menerangkan bahwa koperasi masih terjebak pada permasalahan klasik. Misalnya, terbatasnya akses permodalan, SDM pengurus yang belum mumpuni, likuiditas yang masih rendah, dan manajemen usaha yang masih tradisional. Namun, tampaknya itu adalah bukan permasalahan ”akar”.

Mayoritas koperasi di Indonesia didominasi koperasi simpan pinjam. Bahkan, dalam tataran praktik sering kali diusahakan secara individu, bukan sekelompok orang. Kondisi tersebut tentu berbeda dengan makna dasar koperasi sebagai usaha bersama. Kondisi itu merupakan indikasi telah terjadi pergeseran prinsip koperasi yang lebih mengedepankan keuntungan.

Koperasi Indonesia sering kali lebih berorientasi pada keuntungan atau profit oriented dibandingkan kemanfaatan sosial atau benefit oriented. Koperasi belum menyentuh sektor sosial. Berbeda dengan negara-negara lain, koperasi menjalankan kegiatan usaha di sektor sosial seperti kesehatan, pendidikan, dan layanan sosial lainnya.

Pada masa pandemi, koperasi dapat bertransformasi untuk berperan di bidang kesehatan. Koperasi yang menyediakan layanan kesehatan dari, oleh, dan untuk anggotanya disebut dengan koperasi kesehatan. Beberapa koperasi kesehatan menjalankan kegiatannya dengan menggunakan sistem asuransi kesehatan.

Koperasi kesehatan dijalankan dokter, tenaga kesehatan, dan anggota yang bergabung untuk menerima manfaat. Para anggota membayar iuran koperasi untuk mendapatkan layanan kesehatan. Para dokter menggunakan iuran anggota untuk memberikan layanan kesehatan dan obat yang baik.

Koperasi kesehatan memiliki klinik atau rumah sakit yang dibangun melalui iuran anggota. Hal tersebut adalah perwujudan koperasi sebagai lembaga sosial sekaligus lembaga ekonomi. Koperasi kesehatan menjadi instrumen ekonomi bagi para anggota untuk membangun kehidupan sosial yang sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Koperasi kesehatan merupakan perwujudan usaha bersama yang dapat menjamin keadilan dan terlaksananya tata kelola yang mampu menjaga peningkatan kualitas kesehatan.

Peran koperasi di bidang kesehatan dapat dilihat di beberapa negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Kanada. Bahkan, negara-negara berkembang yang ada di Benua Afrika, seperti Kenya dan Kamerun, turut mengembangkan koperasi kesehatan sebagai solusi atas permasalahan pembiayaan kesehatan yang terlalu membebani anggaran negara.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:



Close Ads