alexametrics

Pandemi, Kolaborasi, dan Filantropi

Oleh RAVANDO LIE*
12 Februari 2021, 15:35:22 WIB

PERAYAAN Imlek tahun ini mirip dengan yang terjadi 102 tahun lalu. Yakni, sama-sama terjadi saat pandemi mewabah. Jika Imlek 1 Februari 1919 terjadi saat flu Spanyol meluas, pada 12 Februari 2021 wabah Covid-19 masih menjangkiti Indonesia dan bahkan seluruh dunia. Selain itu, kesamaan lainnya adalah berbagai macam ingar-bingar atau atraksi pun ditiadakan.

Khusus 1 Februari 1919, catatan lain hilangnya ’’kemeriahan’’ ini disebabkan satu bentuk keputusan dan penghormatan bagi ribuan orang Tionghoa yang menjadi korban ’’Peroesoehan di Koedoes’’, di mana belasan orang Tionghoa terbunuh dan ribuan lainnya terpaksa mengungsi.

Flu Spanyol merupakan pandemi terburuk yang pernah terekam dalam catatan sejarah Indonesia. Pandemi ini diduga membunuh 1,5 juta hingga 4,37 juta penduduk. Tingkat kematian tertinggi terjadi di wilayah Jawa Timur. Pasuruan menjadi kawasan terparah lantaran harus kehilangan 48,5 persen dari total populasi. Dahsyatnya peristiwa itu hanya terjadi di satu periode, yakni Desember 1918.

Persebaran flu Spanyol di Indonesia masa kolonial diprediksi terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama terjadi Juli–September 1918 dengan gejala dan jumlah korban yang masih tergolong minor. Serangan yang jauh lebih masif terjadi selama gelombang kedua yang berlangsung Oktober–Desember 1918. Masifnya korban disebabkan virus yang dengan cepat bermutasi, menjangkiti, dan membunuh jutaan penduduk di berbagai wilayah Indonesia kolonial. Dinas Kesehatan Hindia Belanda (Burgerlijken Geneeskundigen Dienst, BGD) dalam salah satu laporannya bahkan menyebutkan bahwa hampir tidak ada satu pun wilayah di Hindia Belanda yang luput dari serangan virus flu Spanyol tersebut.

Baca juga: Ada Banyak “Emas”, tapi Perlu Kerja Keras

Asal usul virus flu Spanyol tersebut diduga masuk ke Indonesia kolonial melalui kuli-kuli dari Singapura yang rencananya bekerja di perkebunan di Pangkatan, Sumatera Utara. Sementara itu, kawasan Indonesia Timur diduga masih terbebas dari virus tersebut, sekalipun beberapa surat kabar seperti Sin Po dan Tjhoen Tjhioe sudah melaporkan beberapa pasien dengan gejala menyerupai flu Spanyol di Makassar dan sekitarnya.

Nah, selain mutasi virus yang cepat, semakin banyaknya korban di gelombang kedua flu Spanyol terjadi karena buruknya koordinasi antara BGD, pemerintah kolonial, dan pemerintah daerah.

Penyangkalan di awal –sekalipun pemerintah kolonial sudah mendapat warning dari konsulatnya yang ada di Hongkong dan Singapura– membuat para pejabat pemerintahan Hindia Belanda kecolongan dan tidak mampu mencegah persebaran virus yang demikian masif.

Tidak adanya grand design penanganan suatu wabah atau pandemi pun semakin memperburuk situasi di Indonesia kolonial kala itu. Berbagai berita bohong pun menyebar dengan begitu masif, mulai ikan lele yang dipercaya dapat mengobati flu Spanyol sampai isu tentang Nyi Roro Kidul yang dipercaya dapat menangkal bala tersebut.

Belum lagi pihak-pihak yang berupaya mengail di air keruh dengan memanfaatkan kepanikan masyarakat. Mulai dokter-dokter yang menaikkan tarif hingga dua kali lipat sampai para pengusaha peti mati yang menjual produk dengan harga berkali-kali lipat.

Bahkan, menurut catatan koran Sin Po dan Pewarta Soerabaia, tingkat kriminalitas pun meningkat tajam selama gelombang kedua. Belum lagi ancaman bahaya kelaparan yang sudah semakin tampak di depan mata lantaran banyaknya sawah yang tidak tergarap.

Namun, di balik segala kesulitan dan karut-marut tersebut, flu Spanyol ternyata memicu kemunculan filantropi serta kolaborasi antara kaum Tionghoa dan non-Tionghoa. Di Cantian, Surabaya, misalnya, seorang sinse bernama Tjio Io Tja yang merupakan pemilik Apotek Hoo Tik Tong membagikan obat-obatan dan pemeriksaan secara cuma-cuma bagi pasien yang membutuhkan.

Lalu, di Ampenan, Lombok, beberapa tokoh masyarakat lintas etnis memutuskan bekerja sama dengan mendirikan ziekenfonds (dana orang sakit) yang diperuntukkan menolong penduduk yang keluarganya menjadi korban keganasan flu Spanyol. Ziekenfonds ini digerakkan antara lain oleh Remmers (agen dari Nederlandsch Indische Handelsbank Ampenan), Go Sien Tjong (letnan Tionghoa di Ampenan), dan Haji Hoesin (letnan bangsa Banjar di Ampenan).

Di Semarang, sebuah organisasi khusus dibentuk untuk mengurus bahan makanan. Target mereka adalah menolong penduduk yang kekurangan beras untuk makan. Terdapat nama-nama seperti The Tjoen Hway (pimpinan Siang Hwee Semarang), Tan Kim Say (direktur Kian Gwan), Said Moechtar bin Abdullah Alhabsi (kapiten Arab Semarang), Dr de Longh (wali kota Semarang), dan lain-lain. Organisasi serupa juga didirikan di kota-kota besar lainnya seperti Pasuruan, Probolinggo, Solo, Jogjakarta, Lampung, Cianjur, hingga Makassar.

Sejarah flu Spanyol dan pandemi lainnya di Indonesia sejatinya menunjukkan, di tengah karut-marut usaha untuk melandaikan kurva morbiditas dan mortalitas, gerakan akar rumput selalu memegang peran kunci dalam menyelamatkan banyak nyawa. Kolaborasi antarkelompok etnis juga tak kalah penting guna meredam kemungkinan pengambinghitaman suatu suku atau ras tertentu yang kerap mengiringi kemunculan suatu wabah atau pandemi. (*)

*) RAVANDO LIE, Kandidat doktor sejarah University of Melbourne, Australia

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Ilham Safutra




Close Ads