alexametrics

Berhitung dengan Kemampuan Sendiri

Oleh Totok Amin Soefijanto, Pakar Pendidikan
10 Juli 2019, 15:01:40 WIB

MASUK ke perguruan tinggi ibarat kompetisi sepak bola. Apalagi dengan penerapan sistem ujian tulis berbasis komputer (UTBK) Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019.

Calon mahasiswa harus lebih realistis dan tidak muluk-muluk. Apakah menempatkan diri di “Liga 1 atau Liga 2”.

Penyebabnya, ujian digelar lebih dulu. Pendaftar bisa mengetahui nilai masing-masing. Semua nilai murni. Apa adanya. Tidak ada yang dikatrol. Jika kurang puas, peserta bisa mengikuti tes UTBK kedua. Kalau ada yang kurang puas, peserta memiliki kesempatan untuk memperbaiki.

Setelah itu, peserta pasti akan menghitung sendiri kemampuannya. Mencari tahu standar nilai perguruan tinggi negeri (PTN) idamannya. Jika merasa nilainya pas-pasan atau lebih rendah, pilihannya mencari PTN dengan persaingan nilai yang tidak terlalu tinggi. Untuk menjaga peluang diterima lebih besar. Akibatnya, di kelas ini persaingan menjadi sangat besar.

Sebaliknya, untuk peserta yang memiliki nilai mantap, ya berani saja mendaftar sesuai keinginan. Menuju PTN kelas atas. Praktis, memang hanya peserta dengan nilai tinggi yang bisa masuk PTN favorit tanah air seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada. Tapi, jumlahnya memang tidak banyak.

Memang terlihat seperti ada kasta. Hanya yang pintar, kaya, dan mendapatkan gizi bagus yang bisa menghuni kampus top. Sedangkan yang berasal dari kalangan kurang mampu cukup bersyukur diterima PTN.

Namun, praktiknya, tidak semua demikian. Ada juga anak dari kalangan kurang mampu yang bisa masuk PTN favorit. Kampus mengakomodasi mereka yang kurang mampu, tapi memiliki potensi akademik yang mumpuni. Program bidikmisi salah satunya. Juga program afirmasi pendidikan tinggi untuk anak-anak dari daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).

Dengan begitu, anak-anak tersebut bisa mengangkat derajat keluarganya. Bisa menempuh pendidikan tinggi untuk naik kelas. Untuk mengubah nasib.

Editor : Ilham Safutra

Reporter : (Disarikan dari wawancara Agas Putra Hartanto/c9/fal)



Close Ads