alexametrics

Ketika Keteladanan dan Keberanian Absen

Oleh PAUL HERU WIBOWO*
10 Oktober 2019, 15:11:48 WIB

INGATAN terhadap tragedi penembakan masal di bioskop Century 16 Aurora, Colorado, yang terjadi tujuh tahun lalu tiba-tiba kembali menyeruak tatkala film Joker ditayangkan perdana pada 2 Oktober lalu.

Film besutan sutradara Todd Phillips dan penulis naskah Scott Silver itu seolah membenarkan penembakan yang dilakukan James E. Holmes, yang mendaku diri sebagai Joker.

Dalam tragedi 20 Juli 2012 itu, Holmes secara brutal telah menewaskan 12 orang dan melukai 58 orang dengan senjata otomatis yang dimiliki. Ada sejumlah spekulasi yang menyatakan bahwa ingatan tersebut sengaja dimunculkan untuk mendongkrak kesuksesan film yang dibintangi Joaquin Phoenix itu. Namun, tidak sedikit pula pihak yang mengatakan bahwa film Joker tidak hanya mengingatkan tragedi tersebut, tetapi justru sangat berpotensi untuk memicu timbulnya aksi penembakan masal serupa secara lebih massif.

Tak dapat dimungkiri bahwa penayangan film Joker di tanah air pun berada di bawah bayang-bayang kepanikan moral. Ini bukan semata-mata disebabkan ingatan terhadap tragedi penembakan masal di Colorado, melainkan juga oleh ingatan tekstual terhadap Joker sebagai tokoh durjana fiktif yang paling kejam.

Film sebelumnya, Dark Knight (2008), menampilkan Joker yang diperankan Heath Ledger sebagai psikopat yang brutal. Dia mampu menebar teror kepada masyarakat Gotham dan bahkan memperdaya Batman, sang nemesis. Citra Joker sebagai The Clown Prince of Crime, tampaknya, tidak lagi menjadi milik dunia fiktif, tetapi juga telah merembes masuk ke realitas nyata.

Masyarakat yang Depresif

Neal Gabler (2000), kritikus media, pernah menulis bahwa dunia hiburan masa kini bukanlah lagi sebuah tahap yang berjarak dari realitas sehari-hari. Sebaliknya, realitas sehari-hari itu kini telah menjadi sebuah medium, sebuah seni, sebuah film yang dapat dinikmati audiens.

Film Joker, sepertinya, tidak sekadar menunjukkan adanya intertekstualitas antara dongeng (story) dan sejarah (history), tetapi juga menyangatkan adanya kombinasi dan kompilasi di antara keduanya. Sakit mental yang dialami Arthur Fleck, sebelum bertransformasi sebagai Joker, bukanlah sebuah metafora.

Sakit mental seperti delusi, depresi, dan skizofrenia itu dapat dijumpai pada banyak individu. Dalam hal ini, film Joker secara lugas menyatakan bahwa kondisi masyarakat sangat berpotensi untuk mengaktifkan sakit mental pada individu. Kelugasan itu seolah menggarisbawahi sebuah pernyataan dari Kurt Vonnegut Jr., penulis ternama, ”Orang waras di dunia yang gila akan tampak gila.”

Sejak awal, Arthur Fleck digambarkan sebagai penderita sakit mental yang menjadi korban dari kondisi masyarakat Gotham yang sedang bergejolak. Dia dianiaya para remaja. Dia dipecat dari pekerjaan. Dia dianggap aneh dan berbahaya oleh orang sekitar.

Jaminan pengobatannya dihentikan para elite. Dia dilecehkan dan dipermalukan Murray Franklin. Dia tidak diakui sebagai anak oleh Thomas Wayne.

Kehidupan Arthur sungguh berat seperti meniti puluhan anak tangga yang begitu tinggi. Tawanya tidak lagi menandakan kebahagiaan, melainkan kepedihan dan luka. Masyarakat gagal memahami Arthur. Karena itu, mereka kerap menghardiknya, ”What’s so funny?”

Masyarakat Distopia

Di balik beragam kontroversi, film Joker menyisakan renungan mengenai gambaran masyarakat yang haus akan keteladanan dan keberanian. Masyarakat Gotham dilanda depresi masal karena kecewa dengan para elite yang tidak peduli dan bersikap narsistik.

Sayangnya, para elite justru menghibur diri dan mencari keuntungan di tengah kesengsaraan yang dialami masyarakat. Dalam situasi demikian, Joker menjadi oase yang mampu memberikan kesegaran dan kehidupan baru bagi mereka. Joker menjadi representasi dari nilai keteladanan dan keberanian yang mereka nantikan kendati sadisme dan kekacauan sungguh nyata di dalam dirinya. Revolusi pun siap diledakkan.

Kondisi demikian tentu saja menjadi pertanyaan besar di akhir film ini. Apakah mungkin kesegaran dan kehidupan baru yang ingin dinikmati masyarakat berasal dari mata air kekacauan? Apakah mungkin sebuah masyarakat yang sehat dapat dibangun dari sadisme dan kegilaan? Jika mungkin, film Joker hanya menjadi sebuah biografi dari masyarakat distopia, tanpa komedi. Jika saja ada, what’s so funny? (*)

*) Dosen Universitas Pelita Harapan Karawaci; penulis buku ”Masa Depan Kemanusiaan: Superhero dalam Pop Culture”

 

Editor : Ilham Safutra



Close Ads