alexametrics

Vaksin Covid-19 sebagai Pelindung Tunggal

Oleh DOMINICUS HUSADA *)
12 April 2022, 19:48:33 WIB

KEPUTUSAN banyak pemerintahan untuk melonggarkan upaya protokol kesehatan di tengah pandemi yang melandai tetap menuai pro dan kontra. Kalangan ahli wabah dan epidemiolog pada umumnya masih mengharapkan pembebasan protokol kesehatan tidak dilakukan secara drastis. Yang terjadi saat ini di berbagai negara di seluruh dunia adalah keputusan yang memperlakukan vaksin Covid-19 sebagai pelindung tunggal.

Upaya jaga jarak sudah tidak santer terdengar. Ventilasi ruangan sudah banyak yang dikembalikan ke kondisi tertutup yang mengandalkan penyejuk udara. Transportasi kendaraan umum tidak lagi membatasi penumpang. Banyak tempat duduk di berbagai kantor yang telah kembali ke kapasitas sebelum pandemi. Kegiatan massal yang mengumpulkan banyak orang sudah diizinkan kembali. Pariwisata dalam dan luar negeri telah dipulihkan.

Cuci tangan masih kerap ditemukan, namun kita pahami bahwa cara pencegahan utama sebenarnya bukan dari tindakan itu. Masker, yang lebih berperan, sudah semakin sering ditinggalkan. Perlindungan kembali kepada pribadi masing-masing dan tidak lagi mengandalkan kesepakatan komunitas.

Kalangan tenaga kesehatan masih sangat patuh dengan masker, terutama jika sedang berada di sarana kerja sektor kesehatan terkait. Namun, kelompok masyarakat lain boleh dibilang sudah lebih banyak yang tidak mematuhi. Di luar negeri sudah banyak perusahaan penerbangan yang menghapus kewajiban menggunakan masker bagi penumpang dan awak pesawat.

Yang saat ini menjadi fokus utama di tanah air adalah status vaksinasi. Ketika pengawasan diperketat, yang diperhatikan juga status vaksinasi tersebut, terutama melalui aplikasi PeduliLindungi. Persyaratan bepergian dan terutama nanti saat mudik Lebaran sangat mengandalkan kondisi ini.

Persyaratan bagi wisatawan asing pun banyak berfokus pada riwayat vaksinasi Covid. Karena sejak awal pandemi banyak keputusan diambil oleh kalangan non kesehatan atau kedokteran, biasanya keputusan demikian relatif sulit diubah. Padahal, semua ahli wabah tahu ada banyak kekhawatiran bahwa kita hanya mengandalkan vaksin sebagai pelindung tunggal.

Yang pertama tentu menyangkut kemampuan vaksin itu sendiri yang sekalipun dianggap sebagai salah satu keajaiban di masa pandemi, relatif lebih inferior jika dibandingkan vaksin lain yang sudah mapan. Memang pembuatan yang bersifat darurat melahirkan banyak keterbatasan sehingga penyempurnaan sangat diperlukan. Praktis, sepanjang sejarah, tidak ada vaksin yang diulang hingga empat kali dalam waktu yang pendek dan tetap tidak mampu mencegah orang sakit.

Kedua, kemampuan vaksin juga beragam sehingga perlindungan pemakai vaksin tertentu mungkin lebih baik. Pedoman untuk tidak memilih-milih vaksin tetap berlaku hingga saat ini, apalagi jika mengingat begitu banyak orang belum mendapat bahkan dosis pertama vaksin Covid-19.

Ketiga, varian masih akan bermunculan. Pusat timbulnya varian adalah mereka yang belum memiliki kekebalan yang memadai. Di dunia saat ini kekhawatiran terbesar ditujukan pada penduduk Benua Afrika. Persebaran varian praktis sangat cepat mengingat transportasi global yang begitu maju.

Kita tidak boleh terkecoh dengan beberapa varian terakhir yang ”relatif tidak ganas”. Sekalipun dominasi dikuasai Omicron, proporsi varian lain senantiasa ada. ICU Covid di beberapa rumah sakit ketika Omicron merebak selalu penuh. Beberapa orang terkenal wafat karena Covid. Kita juga tak pernah tahu setelah ini akan muncul varian apa. Yang sedang naik daun hari ini adalah varian dengan segmen L452R yang berperan meningkatkan penularan dan daya serang.

Editor : Dhimas Ginanjar

Saksikan video menarik berikut ini:


Close Ads