alexametrics

Tarhim

Oleh Fariz Alnizar*
11 Agustus 2019, 16:08:41 WIB

DALAM sebuah kolom bertajuk Islam Kaset dan Kebisingannya di majalah Tempo edisi 20 Februari 1982, Gus Dur menggugat dan mempertanyakan dasar kebijaksanaan bisingnya pelantang suara. Yang bertujuan membangunkan umat Islam di sepertiga malam untuk melakukan serangkaian ibadah.

“Akal sehat cukup sebagai landasan peninjauan kembali ‘kebijaksanaan’ suara lantang di tengah malam -apalagi kalau didahului tarhim dan bacaan AlQuran yang berkepanjangan. Apalagi, kalau teknologi seruan bersuara lantang di alam buta itu hanya menggunakan kaset! Sedang pengurus masjidnya sendiri tenteram tidur di rumah.” Demikian Gus Dur menulis.

Yang bisa didiskusikan lebih lanjut bukan soal Islam kaset, yang pada kenyataannya semakin hari kian menjamur dengan variasi dan model yang luar biasa canggihnya. Justru lema tarhimlah yang memancing perhatian.

Gus Dur sendiri di kolom tersebut memberi tasawuf definitif bahwa tarhim adalah anjuran bangun malam untuk menyongsong salat Subuh. Isinya bisa bermacam-macam: mulai bacaan Alquran sampai salawat yang populer disebut dengan salawat tarhim karya qari internasional Syaikh Mahmud Khalil Al-Hussairy.

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V mengartikan tarhim sebagai seruan untuk memberi tanda bahwa waktu sudah menjelang subuh. Artinya, tarhim adalah ajakan untuk bangun malam.

Tarhim adalah alarm dan pengingat untuk bangun. Mengenai bentuk, isi, dan model yang digunakan dalam rangka membangunkan umat dalam menyongsong waktu salat Subuh itu, KBBI tidak menyinggung sama sekali.

Lalu, dari mana istilah tarhim itu muncul? Belum ada sumber pasti dan valid yang bisa dijadikan rujukan dan referensi dari mana istilah tersebut muncul. Yang jelas, tradisi tarhim sudah ada dan menjadi ritus rutin masyarakat Islam Indonesia, utamanya di Pulau Jawa.

Sebuah sumber mengatakan bahwa tradisi tarhim bermula dari kunjungan Syaikh Mahmud Khalil Al-Hussairy, seorang qari internasional jebolan Al-Azhar, pada 1960. Dalam kunjungannya tersebut ia dibajak dan ditodong untuk merekam lantunan salawat di Studio Lokananta, Solo.

Hasil rekaman suaranya tersebut lalu disiarkan melalui radio Lokananta dan juga radio milik Yasmara (Yayasan Masjid Rahmat), Surabaya. Lambat laun, salawat ini menjadi populer dan dinamakan dengan istilah salawat tarhim.

Apakah ada kelindan yang bersifat pasti antara istilah tarhim dan salawat tarhim? Tampaknya tidak. Tarhim lebih ditekankan pada bentuk, bukan isi. Yakni, tarhim adalah seruan dan penanda menjelang masuk waktu salat.

Isinya bisa berupa apa saja, asal masih memiliki nuansa religiusitas. Bukan berarti isi tarhim bisa berupa apa saja, termasuk musik religi seperti lagunya Sam Bimbo dan Ebiet G. Ade, Nasida Ria, Ungu, atau bahkan Gigi. Bukan. Ada semacam garis demarkasi yang sumir untuk membedakan mana yang religius asketis dan mana yang religius non-asketis (lebih bersifat hiburan).

Di pelosok Jawa Timur bagian utara, variasi tarhim sendiri mengalami banyak modifikasi dan perubahan yang cukup signifikan. Bukan saja soal isi, namun juga ihwal waktu pembacaannya.

Jika pada awal mula kemunculannya tarhim dibaca menjelang waktu subuh, kondisi mutakhir di pesisir Jawa Timur, tarhim juga dibaca sebagai penanda candik ala atau waktu menjelang pergantian hari dan tanda salat Magrib segera menjelang. Realitas dan tradisi ini tampaknya perlu diperhatikan sebagai bagian penting pertimbangan untuk memberikan makna yang valid terhadap lema tarhim dalam kamus.

Sepanggang seperloyangan, lantunan tarhim juga bukan sebatas bacaan Alquran dan salawat benuansa Arab semata. Di banyak pelosok desa-desa di Jawa Timur tarhim diisi dengan syiir tanpa watan karya Kiai Nizam asal Sidoarjo yang lebih populer disebut sebagai syair Gus Dur.

Syair ini didominasi bahasa Jawa, bukan Arab. Saya membayangkan bagaimana terkekeh dan tergelaknya Gus Dur di alam sana ketika mendapati bahwa apa yang dikritiknya dulu sebagai “Islam kaset” yang kebisingannya mengganggu kenyenyakan orang tidur justru sekarang isinya berupa rekaman syair yang labelnya dinisbatkan pada nama Gus Dur. Mungkin jawabannya “begitu saja kok repot”. (*)

*) Pengajar linguistik Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, penulis buku ”Problem Bahasa Kita: Dari Iwak Pitik sampai Arus Balik”

Editor : Ilham Safutra



Close Ads