alexametrics

Spirit Hari Pahlawan, Agama sebagai Elan Vital

Oleh ANWAR SADAD *)
10 November 2020, 19:48:59 WIB

Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.

Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.

Percayalah saudara-saudara.

Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Merdeka!!!

***

Itulah penggalan pidato Bung Tomo yang berkobar-kobar menggetarkan hati rakyat Surabaya. Jika sekarang mendengarkan rekaman pidato itu lagi, kita masih merasakan semangat yang berapi-api, hati yang mendidih, dan air mata yang ingin tumpah. Pidato itu telah mendobrak semangat juang melawan pasukan sekutu pada 10 November 1945 di Surabaya.

Pertempuran memang timpang sebelah. Pasukan sekutu yang dipimpin Inggris datang ke Surabaya sebagai pemenang Perang Dunia II, membawa persenjataan lengkap. Sedangkan rakyat Surabaya hanya memiliki senjata seadanya. Tapi, hal itu tidak membuat semangat mereka kendur. Di tangan mereka memang hanya bambu runcing, tapi di hati mereka ada baja yang bersumber dari pekik takbir dan merdeka Bung Tomo.

Pertempuran 10 November berawal dari keinginan Belanda menjajah Indonesia kembali. Belanda bersama pasukan sekutu kembali mendarat di kota-kota Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya. Mereka beralasan untuk melucuti senjata Jepang yang kalah perang, tetapi sesungguhnya mereka memiliki maksud lain: ingin menggagalkan kemerdekaan Indonesia dan mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia.

Kemerdekaan Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta, tetapi sesungguhnya kemerdekaan itu diuji untuk kali pertama di Surabaya. Rakyat Indonesia yang ada di Surabaya mengobarkan perlawanan, melibatkan semua elemen bangsa: tentara, kiai, santri, pemuda, dan seterusnya.

Pertempuran berlangsung lebih dari tiga minggu, padahal Inggris menjanjikan kepada NICA untuk meluluhlantakkan Surabaya hanya dalam tiga hari. Pertempuran itu merupakan ’’teriakan’’ pada dunia bahwa bangsa Indonesia benar-benar ingin merdeka.

Roh Perjuangan

Pidato Bung Tomo itu kini dengan mudah kita temukan di YouTube. Saya pun menyadari satu hal: agama menjadi elan vital perjuangan. Apalagi ketika kita memotret sejarah di balik peristiwa 10 November, dimulai sejak September 1945.

Dalam buku Resolusi Jihad yang diterbitkan Pustaka Tebuireng, tak lama setelah pasukan sekutu mendarat di Jakarta pada September, Presiden Soekarno mengirim utusan untuk menemui KH Hasyim Asy’ari. Utusan itu membawa pertanyaan penting, ’’Apakah hukumnya membela tanah air, bukan membela Allah, membela Islam, atau membela Alquran. Sekali lagi membela tanah air?’’

Menjawab pertanyaan itu, KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa yang memiliki substansi mengakui kekuasaan Republik Indonesia dan menolak kembalinya penjajah Belanda. Menurut KH Hasyim Asy’ari, membela Indonesa adalah kewajiban agama. Fatwa jihad itu disampaikan pada pertemuan terbatas para ulama di Pesantren Tebuireng.

Kemudian, KH Hasyim Asy’ari berinisiatif mengadakan rapat konsul-konsul NU se-Jawa dan Madura yang bertempat di Bubutan, Surabaya. Rapat yang dilaksanakan pada 21-22 Oktober itu menghasilkan ’’Resolusi Jihad’’ yang berisi kewajiban jihad bagi muslim untuk mempertahankan bangsa dan negara.

Resolusi Jihad memiliki pengaruh yang besar dalam menggerakkan rakyat. Karena itu, Martin van Bruinessen dalam NU: Tradisi, Relasi-Relasi Kuasa, Pencarian Wacana Baru, menulis Resolusi Jihad berdampak besar di Jawa Timur. Pasukan-pasukan nonreguler yang bernama sabilillah rupanya dibentuk sebagai respons langsung atas resolusi ini –namanya langsung merujuk pada perang suci.

Apa yang dilakukan oleh Bung Tomo dan KH Hasyim Asy’ari adalah realitas sejarah yang terus aktual hingga saat ini. Agama bukan musuh tanah air. Tanah air bukanlah musuh agama. Sejarah telah membuktikan bahwa spirit agama menjadi pendorong bagi suatu perang suci (holy war) untuk membela tanah air. Islam anti penjajahan dan kezaliman. Itulah inti tulisan KH Wahid Hasyim dalam sebuah artikelnya, Kedudukan Islam di Indonesia, bahwa Islam anti penjajahan, kekejaman, dan pindasan. Oleh karena itu, umat Islam adalah penentang penjajahan.

Pun, jika kita memahami arti tanah air dengan benar, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak membela tanah air. Tanah air tidak hanya berupa tanah dan batas negara. Tanah air terdiri atas peradaban, perjuangan, masa depan, nyawa, agama, keluarga, harta, dan seterusnya. Tentu, Islam mewajibkan pengikutnya untuk menjaga semua itu.

Kisah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Al Imam Al Bukhari bahwa ketika datang dari perjalanan jauh dan melihat dinding-dinding Kota Madinah, Rasulullah SAW mempercepat jalannya karena kecintaan beliau pada kota ini. Ibn Hajar Al Asqalani berkomentar bahwa cinta pada tanah air itu sesuatu yang diajarkan.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah penggalan puisi yang ditulis oleh penyair D. Zawawi Imron.

Tanah air yang indah

Harus diurus dengan hati yang indah

Hati yang taqarrub kepada Allah

Kalau Indonesia ingin tetap indah

Harus diurus dengan akhlak yang indah

Tanah air adalah ibunda kita

Siapa mencintainya

Harus menanaminya dengan benih-benih kebaikan dan kemajuan

Ya, semangat Resolusi Jihad dan pekikan takbir Bung Tomo tetap kita butuhkan untuk menghiasi hati dan akhlak agar indah. Indonesia akan selalu indah karena kita sebagai rakyat berperilaku indah. Allahu Akbar… Merdeka…! (*)


*) Anwar Sadad, Wakil ketua DPRD Jatim, Plt ketua DPD Partai Gerindra Jawa Timur

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar



Close Ads